Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan


Sekarat dan Mulai Tak “Pakem” Lagi

Dul Muluk merupakan seni teater tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan (Sumsel), terutama di Palembang. Lambat laun kesenian ini mulai ditinggalkan penggemarnya. Pementasan Dul Muluk mulai sepi penonton, kesenian ini pun makin terpinggirkan dan malah lebih berkembang di daerah di luar Palembang seperti di Kabupaten Ogan Ilir (OI) dan Banyuasin.

* * * * * * * * * *

Salah seorang seniman Dul Muluk yang sudah dikenal oleh masyarakat adalah Kiagus Wahab yang akrab disapa Wak Pet (72). Ia telah menggeluti seni Dul Muluk sejak tahun 1963. Warisan jiwa seni memang telah didapat dari ayahnya yang menggeluti keroncong. Kesukaannya terhadap seni teater dimulai saat ia bersekolah. Saat itu, sekolahnya sering mengadakan acara perayaan hari besar. Ia bersama teman-temannya kemudian membuat sebuah drama.

“Kebetulan waktu itu yang kami angkat adalah cerita Dul Muluk yang memang sangat disukai oleh masyarakat sebagai sarana hiburan,” katanya. Karena banyak yang suka ia pun membentuk grup teater yang diberi nama Sinar Palembang. Menurut Wak Pet, teater Dul Muluk ini merupakan lakon yang menerjemahkan syair Hikayat Abdul Muluk ke dalam bentuk pementasan. Cerita dan syair Abdul Muluk yang beredar di Sumatera Selatan diketahui berasal dari buku Kejayaan Kerajaan Melayu yang ditulis dalam huruf Arab gundul.

“Awalnya kisah tersebut disampaikan secara lisan oleh Wan Bakar. Orang berkumpul dan mendengarkannya cerita,” ujarnya.

Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan Sepeninggalnya, murid-murid Wan Bakar melakukan improvisasi dengan mengubah pembacaan syair secara monolog dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang ada dalam syair tersebut pada penyampaian. Sekitar tahuun 1919 sastra lisan itu kemudian berkembang menjadi pentas lakon, setelah para pencerita tidak sekedar membacakan syair tetapi juga menirukan gerak-gerik tokoh. Para seniman juga menambahkan kostum dan riasan seta orkes musik sebagai pengiring.

“Nah, saat itulah berkembang kesenian teater Dul Muluk tersebut. Teater ini juga awalnya hanya dimainkan di dalam rumah. Lalu berkembang ke lapangan dan searang banyak dimainkan di televisi serta panggung besar,” terangnya.
beberapa transpormasi pun dialami oleh kesenian Dul Muluk ini. Wak Pet menuturkan, dulunya lakon wanita dalam cerita Dul Muluk ini adalah pria, dikarenakan wanita saat itu masih malu untuk tampil dipanggung. Namun, sekarang wanita sudah dilibatkan setiap pementasan Dul Muluk.

“Iringan musik pun hanya melibatkan empat jenis alat musik, yaitu gendang, beduk, gong, seta biola. Kalau sekarang sudah banyak menggunakan alat musik lain,” terangnya lagi.

Seiring perkembangan zaman, kesenian Dul Muluk juga telah banyak bercampur dengan kesenian teater lain. Ada tiga jenis seni teater yang berkembang di Palembang yaitu Dul Muluk, Bangsawan dan komedi. Banyak orang yang mementaskan Bangsawan menambahkannya dengan Dul Muluk.

Hal inilah yang membuat pakem-nya (aturan baku atau keasliannya, red) pementasan Dul Muluk mulai hilang. Seharusnya pementasan Dul Muluk bisa semalam suntuk hingga pagi. Di sela-sela pertunjukan ada yang namanya hadam , dimana pemain melakukan lelucon. Konsep pertunjukannya hampir sama dengan wayang orang. Ceritanya juga cenderung serius dan sesuai dengan alur cerita.

Kiagus Wahab (Wak Pet)“Ada tiga naskah yang sering dimainkan yaitu, Zubaidah Siti, Sultan Abdul Muluk Pribadi dan Muaro Keramo. Apalagi alur cerita tersebut menyimpang dari ketiga cerita ini, maka itu bukanlah pementasan Dul Muluk melainkan pementasan bangsawan. Apalagi yang ditampilkan hanya cerita yang lucunya saja,” jelasnya.

Diakui Wak Pet, dalam setiap pertunjukan, hadam merupakan yang paling ditunggu penonton. Sehingga kebanyakan seniman hanya menampilkan kesan humornya saja sesuai dengan tren yang ada sekarang. Tetapi dengan tegas ia mengatakan apabila Dul Muluk harus dipertahankan keasliannya. “Jangan sampai kesenian ini kehilangan jati dirinya,” ungkapnya

Kehidupan seorang seniman Dul Muluk seperti Wak Pet cukup memprihatinkan dari sisi pendapatan. Ia harus menjual kepingan CD di depan eks Bioskop Mawar untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Jika hanya mengandalkan pendapatan dari pementasan, pendapatan tidak akan cukup. “Tetapi jika ada tawaran pementasan, jualan saya pasati akan saya tinggal,” ungkap Wak Pet.

Dalam perkembangannya, sambung Wak Pet, dia telah beberapa kali membentuk grup kesenian. Diantaranya ada inar Palembang, Yan Taruna, Tunas Harapan, dan Hibra (Hiburan Rakyat). Namun, yang masih aktif hingga saat ini adalah Karya Muda dengan Mustika Jaya. Grup kesenian ini dibentuknya untuk tetap melestariikan kesenian Dul Muluk kepada generasi muda. Diakuinya cukup sulit untuk mengajak anak muda ikut dalam pementasan atau sekedar mencoba menjadi lakon dalam cerita.

Dalam menggaet anak muda, kadang ia juga harus “menipu” mereka terlebih dulu. Beberapa orang diajak untuk ikut latihan awalnya, lalu ketika ada yang mau, mereka pun diajak untuk sekedar melihat perannya. Lalu esoknya, mereka tiba-tiba disuruh untuk tampil dalam pementasan orang hajatan.

Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan“Pertama-tama tentu mereka takut dan grogi. Tetapi setelah tampil, malah ada yang ketagihan dan mmau tampil lagi. Mereka beralasan jadi lebih percaya diri setelah tampil di panggung,” ucapnya.

Wak Pet sangat berharap kesenian ini dapat terus dilanjutkan ke generasi berikutnya. Bila perlu, kesenian ini dapat menjadi salah satu jenis ekstra kurikuler di sekolah-sekolah. Sehingga mereka tahu daerahnya memiliki kesenian teater Dul Muluk dan lambat laun mereka menyukainya. “Minimal mereka tahu apa itu Dul Muluk. Sehingga lambat laun mereka menyukainya dan melanjutkan untuk melestarikannya,” katanya.

Dul Muluk harus dijaga dan jangan sampai diklaim oleh bangsa lain seperti kesenian daerah lain dan cepat-cepat harus dipatenkan. “Sakit rasanya apabila tiba-tiba Dul Muluk harus diakui oleh bangsa lain. Saya berharap pemerintah bisa terus menjaga, melestarikan serta memperhatikan nasib seni Dul Muluk dan para senimannya,” pungkasnya. (kos/war/ce3)

Proses Finishing, Segera Dipatenkan

Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan Ketua Dewan Kesenian Sumsel (DKSS), Dr H Zulkhair Ali SpPD mengatakan teater Dul Muluk merupakan kesenian yang berkembang di kalangan rakyat. Seni ini menceritakan tentang kerajaan atau negara, namun dasarnya sesuai dengan syir Abdul Muluk yang berasal dari Riau. “Seni ini awalnya dari kepulauan Riau tepatnya di Kerajaan Gurindam 12. Namun, di daerah asalnya kesenian ini kurang berkembang yang kemudian dibawa oleh pedangang Arab, Wan Bakar,” kata Zulkhair saat ditemui koran ini di kediamannya kemarin (19/1).

Upaya untuk mematenkan kesenian ini terus dilakukan. Zulkhair mengungkapkan pihaknya telah mengadakan diskusi dengan instansi terkait agar kesenian ini tidak diklaim oleh negara lain seperti yang pernah terjadi terhadap kesenian sebelumnya. Saat ini, Dul Muluk tengah menjalani proses pematenan. “Kita berharap bukan hanya Dul Muluk saja yang harus dipatenkan, tetapi kesenian lain yang ada di Sumsel juga,” ujarnya.

Diakuinya kesenian ini kurang mendapat tempat di hati sebagian masyarakat. Sebab, pementasan Dul Muluk cenderung monoton. Meski di beberapa bagian ada khadam, tetapi kesenian ini kalah dengan perkembangan zaman serta keinginan masyarakat yang menginginkan hiburan yang lucu dan menghibur.

“Sehingga dalam perkembangannya banyak seniman yang mengkombinasikannya dengan seni teater bangsawan agar tidak terlalu monoton. Memang diakui respon masyarakat cukup positif. Tetapi imbasnya keaslian dari Dul Muluk sendiri mulai pudar,” ungkapnya.

Setiap negara memiliki masalahnya yang sama dalam mengembangkan seni tradisionalnya. Zulkhair mengatakan masalah masyarakat akan selalu memiliki tradisi, selera serta kebiasaan baru. Hal itu lambat laun akan mengikis tradisi lama yang kemudian akan mengubah kesenian yang ada di dalamnya. “Untuk itu dibutuhkan revitalisasi dari kesenian tersebut dengan mengembangkan inovasi. Khusus untuk Dul Muluk, meski direvitalisasi pakemnya harus tetap dijaga,” tuturnya.

Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera SelatanDia menuturkan, semua kesenian akan sulit berkembang di Palembang. Sebab, kota ini telah mencanangkan dirinya sebagai kota internasional di samping kota perdagangan. Sehingga condong pemerintah serta segenap masyarakat adalah bagaimana menciptakan kota modern.

“Berbeda halnya dengan Bali serta Jogjakarta, dimana mereka menjual kesenian masyarakat setempat untuk disajikan kepada para turis. Jika sadar ini adalah milik kita, maka lestarikan dan pertahankanlah,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Badan Pengembangan Penelitian dan Inovasi Daerah (Balitbangnovda) Provinsi Sumsel, Ekowati Retnoningsih melalui Sekretaris Balitbangnovda. M Ervan Marzuki, menegaskan saat ini Dul Muluk tengah menjalani proses finishing dalam pembuatan hak paten (pematenan, red). “Dul Muluk tak lama lagi akan menjadi warisan budaya masyarakat Sumsel yang diakui. Saat ini datanya sedang diteliti oleh Dirjen HKI dan sedang dalam proses finshing,” terang Ervan saat dihubungi koran ini tadi malam.

Diketahui hingga saat ini pihaknya telah berhasil mendapatkan hak paten untuk 14 jenis kesenian serta warisan budaya asal Sumsel seperti seni, kerajinan, dan makanan di Dirjen HKI. Selain Dul Muluk, kesenian lainnya yang juga akan dipatenkan, di antaranya Irama Batanghari Sembilan. “Namun saat ini masih dalam proses pengumpulan dan validasi data. Untuk proses pematenan cukup memakan waktu yang lama. Sehingga tidak bisa sekaligus untuk mematenkan semua warisan budaya Sumsel,” tuturnya. (kos/war/ce3)

“Wajib” Pelesetkan Dialog

Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan Agar kesenian Dul Muluk tidak terkikis zaman modern, kata-kata dan kalimat dalam cerita yang dibawakan harus banyak disesuaikan dan dipelesetkaan (keluar dari makna sebenernya, red) agar menarik dan bisa menghibur penontonnya. “Kalau Dul Muluk dulu, kata-katanya agak dipanjangkan atau biasa disebut pakem yang artinya pertunjukan cara lama. Nah, saat tampil, grup harus menyesesuaikan. Bisa dialognya “wajib” dipelesetkan tapi tidak meninggalkan nilai-nilai yang ada di kesenian Dul Muluk itu sendiri,” ungkap Jonhar saad, praktisi teater tradisional asal Palembang itu.

Lanjut pria berusia 60 tahun itu, untuk bisa eksis di zaman sekarang, dia menilai harus pintar melihat situasi dan kondisi. Apalagi saat ini banyak orang tidak mau repot untuk melihat pertunjukan. Cukup melihat di internet saja sudah cukup. “Makanya dalam pertunjukan itu kami membuat kata-kata pelesetan terhadap kondisi apa yang terjadi saat ini agar lebih menarik,” terang dosen luar biasa Universitas PGRI itu.

Jonhar yang merupakan generasi ketiga Dul Muluk ini mengaku sejak tahun 1962 sudah menggeluti kesenian asal Sumsel tersebut. “Generasi pertama yakni Kamaluddin asal Pemulutan Ogan Ilir, generasi kedua Yek Mesir, juga dari Pemulutan, dan saya sendiri generasi ketiga. Generasi keempat anak saya,” unkapnya.

Ketua grup teater Harapan Jaya ini juga mengaku tidak mematok tarif saat tampil. “Lihat kondisi yang punya hajatan, kalau orang berduit disesuaikan kalau tidak berduit ya semampunya. Memang kami tidak pernah memasang tarif, lihat dulu acaranya jugalah,” tandas Jonhar. (sal/war/ce3)

Bawa Dul Muluk ke Konferensi Internasional

Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan Revitalisasi Dul Muluk ke tingkat internasinoal dilakukan doktor Pendidikan Bahasa Program Pascasarjana (PPs) Universitas Sriwijaya. Hal itu disampaikan Dr Nurhayati SPd MPd dan tim yang akan mengikuti The Ninth International Comperence on Environmental, Culture, Economic and Social Sustainability, 23-25 Januari mendatang di Hiroshima, Jepang.

Bersama Dr Subadiyono SPd MPd dan Dr Didi Suhendi SPd Mhum, Dr Nurhayati SPd MPd akan membentangkan mekala tentang Dul Muluk versi bahasa Inggris bertajuk “Developing a Model for Revitalizing the Traditional Performance of Dulmuluk by the Application of Structural and Reader Resporse Theories”.

Hasil penelitian itu membuktikan Dul Muluk hampir dilupakan masyarakat karena dua faktor. “Pertama, manajemen yang digunakan masih bersifat tradisional, mencakup manajemen organisasi, produksi, dan artistik. Kedua, kurangnya evaluasi setelah pementasan Dul Muluk,” ungakap Dr Nurhayati SPd MPd, kemarin (19/).
Penelitian dimulai dari relieminier FGD (focus grup discussion) yang melibatkan praktisi, pemerhati, dan pemelajar seni. Objek penelitian yakni mahasiswa dan guru. “Hasilnya sangat mengejutkan. Hampir 60 persen guru tidak kenal Dul Muluk. Sekitar 40 persennya mengenal dari tayangan di televisi. Yang lebih mengejutkan lagi, 80 persen mahasiswa tidak mengenal Dul Muluk. Hanya 20 persen mahasiswa yang mengenal Dul Muluk,” ungkapnya.

Nurhayati menambahkan, perlunya revitalisasi kesenian Dul Muluk agar disenangi masyarakat. “Generasi mudah sangat mengharapkan adanya revitalisasi Dul Muluk sebagai warisan budaya Sumsel yang populer di dunia,” terangnya.

Unsri membuka diri kepada siapa saja yang akan meneliti Dul Muluk. “Tidak bisa hanya dengan mengandalkan pemerintah. Kerja sama yang solid antarkomponen masyarakat sangat diperlukan untuk revitalisasi Dul Muluk. Kami (Unsri) siap menjadi mitra pemerintah dalam hal itu,” pungkasnya. (azh/war/ce3)

Sumatera Ekspres, Minggu, 20 Januari 2013

Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

2 Responses to Melihat Keberadaan Dul Muluk, Teater Tradisional Sumatera Selatan

  1. Pingback: Upaya Revitalisasi Kesenian Teater “DULMULUK” Asli Palembang | shintaayupm

  2. Msy says:

    asslkm Pak Iwan saya bisa minta alamat atau kontak Wan Bakar?
    terima kasih, ditunggu balasannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: