Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi SAW


Perjalanan Isra' Mi'raj Nabi SAW

Perjalanan Isra' Mi'raj Nabi SAW Pada malam kedua puluh tujuh (27) di bulan Rajab itu, dunia sudah sepi, para sahabat yang dapat dihitung dengan jari sudah terlena melepas lelah. Hanya langit yang luas dengan gumpalan awan yang jernih berlomba, berayun di atas lautan pasir disekitar Mekah. Bintang-bintang gemerlapan yang tak terbilang jumlahnya seakan-akan merayu jiwa Nabi yang lesu dan sedang menengadah ke hadapan Illahi Rabbi, ketika itu datanglah Malaikat Jibril didampingi Malaikat Mikail bersama malaikat-malaikat lainnya sebagai utusan pencipta-Nya untuk membelah dadanya. Kemudian segala isi rongga dada Nabi dicuci dengan air zam-zam. Dihilangkan dari dalam dadanya segala was-was diisi penuh dengan iman dan hikmah.

Setelah itu maka Rasulullah SAW merasakan perubahan dalam dirinya. Tidak ada rasa kesal, aman dan tentram berdendang rasa dalam hatinya. Kemudian disediakan baginya kendaraan yang bernama Buraq, kendaraan lebih cepat dari kilat yang kita ketahui sekarang. Nabi dibawa menuju ke Baitul Maqdis. Di sana Nabi SAW masuk ke masjid menunaikan shalat dua rekaat, dan ketika hendak keluar Nabi SAW ditemui oleh Jibril yang membawa dua buah bejana. Sebuah bejana berisi arak dan sebuah lagi berisi susu. Dengan mantap Nabi SAW memilih bejana yang berisi susu.

“Pilihanmu tepat wahai Muhammad, andaikan Tuan memilih bejana yang berisi arak, akan sesatlah umat tuan. Sungguh tuan ditunjukkan kearah fitra,” demikian Jibril berkata kepada Rasulullah SAW. Kemudian dengan kendaraan Buraq tadi Nabi bersama Jibril naik ke langit pertama, di sana Nabi SAW berjumpa dengan Bapak segala manusia, Adam AS. Kepada Jibril Nabi bertanya kenapa Adam AS jika menengok ke kanan tersenyum dan bila menengok ke kiri menangis, berurai airmata? “Ya Muhammad, disanalah ruh-ruh anak keturunan Adam, disebelah kirinya yang digolongkan dan diperuntukkan api neraka, dan yang disebelah kanan ialah para ahli surga,” jawab Jibril.

Perjalanan diteruskan ke langit kedua, di langit kedua Nabi SAW bertemu dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Kedua utusan Allah SWT ini ketika masih bayi sudah bisa bicara. Di langit ketiga Nabi berjumpa dengan Nabi Yusuf AS yang dikaruniai ketampanan paras dan ilmu ketatanegaraan. Di langit keempat beliau bertemu dengan Nabi Idris AS seorangk yang ditempatkan Allah pada kedudukan yang tinggi, ilmu nubuwah kenabiannya ialah ilmu masyarakat (sosiologi).

Di langit yang kelima Nabi SAW berjumpa dengan Nabi Harun AS yang pernah menghadapi Samiri ketika dibuatnya agama yang menyembah sapi dari emas. Pada langit keenam, beliau bertemu dengan Nabi Musa AS. Tatkala Nabi SAW hendak pergi, Nabi Musa AS menangis tersedu-sedu karena mengetahui dimasa kemudian, Muhammad seorang utusan Allah yang umatnya lebih banyak masuk surga, sedangkan umatnya sendiri tergolong orang Yahudi saja karena banyak rewelnya dan yang berman hanya sedikit. Sedangkan umat Muhammad patuh dan taat serta malu pada Allah SWT.

Di langit ketujuh Nabi bertemu dengan Nabi Ibrahim AS. Bapak Dien islam. Beliau sedang menyandarkan punggungnya di dinding rumah segala ada, yaitu Baitul Makmur. Nabi Muhammad SAW paling lama di sini karena bapak dan anak amat serupa paras dan bentuknya. Di Baitul Makmur tiap hari masuk 70 ribu malaikat untuk menunaian shalat, dan tak keluar lagi tak putus-putus demikian setiap harinya sampai ari kiamat.

Kemudian Nabi SAW diperlihatkan Sidratul Muntaha. Luar biasa tanda-tanda atau ayat-ayat yang ditunjkkan Allah SWT kepada utusan-Nya dan sulit untuk digambarkan. Kanyataan akan Kebesaran Kerajaan Illahi dibuktikan malam itu. Tanda keajaiban Kekuasaan Illahi yang dapat menghapuskan jarak jauh dan dekat, di langit dan di bumi, menghapuskan batas waktu lambat atau cepat, dulu dan sekarang serta masa yang akan datang.

Dengan mata kepala sendiri Rasulullah SAW menyasikan kenyataan berita-berita yang telah diwahyukan kepadanya dalam ayat-ayat Al-Quran. Allah SWT memberikan kesempatan kepadanya untuk berjumpa, bertutur kata dengan beberapa Nabi yang telah diutus sebelumnya. Allah SWT memberikan kekuasaan kepadanya untuk menyaksikan kenyataan surga dan neraka serta adzab sesudah mati.

Bukti-bukti yang disaksikan sengan jiwa raganya menambah pengetahuan yang menebalkan keyakinan. Beliau tidak lagi gelisah mendengar bantahan orang, tidak akan menghiraukan lagi orang percaya atau tidak percaya. Untuk masa yang akan datang Rasul yang terakhir bagi umatnya menjadi pelengkap kesempurnaan, karena tidak ada lagi utusan penuntun yang membawa berita petunjuk Illahi.

Di Sidratul Muntaha, Rasul melihat Nur Cemerlang yang tak dapat digambarkan keindahannya. Di sana Nabi menyadari, bahwa beliau telah sampai ke Hadirat Illahi. Beliau segera tunduk dan bersujud dengan tazim, kemudian beliau menerima kewajiban shalat sehari semalam 50 kali untuk umatnya.

Ketika hendak pulang, dalam perjalan di langit keenam Nabi Muhammad SAW kembali bertemu dengan Nabi Musa AS yang menanyakan kepadanya mengenai perjalanannya ke Hadirat Illahi dan perintah-perintah yang diterimanya. “Kewajiban shalat 50 kali sehari semalam,” sabda Rasulllah SAW sebagai jawaban. Kemudian sabda Musa AS; “Kembalilah e Hadirat Allah, mohonlah dikaruniakan keringan karena umatmu tak akan kuat. Telah kucoba Bani Israil, umatku yang keras lagi kuat mereka tak sanggup. Sedangkan umatmu lemah badan dan anggota jasmaninya, serta lemah hatinya.”

Rasulullah kebali ke Hadirat Illahi. Beliau sujud memohon keringan bagi umatnya dan Allah memberi keringan, dikurangkan kewajiban shalat sepuluh kali dalam sehari semalam.

Rasulullah hendak pulang di langit keenam ditanyai lagi oleh Nabi Musa dan disuruh menita keringan lagi ke Hadirat Allah. Demikianlah berulang kali Rasulullah SAW pulang pergi, sampai akhirnya Alah SWT berfirman; “Hai Muhammad, shalat itu lima kali dalam sehari semalam, tiap-tiapnya terhitung sepuluh, maka cukuplah lima puluh shalat.”

Shalat merupakan ajaran utama yang wajib kefardhuannya. Shalat itu sendiri menjadi latihan jasmani yang teratur, menyehatkan tubuh dan meningkatkan mutu masyarakat disamping menunjukkan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa dalam keagungan-Nya.

Berbeda dengan kegiatan-kegiatan lain, shalat yang dilakukan dengan keikhlasan semakin banyak ditunaikan semakin nikmat. Bila untuk setiap perbuatan diperoleh satu ganjaran sesuai dengan pa yang dilakukan, shalat lebih istimewa ganjarannya, yaitu dalam kehidupan di dunia kini dan di ahrat nanti.

Pada dasarnya hendaklah shalat itu dilakukan berjemaah, karena hal itu mendidik manusia untuk tolong-menolong dan memperhatikan masyarakatnya.

Seorang imam yang memimpin shalat tidak boeh memperpanjang shalatnya agar tidak melelahkan. Hendaknya bentuk shalat pada setiap rekaat maupun ujudnya mengikuti praktek yang dicontohkan Rasulullah SAW. Nabi sangat memperhatikan jemaahnya. Beliau memperpendek shalatnya bila terdengar suara bayi menangis, beliau menyadari bahwa ibu sang bayi pasti gelisah mendengat tangis si buyung.

Abu Bakar RA mengulangi takbir Nabi ketika Nabi aga sakit. Para jemaah harus berdiri rapi bejajar mengikuti setiap gerak imam. Di ujung tasyahud akhir hendaknya mengucapkan seperti yang dicontohkan Nabi SAW kepada Abu Bakar; “Oh Allah Maha Pemeliharaku, aku teah menyiksa diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosaku melainkan Engkau, dan aku mohon kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku dan limpahkanlah padaku kasih-Mu, karena Engkaulah Maha Pengampun dan Pengasih.”

(Usaid)

Dipublikasikan oleh: IwLmb, Jumat, 7 Juni 2013 20.18 WIB

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

2 Responses to Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi SAW

  1. arip says:

    Padahal udah dikasih paling ringan 5 kali sehari, tapi ttp aja sebagai manusia suka melalaikan.

  2. tul banget, Mas.. trmasuk ane juga kadang gitu… hehehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: