Rejung, Mula Musik Batanghari Sembilan


Rejung, Mula Musik Batanghari SembilanOleh: T. Wijaya

Jika Anda berkunjung ke Pagaralam, sebuah kota yang terletak di kaki Gunung Dempo, atau sekitar 290 kilometer dari Palembang atau enam jam perjalanan, akan ditemukan begitu banyak objek wisata. Selain air terjun, kebun teh dan kopi yang berusia ratusan tahun, hutan, sungai, juga ratusan artefak peninggalan Tradisi Megalitik Bukitbarisan Pasemah sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi.

Ternyata tidak itu saja. Dari daerah ini berkembang pula kesenian Rejung. Kesenian ini diyakini sebagai cikal dari musik Batanghari Sembilan, salah satu musik tradisional di Sumatera Selatan yang masih bertahan.

Disebut “Batanghari Sembilan”, sebab musik ini berkembang di setiap wilayah pemukiman yang berada di sepanjang sembilan sungai yang berada di Sumatera Selatan. “Batanghari” berarti sungai dan “sembilan” berarti berjumlah sembilan.

Penyebutan nama musik Batanghari Sembilan, menurut Sahilin—salah satu seniman musik Batanghari Sembilan—seperti dikutip EK Pascal (2008), dipopularkan oleh Djakfar Marik dari Dusun Jambabale Pagaralam, beberapa puluh tahun lalu.

Musik dan lagu Batanghari Sembilan umumnya bersifat melankolis. Secara teori musik, musik Batanghari Sembilan menggunakan tangga nada Pentatonis, seperti umumnya musik yang berkembang di Asia. Maka makna syair atau pantun yang muncul dari musik Batanghari Sembilan membawa nilai-nilai agamis dan humanis.

Masih menurut EK Pascal, rejung yang merupakan akar dari musik Batanghari Sembilan sebenarnya merupakan pantun atau sastra tutur yang berkembang di kawasan Basemah (Sebagian Menyebutnya Pasemah). Salah satu wilayahnya yakni Pagaralam.

Disebutkan, pada awalnya rejung tidak menggunakan instrumen musik tradisional sebagai alat pengiring bunyi. Rejung hanya berupa syair yang dituturkan dengan irama yang khas.

Baru, dalam perkembangannya, rejung mulai diharmonisasikan dengan alat bunyi perkusi sederhana, terbuat dari bambu (getuk, getak-getung), kulit binatang (redap) dan terbuat dari besi (gung, kenung). Selanjutnya bertambah lagi dengan alat bunyi tiup yang terbuat dari bambu (seredam), besi (ginggung), serta ada yang terbuat dari daun (carak). Hingga akhirnya alat musik modern, seperti gitar, akordion, terompet, biola, menjadi alat pengiring musik. Pengaruh alat musik modern ini disinyalir dipengaruhi datangnya bangsa asing ke Sumatera Selatan; seperti Timur Tengah dan Eropa.

Dampaknya, setelah Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945, alat musik tradisional mulai ditinggalkan, dan digantikan alat musik modern, dan hanya ginggung (ginggong) masih terlihat.

Nah, setelah rejung berkembang menjadi musik rejung, serta mengalami popularitas yang cukup pesat di Sumatera Selatan, genre musik Batanghari Sembilan membelah lagi menjadi beberapa sub-genre, pengkategorian musik seperti terkadang merupakan hal yang subjektif, di antaranya rejung, tige serangkay (tiga serangkai), antan delapan, gitar tunggal (akustik).

Sebenarnya sub-genre “tige serangkay” dan “antan delapan” merupakan salah satu jusul pantun dalam seni rejung.

Sementara gitar tunggal yang salah satu seniman yang paling popular saat ini, khususnya di Palembang, yakni Sahilin. Disebut gitar tunggal, karena lagu dinyayikan menggunakan satu gitar.

Menurut pekerja budaya Ahmad Bastari Suan—yang sangat fokus dengan kebudayaan Pasemah—penyebutan gitar tunggal, muncul sekitar tahun 1950-an. Sebelum muncul istilah tersebut, telah dikenal dengan “Petikan Dawi”. Dawi adalah nama pemetik gitar tunggal yang berasal dari daerah Pasemah.

Pengertian gitar tunggal dalam musik Batanghari Sembilan bukan menempatkan atau memandang gitar merupakan alat bunyi tunggal dalam bermusik. Sementara gitar tunggal dalam musik Batanghari Sembilan, selain sebagai alat musik, juga warna musik atau sub-genrenya.

Sementara teknik memetik gitar tunggal Batanghari Sembilan umumnya pentatonis atau bertangga nada lima, bukan umumnya musik Barat yang umumnya diatonis atau bertangga nada tujuh. Ciri lainnya petikan dominan memanfaatkan melodi bas (senar 4, 5, dan 6). Setiap ganti lagu, acapkali, pemusik menyetel gitarnya sehingga menghasilkan irama yang berbeda.

“Dari delapan nada dasar pada gitar, kerap hanya mengandalkan lima nada. Nada-nada itu dipadukan secara pentatonis, mirip gamelan atau ketukan perkusi yang ritmis dan agak monoton, baik melodi maupu harmoni,” tulis Eka.

Era keemasan gitar tunggal diperkirakan sekitar tahun 1960 dan 1970-an. Saat ini, seniman yang pernah dan masih setia menekuni dengan musik Batanghari Sembilan selain Sahilin yakni Buchori , Isran, Rasnawati, Rusli Effendi, Discik, Syafrin, Emilia, Asnadewi, Armin, Arman Idris, serta Jefri.

Khusus Sahilin, yang memiliki kekurangan pada matanya seperti Jose Felicano dan Stevie Wonder, sampai saat ini menjadi “maskot” dari musik Batanghari Sembilan dari sub-genre gitar tunggal.

Menurut Hanafi dari Jurusan Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, Sumatra Barat, yang pemikirannya dikutip EK Pascal, lagu-lagu Batanghari Sembilan yang dibawakan Sahilin cukup unik. Pada lagu “Nasib Muara Kuang”, misalnya, Sahilin bermain pada metrum (satuan irama yang ditentukan oleh jumlah dan tekanan suku kata dalam setiap baris puisi) yang berbeda-beda. Metrum awal mempunyai hitungan 4, pada bagian-bagian tertentu dia memainkan gitar pada hitungan 6 dan 10. Bahkan, ada yang muncul pada hitungan ganjil, seperti hitungan 5.

Menurut Hanafi, yang sempat survei bersama Philip Yampolsky dari Ford Foundation, dalam lagu-lagunya, Sahilin tak mau terikat dengan pola-pola birama konvensional. Sahilin bermain dengan mengikuti frase-frase melodi yang pada dasarnya memiliki metrum berbeda walaupun pada bagian awal dinyatakan dengan hitungan 4 atau metrum empat per empat.

Rejung Pesirah
Bagaimana dengan nasib musik Rejung, sebagai cikal musik Batanghari Sembilan? Beranjak dari kesadaran untuk mempertahankan musik tradisional tersebut, sekelompok pemusik muda di Palembang mendirikan sebuah kelompok dengan nama Orkes Rejung Pesirah pada tahun 2008 lalu.

Kelompok ini menggunakan sejumlah alat musik modern dan tradisional. Mereka pun menciptakan sejumlah lagu yang syairnya dari Bahasa Palembang, Pasemah, Rejang, Musi, hingga Bahasa Indonesia.

“Kami selain melestarikan juga mengembangkan musik rejung sesuai dengan perkembangan musik saat ini. Tapi nilai-nilai yang dibawakan tetap beranjak dari semangat tradisi sebab nilainya sangat berguna bagi masyarakat hari ini, yang telah kehilangan karakter humanisnya,” kata Vebri Al-Lintani, pendiri dan pimpinan Orkes Rejung Pesirah.

Kelompok musik ini pun beberapa kali tampil dengan membawakan karya-karyanya di sejumlah kota. Kini mereka tengah menggarap sejumlah lagu popular yang diciptakan pemusik di Sumatera Selatan, “Bersama album lagu Palembang ini kami akan mempopularkan musik rejung ke tingkat nasional,” kata Vebri. [*]

Sumber: Berita Musi

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: