Edy Maryono, Korban Meninggal Dunia Pembakaran Mapolres OKU


Takut Keluar, Masuk Kamar Mandi, Merayap di Jendela

Edy Maryono, Korban Meninggal Dunia Pembakaran Mapolres OKU Edi Maryono (72), korban pembakaran Markas Polres (Mapolres) OKU yang dilakukan oknum anggota TNI Yon Armed 76/15 akhirnya meninggal dunia di RS Dr Noesmir, Batu raja, sekitar pukul 06.15 WIB kemarin. Luka bakar yang cukup parah di sekujur tubuhnya tak mampu lagi ia tahan. Bagaimana kisah tragis tukang bersih-bersih Mapolres OKU ini?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Gus Munir – Baturaja

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Suasana duka terlihat di kediaman Edi Maryono di Jl Raden Fatah Gang Masjid No 192, Kelurahan Sukaraya, Baturaja Timur, OKU, kemarin. Keluarga, teman, tetangga, bahkan Kapolres OKU AKBP Azis Saputra dan jajaran silih berganti menghampiri. Termasuk juga Kodim 04-03/OKU Letkol Imanulhak beserta jajaran.

Sesekali isak tangis terdengar di rumah berukuran 6×9 meter itu. Beberapa petakziah juga membacakan surat Yasiin dan memberikan semangat serta doa kepada anak dan istri almarhum Edi. “Yang sabar, Buk. Semoga bapak diterima di sisi Allah SWT,” kata Kapolres Azis usai membacakan surat Yasin berjemaah.

“Terima kasih, Pak,” timpal Masiem, istri korban. Masiem sendiri sangat menyesalkan atas kejadian itu. Terlebih menyebabkan kematian suai tercintanya. “Kami ini hanya rakyat kecil. Mengapa jadi korban, sampai Bapak (suami, red) meninggal. Bagaimana untuk kebutuhan sehari-hari kami nanti,” ujar Masiem dengan nada sesegukan.

Masiem mengungkapkan, ia bersama suaminya mencari nafkah bersama-sama untuk menghidupi keluarga. Dia sebagai juru dapur di RS Dr Noermir Baturaja, sementara suaminya tukang bersih-bersih di Mapolres OKU.

“Bapak sudah tiga tahun bekerja di Polres. Kalau besarnya gaji, saya tidak pernah nanya. Biasanya Bapak memberikan uang Rp 1 juta per bulan. Sebab, selain kerja di Polres, bapak juga rajin ngumpulin barang-barang bekas seperti kardus untuk dijual,” sambung ibu eman anak dan delapan cucu itu.

Keluarga korban sendiri tak mempunyai firasat bakal terjadinya musibah seperti itu. Saat kejadian lanjut Masiem, korban sedang ada di kamar mandi bagian belakang Mapolres untuk mencuci piring. Setelah selesai, korban keluar sudah tidak ada polisi di Mapolres.

“Tiba-tiba terdengar letusan dan suara gaduh, sehingga bapak takut keluar. Tak lama dari itu, semua ruangan Mapolres sudah terbakar. Bapak masuk lagi kamar mandi. Dan merayap di jendela untuk keluar. Beruntung di luar ada orang yang mampu menjebol jendela dan membawa bapak keluar dan langsung membawa ke rumah sakit,” urainya.

Atas kejadian itu, lanjutnya, korban mengalami luka bakar yang cukup parah di sekujur tubuh, di antaranya di tangan kanan dan kiri, wajah dan punggung belakang. “Saat kejadian, bapak sempat menyiramkan air di bak ke dadanya. Kalau tidak habis semua terbakar,” lanjutnya.

Selama di rumah sakit, korban mendapat perhatian dari beberapa instansi terkait seperti Gubernur Sumsel, Kapolda, Kapolres, dari TNI. “Ada juga dari pusat. Gak tahu siapa, juga kasih bantuan. Dari TNI dan pihak rumah sakit juga bilang jangan mikirin biayanya,” kata Masiem.

Dia menambahkan, setelah beberapa hari menjalani beberapa hari perawatan, kondisi korban mulai pulih, sehingga dokter mengizinkan pulang. “Hanya dua hari di rumah. Kemudian, ngeluh kembung perutnya, sekitar pukul 03.00 WIB (kemarin), kami bawa ke rumah sakit lagi. Pukul 06.15 WIB, Bapak meninggal dunia,” imbuhnya.

Menurutnya, tidak ada firasat apapun sebelum korban meninggal. Hanya, korban berpesan kepada anak keempatnya, Suwarsono (31) untuk sering-sering meninjau Mapolres pascakejadian pembakaran.

“Jingok-jingoki Polres itu, Nak. Ya kami jawab, Polres habis terbakar dan sekarang masih dibersihkan dan mau dibeneri. Dia pesan kalu sudah Polres sudah jadi minta anak kami tik lihat-lihat,” tambah Masiem menirukan ucapan korban.

Apa cita-cita korban semasa hidup? “Tidak ada. Dulu dia cita-cita bisa kurban. Dan tahun lalu sudah tercapai.” pungkasnya. Sementara , di mata anak-anaknya, korban terkenal tegas dalam mendidik. “Jika marah-marah itu benar demi masa depan anak-anaknya,” ujar anak keempat korban, Suwarsono.

Dia menembahkan, sebelum meninggal korban sendiri meminta keluarganya untuk tidur bersama. “Tedoklah sini bareng-bareng, jangan tinggalke Bapak. Cuma itu permintaan Bapak sebelum meninggal,” imbuhnya menirukan perkataan korban.

Almarhum sendiri dimakamkan di Pekas, Desa Air Pauh, Baturaja Timur, OKU, kemarin pada pukul 13.00 WIB. “Kami dari TNI turut berbelasungkawa atas meninggalnya almarhu,” ujar Kodim 04-03/OKU, Letkol Imanulhak saat takziah ke rumah duka. (*/ego/ce1)

Sumatera Ekspres, Minggu, 17 Maret 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: