Ujian Netralitas KPU


Ujian Netralitas KPU– Versi PPK, Sarimuda Nelly Unggul 8 suara

– Romi-harno Klaim Menang

PALEMBANG — Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di 16 Kecmatan, merampungkan pleno rekapitulasi, kemarin (10/4). Meski menuai protes dan saksi tak membubuhkan tanda tangan, namun total raihan suara sementara pasangan yang bersaing ketat, nomor urut 2 Romi Herton-Harnojoyo dan nomor urut 3 Sarimuda-Nelly Rasdiana mulai terlihat.

Rekapitulasi suara tingkat PPK pada 16 kecamatan menunjukkan, Sarimuda-Nelly yang diusung Partai Golkar, Hanura, PKB, dan partai kecil lainnya, meraih dukungan 316.923 suara.

Unggul sementara, hanya 8 suara dari pasangan Romi Herton – Harnojoyo (PDI Perjuangan, Demokrat, PAN, PKS, dan parti koalisi lainnya) yang memperoleh 316.915 suara. Sedangkam Mularis-Husni yang diusung 14 parpol koalisi, salah satunya Gerindra meraih 97.811 suara. Total suara sah 731.461, tidak sah 26.060 dan total suara (sah dan tidak sah) 757.521.

Mengacu rekapitulasi yang berlangsung dalam pengawasan ketat kepolisian, TNI, Pol PP tersebut, pasangan Sarimuda-Nelly menang di 7 kecamatan. Yakni Ilir Timur (IT) II, Ilir Barat (IB) II, Seberang Ulu (SU) II, Sematang Borang, Alang-Alang Lebar, Bukit Kecil, Kertapati, Kalidoni dan Gandus.

Menjadi catatan, keunggulan tersebut belum bersifat final. Lantaran, keputusan siapa yang akan memimpin Palembang lima tahun ke depan, 2013-2018, berada di tangan KPU Kota Palembang. Nah, rekapitulasi tingkat KPU sendiri baru akan berlangsung 12 April. Sedangkan pleno penetapan pemenang 14 Aril.

Sebetulnya, bagaimana gambaran rekapitulasi tingkat PPK sendiri? Pantauan koran ini di lapangan, ada tiga kecamatan yang menuai protes dari saksi tiga pasangan calon. Yakni Kecamatan Gandus, Kemuning, dan Sukarami.

Persoalan di Gandus dan Kemuning berkutat seputar protes ketidaksesuaian rekapitulasi yang dimiliki saksi tiga pasangan calon dengan PPK. Di Kemuning misalnya, saksi Romi-Harno ngotot minta tambah 10 suara karena mengacu pada hasil rekap C1 mereka. Sedangkan di Gandus, tim Romi-Harno mau pun Sarimuda-Nelly tidak mengakui selisih suara yang mereka raih. Nah, keberatan para saksi itu, dituangkan dalam berita acara.

Menariknya, saksi dari pasangan nomor urut 1, Mularis-Husni Thamrin malah tidak menandatangani hasil rekap di 16 kecamatan. Mereka menuntut penghitungan ulang mulai tingkat TPS.

Paling parah di Kecamatan Sukarami yang menjadi basis Sarimuda-Nelly. Di sana, penghitungan suara yang dimulai pukul 09.00 WIB baru kelar pukul 16.00 WIB dan diwarnai sedikit keributan. Pemicunya, ada selisi data, antara hasill di kelurahan dengan penghitungan tingkat kecamatan.

Bermula pukul 11.40 WIB, Ketua PPK Sukarami Drs Amron Basri dan rekan-rekannya Daryono Spd MSi, Ratna Eka Sari, dan Mildalia Efrianti mengumumkan hasil rekapitulasi. Ketika itu hadir saksi tiga pasangan calon wako dan wawako.

Berdasarkan data PPK, pasangan H Mularis Djahri – Drs Husni Thamrin MM (Murni) meraih 6.106 suara, H Romi Herton SH MH – Harnojoyo SSos (RH) 24.747 suara, dan Ir H Sarimuda MT – Nelly Rasdiana (SN) 34.219 suara. Versi tim Sarimuda-Nelly, data tingkat kelurahan, Murni 6.109 suara, RH 23.467 suara, dan SN 34.285 suara. “Dari mana datangnya suara tersebut, kok malah bertambah 1.280 suara,” ujar Ayu, tim sukses pasangan SN. “Ngapo pacak betelok jadi beranak, becucung la becicit pulok data,” timpal tim advokasi SN< Husril Pansyah dan Andri Fadly, geram.

Saksi SN di tingkat kecamatan Zakaria bersama timnya tidak mau tanda tangan hasil rekapitulasi sertifikat penghitungan suara untuk pasangan calon wako dan wawako Palembang di TPS dalam wilayah kecamatan (Lampiran Model DA1-KWK KPU). “Pokoknya kami tidak mau tanda tangan. Ada selisih penambahan 1.280 suara RH. Sedangkan kita (SN red) berkurang 66 suara dan Murni juga berkurang tiga suara,”terangnya.

Karena tidak ada kesepakatan, sekitar pukul 13.00 WIB penghitungan dihentikan. Saat istirahat itulah, kondisi kian panas. Tim pemenangan SN mulai berdatangan dan makin memadati halaman kantor camat Sukarami. Personel pengamanan pun ditambah. “Sejak pagi ada sekitar 60 personel berjaga, terdiri dari Polsek Sukarami, Polresta, Brimob, dan Koramil,” jelas Wakapolsek Sukarami Iptu Hendry di sela-sela penghitungan.

Sekitar pukul 13.30 WIB, penghitungan dilanjutkan. Setelah dipelajari terdapat kekeliruan yang terjadi di Kelurahan Kebun Bunga dan Sukajaya. “Setelah dicek ulang ternyata ada pencatatan dobel di TPS 16. Data awal pasangan nomor urut satu, ada 3 suara, pasangan nomor urut dua 83 suara, dan pasangan nomor urut tiga 66 suara. Sedangkan di data kedua, pasangan nomor urut satu (3), pasangan nomor urut dua (43), dan pasangan nomor urut tiga (68),” ungkap anggota PPK melalui pengeras suara.

Tak hanya itu. Informasi saksi dari salah satu timses pasangan calon, ada dua kotak suara yang jebol di Kelurahan Kebun Bunga. “Dua kotak suara Kebun Bunga sudah jebol.”

Ketua Panwaslu Kota Palembang Amrullah SSTP MSi angkat bicara. “Sebagai catatan, kejujuran harus ditegakkan. Saat penghitungan PPS Kebun Bunga tidak hanya dihadiri oleh saksi KPU Kota Palembang. Semua saksi, pihak keamanan juga hadir. Kalau memang tidak sepakat bisa hitung ulang berdasarkan kesepakatan tiap-tiap TPS,” ungkap Amrullah.

Tatkala suasana kian panas, pukul 15.45 WIB, Ketua KPU Eftiyani hadir. Keputusan diambil masih sama dengan data awal yang ditetapkan PPK.

Ketua PPK Kecamtan Kecamatan Alang-Alang Lebar (AAL) H Fauzan Indra SH mengatakan, perolehan suara Murni 4.763 suara, RH 17.144 suara, dan SN 16.639 suara. “Total ada 38.546 suara, sedangkan suara tidak sah 1.351. Suara sah dan tidak sah 39.897 suara,” terangnya.

Saksi pasangan nomor urut satu dan pasangan nomor urut dua tidak mau tanda tangan. “Saksi nomor urut satu, karena tidak hadir di tiap-tiap TPS. Sedangkan nomor urut dua, data di Kelurahan Talang Kelapa tidak sama, ada selisih 20 suara. Bagi yang keberatan silakan saja, asal mengisi berita acara, apa pun hasilnya kita akan segera laporkan ke KPU kota,” tukasnya.

Di bagian lain, semua saksi pasangan nomor urut 1 dan hampir semua saksi nomor urut 2, menolak menandatangan hasil rekapitulasi. Mereka memilih untuk membuat berita acara keberatan kepada KPU Kota Palembang. Pendek kata, siapa pemenangnya tetap berada pada pleno KPU, 12 April nanti.

Bisa Rekap Ulang
Terpisah, Divisi Teknis, Humas dan Data Informasi KPU Kota Palembang, Abdul Karim MHum mengatakan, saksi memiliki hak untuk menolak rekapitulasi tapi harus menandatangani berita acara keberatan ke KPU Palembang. “Keberatan saksi tidak boleh menghalangi rekapitulasi di PPK.

Menurut Karim, keberatan saksi yang diajukan ke KPU akan dipelajari kasus per kasus. “Jika tanpa alasan jelas maka akan kita tolak, tapi jika alasannya setelah dipelajari bisa diakomodir maka akan ditiindaklanjuti. Yang jelas, kalau nanti keberatannya banyak, kita pelajari per kasus. Konsekuensinya bisa berpengaruh pada waktu jika kasusnya banyak yang harus kita pelajari. Jika awlanya kita menetapkan pleno tanggal 12, bisa jadi akan diundurkan menjadi tanggal 14,” beber Karim lagi.

Dia membantah isu yang beredar di Kecamatan Sukarami terjadi penggelembungan suara terutama di Kelurahan Kebun Bunga. “Bukan penggelembungan suara tapi kekeliruan menulis jumlah suara. Jadi saksi pasangan nomor urut 3 menolak dan kita hormati.”

Dijelaskan, pada rekapitulasi suara tingkat KPU nanti, bisa jadi akan diadakan rekap ulang untuk tingkat PPS dan PPK. Itu jika saksi menunjukkan bukti yang kuat dan bisa dipertahankan. “Bisa terjadi memperbaiki hasil rekap jika ada yang salah dan memiliki bukti kuat,” katanya.

Mengenai perbedaan klaim kandidat berdasarkan formulir C1 KWK, kata Karim, bisa saja terjadi. Jika yang menulis formulir tersebut bukan petugas KPPS, melainkan masing-masing saksi. “Jadi kemungkinan berbeda itu ada. Bisa juga berbeda karena setelah ditandatangani ternyata ada kekeliruan, sementara saksi sudah pulang,” tukasnya.

Romi-Harno Klaim menang
Pasangan Romi Herton – Harnojoyo (RH) melalui tim pemenangan Darmadi menegaskan, pihaknya tetap yakin dan berkesimpulan pasangan RH memenangkan Pemilukada Palembang 2013-2018. “Sesuai dengan C1 KWK saksi, pasangan RH unggul 468 suara dari pasangan nomor urut 3, Sarimuda-Nelly,” kata Darmadi saat jumpa pers di kediaman Romi Herton, kemarin.

Tim investigasi pasangan RH, tambah dia, menemukan adannya indikasi upaya penggelembungan suara di tingkat PPS dan PPK yang dilakukan secara sistematik untuk menggagalkan pasangan RH. “Kami tidak akan terprovokasi dan menjadi bahan untuk melakukan tindakan hukum termasuk adanya keberatan saksi-saksi pada rapat pleno PPS dan PPK yang akan kita tindak lanjuti pada rapat rekapitulasi dan ketetapan KPU 12 April nanti,” ujarnya.

Menurut Darmadi, penelitian C1 KWK 100 persen yang dimiliki, RH memperoleh suara 317.475, Sarimuda-Nelly 317.007, dan Mularis-Husni 98.075 suara. “Sekarang kami sedang lakukan varifikasi, untuk validitas sesuai hasil pleno yang kami dapatkan. Insya Allah kami menang.”

Sementara itu, Ketua Tim Advokasi Romi-Harno, Ghandi Arius SH M Hum menegaskan, ada indikasi penggelembungan suara yang dilakukan oleh kandidat lain secara sistematis dan masiv. “Caranya adalah dengan menambah hasil penghitungan di TPS pada saat rekapitulasi di PPS atau tidak sesuai dengan formulir C1 KWK.”

Dijelaskan, fakta dan bukti-bukti terhadap penggelembungan suara tersebut telah diinventarisasi dan akan dibuka pada rapat pleno KPU Kota Palembang pada 12 April 2013. “Kami telah menemukan fakta-fakta hukum tentang pelanggaran etik dan struktural lembaga Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dari tingkat kota hingga tingkat kelurahan. Mereka telah menciderai independensi institusi sebagai pengawal dan penjaga demokrasi yang jurdil, untuk itu kami akan melakukan tindakan hukum ke institusi yang berwenang dalam hal ini DKPP,” tukasnya.

Terpisah, calon wali kota Sarimuda mengaku berdasarkan formulir C1 KWK dan D1 KWK yang telah direkap PPS dan PPK, dia unggul tipis dari pasangan nomor urut 2. “Alhamdulillah, dari mulai penghitungan di PPS dan PPK, unggul tipis, tapi tidak bisa menyebutkan angka karena kewenangan KPU,” kata Sarimuda.

Menurutnya, KPU sebenarnya sudah tahu berdasarkan rekap PPS dan PPK. Hanya saja, menunggu rekapitulasi pada pleno KPU 12 April nanti dan di situlah pembuktiannya. “Mengenai gugatan nanti, silakan dan hak masing-masing kandidat. Yang jelas kita sudah siapkan tim advokasi sampai pusat.”

Sebelumnya, Sarimuda mengungkapkan, berdasarkan hasil real count internal mereka, pasangan Sarimuda-Nelly unggul 43,40 persen atau memperoleh suara 313.371. Lalu Romi-Harno (RH) 43,12 persen atau 311.323. Sedangkan Mularis-Husni (Murni) 13,48 persen atau 37.345 suara sah.

Desak KPU Netral
Di bagian lain, saat setiap kecamatan melakukan rekapitulasi suara, ratusan orang tergabung dalam Gerakan Rakyat Peduli Pemilukada (GRPP) Kota Palembang, berunjuk rasa ke kantor KPU Kota Palembang. “Aksi ini adalah aksi damai, kami hanya meminta KPU Palembang untuk berlaku netral dan memproses dugaan-dugaan kecurangan yang berkembang saat ini,” kata Akbar, koordinasi aksi saat berusaha memasuki wilayah KPU Palembang kemarin. (tim/ce2)

Sumatera Ekspres, Kamis, 11 April 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: