Mengais Rezeki di Tumpukan Sampah


Melirik Para Pencari Barang Bekas di TPA Kelas 1 Sukawinatan

Mengais Rezeki di Tumpukan SampahFenomena kehidupan terkadang memang sulit untuk dirasakan namun harus dijalani dan disyukuri. Begitulah yang dirasakan segelintir orang yang kesehariannya menggantungkan nasib dengan mengais rezeki di tumpukan sampah yang menjulang tinggi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan, Kecamatan Sukarami.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Neni — Sukawinatan

LIZA (22), ibu dua orang anak yang kesehariannya bekerja sebagai pengumpul dan pencari barang di lokasi ini mengaku sangat senang meski dirinya tahu bahwa pekerjaannya sangat berisiko. Pasalnya untuk menekuni pekerjaan ini, dirinya harus bertarung nyawa untuk berhati-hati agar tidak terkena alat-alat berat dan mobil-mobil pengangkut sampah yang dioperasikan para pengelola tempat tersebut.

“Saya sejak lama bekerja sebagai pencari dan pengumpul barang bekas ini. Bahkan, sejak saya masih kecil,” ujarnya kepada Sumatera Ekspres di lokasi TPA, kemarin (7/1).

Ia mengaku, sejak memiliki suami, dirinya tidak lagi melakukan pekerjaan tersebut. Namun, setelah ditinggal suaminya meninggal dua tahun lalu, dirinya kembali harus bekerja untuk menghidupi kedua anaknya Anggel (4) dan Adit (2,5). “Pekerjaan ini terkadang memang berbahaya. Pasalnya, ada beberapa pemulung yang tersenggol alat berat, bahkan ada yang mati,” tutur Liza yang sudah sejak 18 tahun lalu tinggal di lokasi ini.

Keseharian ibu dua anak ini, menurut pengakuannya, biasa mencari dan mengumpulkan barang bekas dari pukul 10.00 WIB pagi hingga pukul 16.00 WIB. “Sehari-hari saya hanya mengumpulkan plastik dan botol bekas. Dari hasil tersebut, biasanya mengantongi uang sekitar Rp 30 ribu/hari. Cukuplah buat memberi makan dua anak saya,” ucapnya.

Lanjut dia, kalau lagi tidak mengumpul dan mencari barang bekas, dirinya ikut ibunya Nurhayati (50) mengambil sayur-sayuran yang masih berada di seputar TPA Sukawinatan. “Sekarang lagi tutup, makanya ikut bantu-bantu ibu ambil sayuran,” katanya.

Senada, Arsat (54) kakek 13 cucu in, saat ditemui di seputar TPA mengaku, kalau dirinya mengelola dam mengumpul barang bekaas sejak tahun 1994 atau tepatnya sejak awal dibukanya TPA Sukawinatan. “Sudah sejak lama bekerja seperti ini, bahkan dari awal adanya tempat ini,” terang dia.

Ia mengakui, selama dirinya bekerja sebagai pengelola dan pengumpul, banyak hal yang ditemui. Bahkan, ada temannya terkena alat berat hingga meninggal.

Sementara Kepala Seksi (Kasi) Penataan dan Pengelolaan TPA Sukawinatan, Ardani mengatakan, di lingkungan emerintah Kota Palembang, ada dua lokasi TPA. TPA kelas I di Sukawinatan dan TPA ke-2 ada di seputar Kelurahan Karyajaya, Kecamatan Kertapati. “Sekarang memang sepi karena lagi tutup akibat adanya rehab penataan lokasi,” terangnnya.

Lanjut dia, penataan dilakukan setiap bulan. Tapi khusus akhir tahun ini, sesuai kebutuhan di lapangan yang mengacu pada undang-undang baru tentang lingkungan. (*/ce4)

Sumatera Ekspres, Selasa, 8 Januari 2013

Mengais Rezeki di Tumpukan Sampah
TPA Sukawinatan
Mengais Rezeki di Tumpukan Sampah
TPA Sukawinatan
Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: