Ditusuk, Hati Korban Dimakan


Ditusuk, Hati Korban DimakanKALIDONI – Setelah selesai kasus Jurit dan Ibrahim, kini warga Sumsel, khususnya Kota Palembang, kembali dihebohkan dengan kasus baru. Dimana, seorang pelaku diduga mencoba memutilasi korbannya yang masih anak-anak Muhammad Muslim bin Mulyadi (7), warga Jalan Mayzen, Lorong Pertama, Kelurahan Sei Selayur, Kalidoni. Muslim menghembuskan nafas terakhirnya, Rabu (29/05), pukul 01.00 WIB, setelah sempat mendapat perawatan medis selama 5 hari. Ia tewas mengenaskan, dengan kondisi mengalami 9 liang luka tusuk dan luka sayatan di sekujur tubuhnya. Bahkan, perutnya dirobek pelaku dengan posisi seperti huruf T terbalik. Mirisnya lagi, hati korban tinggal sebagian, karena sebagian lagi diduga dimakan pelaku.

Adapun luka yang dialami korban itu mendapat sekitar 230 jahitan. Berdasarkan hasil visum RSMH Palembang, korban mengalami luka tusuk dan luka robek sepanjang 19 centimeter di perutnya dari kiri ke kanan; kemudian luka sepanjang 7 centimeter dari dada ke perut bagian bawahnya. Selain itu, korban juga mengalami luka sayatan di kedua pergelangan tangan dan kakinya.

Disisi lain, informasi terakhir, pelaku penusukan bernama Fredi (38), yang masih tetangga korban sendiri. Konon kabarnya, Fredi melakukan semua itu, karena diduga menganut ilmu hitam. Fredi sendiri sudah diamankan Unit Reskrim Polsekta Kalidoni, dikawasan Tangerang, Banten. Bahkan, siang kemarin, tersangka sudah dalam perjalanan menuju Palembang.

Informasinya yang dihimpun, sebelumnya antara korban dan tersangka terlihat akrab, karena tersangka terbilang pria yang senang mengasuh anak kecil. Bahkan sebelum kejadian itu, korban sempat cerita kepada ibunya, kalau dirinya hendak dianiaya tersangka Fredy. Demikian dikatakan Heny (32), ibu kandung korban, ketika ditemui wartawan di kediamannya, Rabu (29/05).

Menurut Heny, pada Jum’at (24/05), korban bermain di sekitar rumahnya, hingga bertemu pelaku yang masih tetangganya. Pelaku membujuk korban untuk ikut ke rumahnya, dengan iming-iming akan diajak main game playstation (PS) gratis; bahkan akan diberi uang jajan Rp 5.000. Korban yang polos ini tergoda, dan mau menuruti pelaku.

Nahasnya, diduga sampai di rumahnya, pelaku bukannya mengajak main PS, malah langsung menusuk dan menyayat tubuh korban berulang-ulang. Korban terkapar bersimbah darah dengan usus terburai di lantai rumah pelaku. Bahkan, dugaannya, perut korban dirobek, sebelum pelaku mengambil dan memakan sebagian hati korban.

Aksi pelaku diketahui, setelah salah seorang kerabat korban melapor kepada Heny, jika korban diajak pelaku ke rumahnya. Cemas, Heny langsung mendatangi kediaman pelaku, untuk menanyakan keberadaan anaknya. Bukannya bertemu pelaku, malah Heny bertemu Ayoh, ibu kandung pelaku. ‘’Kau nyari anak kau yo dek, anak kau ado, sudah dibunuh anak aku,” ungkap Heny menirukan perkataan Ayoh, kemarin.

Heny terkejut dan meminta bantuan warga, untuk mendobrak rumah pelaku, yang saat itu terkunci rapat. Benar saja, ketika rumah didobrak, didapati korban bersimbah darah, namun masih bernyawa. Korban yang sekarat dengan sisa hati yang ada, dilarikan ke RS PT Pusri. Setelah dua hari dirawat disana, korban dirujuk ke RSMH Palembang, tepatnya Minggu (26/05).

Namun sayang, ajal berkata lain, korban yang sempat dirawat intensif, malah menghembuskan nafas terakhirnya. ‘’Aku syok nian Pak, saat tau anak aku dibelah-belah cak itu. Alangke teganyo pelaku nak ngehabisi anak aku dengan caro seperti itu, alangke sadis caro dio. Dio (pelaku,red) itu binatang, gak punyo hati, masak anak sekecil ini dianiaya hingga tewas,” ucap Heny, sembari menitikkan air mata, melihat jenazah anaknya dimandikan untuk disalatkan dan dikebumikan di TPU Sei Selayur ini.

Selain Heny, di rumah itu juga ada Mulyadi, suaminya, yang juga terlihat masih berduka atas kepergian putra bungsu dari dua bersaudaranya itu. Menurut Heny dan Mulyadi, sebelum meninggal, anaknya tak menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Bocah kelas I SD ini berprilaku sewajarnya saja layaknya anak kecil biasa yang selalu ingin dimanja dan disayang kedua orang tuanya.

“Seminggu sebelum kejadian, si adek (korban, red) ini sempat nak muter lagu ‘Kasih Ibu’ terus-menerus tiap hari, dak boleh digenti lagu lain. Lagu itu aku raso salah satu pertando dio anak pergi. Bahkan sempat dua hari sebelum kejadian, korban ngatoke kalo dirinyo dipanggil oleh suaro dari luar rumah, yang tak diketahui bersumber darimano,” ungkap Mulyadi sedih.

Ditambahkan Mulyadi, dirinya meminta pelaku dihukum seberat-beratnya. “Yang jelas penegak hukum haru jeli dalam menangani kasus ini. Pelaku itu orang berduit, bisa saja dia nyogok sana-sini. Dia harus dihukum seberat-beratnya, sesuai dengan perbuatannya yang tak berprikemanusiaan itu,” terangnya.

Disinggung mengenai pelaku, Mulyadi mengaku kalau setahu mereka Fredi itu orang alim. “Kalo yasinan duluan sekali, mimpin doa. Dia itu lulusan Sarjana Komputer, dan terlihat baik. Jadi kami dak nyangko dio bisa berbuat sekeji itu kepada anak kami. bahkan beberapa waktu lalu, Fredi sempat bertandang 3 hari berturut-turut ke rumah kami, untuk mengobrol dengan saya,” tambah Mulyadi. (vot)

Palembang Post, Rabu, 29 Mei 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: