Masjid Agung, Lambang Kejayaan Islam di Palembang


Masjid Agung, Lambang Kejayaan Islam di Palembang Oleh: Adis Oktaviani

Masjid Agung dibangun kali pertama oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Pangeran Jayo Wikramo pada 1 Jumadil Akhir 1151 H atau 1738 masehi. Bangunan ini berdiri di belakang Benteng Kuto Besak, istana Sultan yang dulunya terletak di suatu pulau yang dikelilingi sungai Musi, sungai Sekanak, sungai Tengkuruk, dan sungai Kapuran.

Bangunan Masjid kali pertama dibangun berukuran hampir berbentuk persegi empat yakni 30 meter x 36 meter. Keempat sisi bangunan ini terdapat empat penampilan yang berfungsi sebagai pintu masuk, kecuali di bagian barat yang merupakan mihrab.

Atapnya berbentuk atap tumpung, terdiri dari tiga tingkat yang melambangkan filosofi keagamaan, atap berundak adalah pengaruh dari candi.

Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan kelas satu dari Tiongkok dan Eropa. Arsiteknya atau para pekerjanya berasal dari Tiongkok.

Lantaran sulitnya mendatangkan material bangunan, maka pekerjaan ini cukup lama dan masjid baru selesai dikerjakan dan diresmikan pada Tanggal 28 Jumadil awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M.

Pada awalnya Masjid ini tidak mempunyai menara. Baru pada tahun 1753 dibuat menara yang beratap genteng, dan tahun 1821 berganti atap sirap dan penambahan tinggi menara yang dilengkapi dengan beranda lingkar.

Setelah 100 tahun lebih berdirinya masjid yaitu tahun 1848 diadakan rencana perluasan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sebelum perluasan diadakan perubahan bentuk gerbang serambi masuk dari bentuk tradisional menjadi bentuk Doric.

Pada tahun 1879 telah diadakan perunbahan masjid, perluasan bentuk gerbang serambi masuk dibongkar ditambanh serambi yang terbuka dengan tiang benton bulat sehingga bentuknya seperti Pendopo atau seperti gaya banguan kolonial ini adalah perluasan pertama dan penambahan rancangan. Tahun 1874 dilaporkan bentuk menara berubah dari aslinya, dan tahun 1916 menara ini disempurnakan lagi.

Pada tahun 1930 diadakan perubahan yaitu menambah jarak pilar menjadi 4 meter dari atap. Setelah kemerdekaan, tahun 1952 dilakukan perluasan ketiga dengan bentuk yang tidak lagi harmonis dengan aslinya dengan ditambah kubah.

Pengurus yayasan masjid agung 1966 -1979 meneruskan penambahan ruangan dengan menambah bangunan lantai 2, yang selesai tahun 1969. Pada tanggal 22 januari 1970 dimulai pembanguan menara baru dengan tinggi 45 meter, bersegi 12 yang dibiayai Pertamina dan di resmikan pada tanggal 1 Februari 1971.

Sejak tahun 2000 masjid ini di renovasi dan selesai pada tanggal 16 Juni 2003 yang diresmikan oleh Presiden RI Megawati Soekarno Putri.

Berita Musi

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: