Menyambut Rencana Proyek Monorel Palembang


Kendala, Masyarakat Senang Motor

Realisasi transportasi msssal berupa monorel di Palembang semakin di depan mata. Pemprov Sumsel akan menawarkan proyek senilai Rp 5 triliun itu kepada calon investor yang berminat, salah satunya ke Jepang. Jika lancer, pembangunan fisik (kontrksi) dimulai awal 2014.

========================

Staf ahli Gubernur Bidang Pembangunan, Fazadi Aldanie, mengatakan, perlu ketelitian yang ttingi dan perhitungan yang pas sebelum memulai pembangunan monorel Palembang . Dan itu telah dilakukan Pemprov Sumsel. Salah satunya didapatkan hasil kajian pentingnya jumlah 90 ribu penumpang per hari agar pemerintah tidak menutupi kerugian dari tidak sebandingnya biaya operasinoal dengan pendapatan.

Kajian penumpang itu tentu saja melibatkan moda trasportasi yang lain. Angka 90 ribu penumpang bukan jumlah yang sedikit. Pastilah penumpang dari berbagai moda transportasi lain di Metropolis pindah haluan mengunakan kereta monorel. “Perlu dilihat perilaku masyarakat yang menjadi target pengguna monorel,” ucapnya.

Survei pergerakan penumpang juga harus dilakukan karena itu cukup berpengaruh untuk keberhasilan investasi. “Contohnya, kapan jam-jam sibuk masyarakat,” cetusnya. Semua itu telah dikaji Pemprov Sumsel yang serius ingin mewujudkan pembangunan monorel Palembang ini.

Panjang yang dibangun dari Bandara SMB II ke Jakabaring Sport City (JSC) sekitar 25 km. “Tahun lalu (2012), sudah selesai dibuatkan feasibility study (FS)-nya ,” kata Sekretaris Dishubkominfo Sumsel, Drs Uzirman Irwandi, belum lama ini. Tahun ini, akan dibuat dan diselesaikan detail engineering desaign (DED) serta studi analisa mengenai dampak lingkungan (amdal) monorel.

Meski terkendala minimnya peserta tender, tapi ia optimis DED monorel dapat segera diselesaikan. Proyek monorel yang dibuat double track ini memang akan ditawarkan kepihak swasta (investor) melalui sistem public private partnership (P3), tidak menggunakan APBN atau APBD.

Proyek monorel Palembang ini bahkan sudah masuk dalam P3 book Bapepenas RI. “Yang sudah sangat berminat terhadap proyek ini (calon investor) dari Korea,” cetusnya. Namun ada yang perlu dikhawatirkan dari pembangunan monorel ini. “Kendala berdasarkan kesimpulan FS yang telah disusun, masyarakat Sumsel paling senang naik motor. Nah, inilah yang perlu dicarikan jalan keluarnya,” katanya.

Seperti apa potensi penumpang di Metropolis? Direktur Operasional PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) Ir Yusransyah Ishak, ada 120 unit Transmusi, 80 ukuran kecil dan 40 besar yang beroperasi tiap harinya. “Per hari, jumlah penumpang yang menggunakan jasa Transmusi 19-20 ribu orang,” ucapnya.

Angka itu belum termasuk penumpang angkutan kota (angkot) dan bus kota yang masih aka nada hingga berapa tahun ke depan. Anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) itu mengakui, minat masyarakat menggunakan angkutan umum, khususnya Transmusi terus meningkat.

Untuk itu, PT SP2J akan menambah 30 armada lagi, 20 bus kecil dan 10 yang besar. Mendorong peralihan ke Transmusi, Pemkot tidak lagi menerbitkan izin trayek untuk bus kota yang telah habis masa berlakunya.

Kabid Transportasi, Jalan dan Rel Kereta Api Dishub Palembang, Agus Supriyanto, mengatakan, saat ini jumlah bus kota masih beroperasional ada 200 unit dan angkot sekitar 1.600-an unit. Namun, jumlahnya di lapangan mungkin lebih dari itu.

Karena itulah, pihaknya tidak lagi menerbitkan izin trayek. Menurut hitungan, pada 2017, seluruh izin trayek bus kota akan habis. Selain Trasmusi, mungkin saat itulah monorel untuk menjelma menjadi angkutan massal menggantikan angkot dan bus kota tersebut. (rip/yun/ce1)

===================================================

Relevan 10 Tahun Lagi

Yan Sulistyo, salah seorang pengamat ekonomi Metropolis menilai, secara ekonomi proyek monorel yang bakal dibangun di Palembang belum terlalu mendesak. Proyek itu dipastikan membutuhkan investasi cukup besar. Artinya, jika menggunakan APBD, maka beberapa tahun anggaran akan tersedot untuk pembangunan monorel tersebut. “Monorel itu baru relevan dibangun 10 tahun mendatang. Masih banyak jalan dan jembatan di Sumsel yang rusak dan belum beres pengerjaannya, meskinya itu dulu fokus pemerintah. Monorel itu belum menjadi kebutuhan untuk sekarang,” katanya.

Menurutnya, sebuah kota dikatakan relevan membangun sistem transportasi monorel apabila sudah memenuhi indikator. Di antara indikator itu, ucap Yan, masing-masing menjaring transportasi kabupaten/kota sudah terintegrasi. Jumlah penduduk di atas lima juta jiwa.

Lalu, jumlah usaha skala besar kabupaten/kota sudah banyak. “Kalau beberapa indikator itu sudah tercapai, baru dikatakan relevan untuk membangun monorel,” ungkap Yan. Dari segi jumlah penduduk, Palembang baru 1,5 juta jiwa. Jika harga tiket/tarif monorel itu nanti mahal, masyarakat juga akan berpikir dua kali untuk menggunakan transportasi massal itu.

“Itu sama saja memberatkan masyarakat,” ungkapnya. Kalau penggunanya sedikit, operasional monorel berarti tidak menguntungkan secara ekonomi. “Daripada dananya mubazir, lebih baik pemerintah daerah mengutamakan pembangunan infrastruktur yang mendasar seperti jalan, flyover, underpass, dan jembatan. Itulah yang dibutuhkan secara mendesak sekarang,” tukas Yan. (cin/ce1)

===================================================

Semua Aspek Harus Siap Dahulu

Pengamat transportasi dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr Joni Arliansyah, menuturkan, pembangunan monorel dapat dilakukan sepanjang semua aspek telah siap. Termasuk berbagai kajian mulai dari perhitungan kontruksi, operasional (teknologi, red) listrik dan biaya.

Tiga hal tersebut, ucapnya, menjadi hal dasar sebelum membangun monorel mengingat ada banyak pilihan angkutan massal. Tak mesti membangun monorel untuk mengatasi kemacetan mengingat kebutuhan tersebut tidak terlalu mendesak. Pertanyaannya, transportasi jenis apa yang cocok untuk kebutuhan Palembang sebagai Ibu Kota Provinsi Sumsel?

“Ada banyak pilihan angkutan massal seperti Bus Rapid Transit (BRT) Transmusi, LRT termasuk monorel, bus way dan kereta bawah tanah. Dari semua itu, mana yang paling mendesak,” ungkapnya.

Dari segi kontruksi, harus sudah diperhitungkan pula seberapa besar kesanggupan dalam pembangunan tersebut seperti pembangunan stasiun-stasiunnya. Kemudian kajian dari segi operasional menyangkut teknologi listrik, apakah benar-benar sudah siap dan sanggup untuk menunjang monorel.

“Khusus biaya operasional, apakah benar-benar sudah sanggup, baik pemerintah ataupun swasta, mengingat dalam pembangunan monorel ini tidak sedikit biaya yang akan dikeluarkan,” beber Joni.

Selain faktor kesanggupan dan kesiapan, penumpang juga harus di kaji agar investasi mahal dalam pembangunan monorel ini dapat dapat kembali. “Investor tidak akan mau melakukan investasi kalau semuanya belum sesuai dengan ketentuan mengingat biaya yang akan dikeluarkan besar sekali,” tandasnya. (nni/ce1)

Sumatera Ekspres, Senin 20 Mei 2013

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

One Response to Menyambut Rencana Proyek Monorel Palembang

  1. aspal28 says:

    Informasi berguna. Salam sukses Pak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: