Sembahyang hingga Jamuan Makan


Sembahyang hingga Jamuan Makan
Sembahyang: Salah seorang umat Tao sembahyang kepada dewa utama, yakni Thay Sang Law Chien di wihara Sinar Agung Tao Palembang

Perayaan Hari Kebesaran Dua Dewi

PALEMBANG — Wihara Sinar Agung Tao Bakal menggelar peringatan hari kebesaran dua dewi kepercayaan umat Tridharma Taoisme di Palembang . Yakni peringatan hari kebesaran Dewi Chu Sheng Niang Niang dan Dewi Thian Sang Shen Mu. Peringatan itu digelar dengan berbagai aktivitas seperti sembahyang, berdoa, berkumpul dan jamuan makan.

“Peringatan hari kebesaran itu bukan hanya sekedar ibadah dan berdoa kepada Thien dan para dewa. Tapi, juga untuk mempererat tli persaudaraan sesama umat Tao,” kata penjaga Wihara Sinar Agung Tao, Susanto. Pelaksanaannya, 29 April mendatang, perayaan hari kebesaran Dewi Chu Sheng Niang Niang (Dewi Penyayang Anak-anak) dan 2 Mei perayaan Dewi Thian Sang Shen Mu (Ratu Perang).

Susanto menyebutkan, rangkaian perayaan hari kebesaran itu biasanya didahului sembahyang kepada Thien dewa utama yakni Thay Sang Law Chien. Setelah itu menyanyikan lagu-lagu Tao dan menggelar latihan Lien Kung hingga berkumpul dan makan bersama dengan keluarga dan sesama umat di wihara. “Biasanya sekitar 150 umat yang dating merayakan hari kebesaran kedua dewi tersebut,” tandas Susanto. (wia/ce3)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 29 April 2013

Yakini Tradisi, Datangkan Keberuntungan

Yakini Tradisi, Datangkan KeberuntunganPALEMBANG — Pindah rumah bagi masyarakat Tionghoa tak boleh dilakukan dengan asal-asalan. Dalam tradisi, pindah rumah memiliki sejumlah syarat dan ketentuan sehingga tak boleh sembarangan. Karena mereka percaya dengan pindah rumah merupakan awal dari peruntungan baru.

Wakil Ketua Majelis Rohaniawan Tridharma Seluruh Indonesia (Matrisia) Komda Sumatera Selatan Tjik Harun mengatakan, masyarakat Tionghoa yang mempercayai adanya ketentuan dan syarat pindah rumah akan mematuhinya sebagai sebuah tradisi. “Tujuannya agar membawa keberuntungan dan hawa baik di rumah baru,” katanya.

Tjik Harun mencontohkan, salah satu pantangan dalam pindah rumah adalah jangan dilakukan saat istri sedang hamil, memilih hari baik dan waktu yang tepat. Bahkan dalam menata rumah juga ada pantangan. Seperti tidak memaku apapun di rumah yang baru ditempati apabila istri sedang hamil, penempatan ranjang pada kamar tidur dan sebagainya. “Karena sudah lazim, maka hsal itu sudah jadi kebiasaan dan kepercayaan sejak turun temurun,” ujarnya.

Selain pantangan, setelah pindah ke rumah yang baru harus ada hal-hal yang yang diperhatikan dan dijalani. Seperti menaburkan sedikit garam dan beras di rumah yang baru ditempati. Itu dilakukan selama tiga hari sejak menempati rumah baru. Bahkan dianjurkan juga menyalakan lampu selama 72 jam dan dibarengi dengan membuka jendela.

“Itu semua untuk mengusir hawa buruk yang ada di dalam rumah. Untuk menjaga keharmonisan, dianjurkan memasak menu pertama sup manis seperti wedang onde-onde,” jelasnya.

Sebenarnya masih banyak syarat dan ketentuan yang diyakini masyarakata Tionghoa menjadi tradisi dalam pindah rumah. “Rangkaian tradisi itu sebagai sebagai baru untuk memulai hidup di tempat yang baru. Sehingga membawa kebaikan bagi penghuninya,” pungkasnya. (wia/ce3)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 29 April 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: