Mempertajam Peran Pendidikan Agama (2)


Sebuah Alternatif Pemecahan

PlgIndah.Wp.Com

Oleh : Dr Kasinyo Harto MAg
Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN RAden Fatah Palembang

Dalam menghadapi persoalan pokok pendidikan agama, maka dapat dikemukakan sebuah alternatif pemecahan, yakni ke arah rekontruksi metodologis pembelajaran pendidikan agama Islam. Metodologi pengajaran pendidikan agama Islam dengan pola konvensional-tradisional tidaklah menarik bagi anak didik dan membosankan.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Karena itu perlu dicarikan terobosan baru sehingga isi dan metodologi pendidkan agama Islam menjadi aktual-kontekstual. Manusia muslim pada era sekarang berhak sepenuhnya merekontruksi pengalamannya sendiri untuk menata kembali model metodologi pengajaran agama yang dikehendaki oleh zamannya.

Dalam kaitan ini, Amin Abdullah mencoba menawarkan sebuah metodologi baru dalam proses pendidikan dan pengajaran agama Islam, yaakni suatu pendekatan yang melibatkan dimensi historis-empiris-saintifik (Amin Abdullah: 2001: 64-65). Dengan memberi bobot muatan sosial-keagamaan melalui dimensi historis-empiris-saintifik, seorang edukator agama diharapkan erperan sebagai orang yang tekun membaca situasi dan perkembangan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Bukan sekedar membaca atau menyampaikan teks-teks keagamaan, dan bukan pula sekedar sebagai transmiter bahan-bahan keagamaan klasik yang memang telah berjasa pada zamannya, tetapi belumm tentu dapat diterapkan pada era sekarang. Namun demikian, Amin mengakui pendekatan ini bukan suatu yang final, karena mungkin pada klimaksnya juga tidak dapat membentuk sikap hidup dan pandangan hidup yang jelas. Telaah saintifik-historis-empiris supaya lebih bermakna dan berbobot, harus dibarengi pula oleh pendekatan dokktriner-religius dan penghayatan niai-nilai tasawuf (Amin Abdullah: 2001: 233).

Tampaknya metodologi yang ditawarkan Amin tersebut adalah sintesa harmonis antara doktriner-saintifik sehingga aspek kognitif afektif dn psikomotorik tersaji dalam satu kesatuan yang utuh lewat barbagai diskusi yang melibatkan partisipasi anak didik secara aktif-responsif.

Bagaimana model dua pendekatan ini dapat teramu sedemikian rua sehingga menjadi perpaduan yang harmonis merupakan tugas dan agenda bersama para ahli pendidikan agama Islam pada era sekarang ini.

Sementara Kautsar Azhari Nooer menawarkan pendekatan normatif dan abstrak diintegrasikan dengan kenyataan-kenyataan sosial yang ada. Dengan demikian, para anak didik akan terdorong untuk bersikap kritiis dan kreatif dalam menghadapi kenyataan-kenyataan sosial tadi. Jika pendidikan agama Islam dapat mengembangkan pola seperti ini, maka pendidikan agama dapat memberikan suatu sumbangan yang besar dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial di tanah air yang terjadi hingga saat ini.

Kuntowijoyo menawarkan sebuah model pendekatan metode transformasi. Menurut metode ini sangat relevan untuk dikkedepankan oleh para ahli pendidikan agama Islam dalam era sekarang. Bagaimana kita dapat melakukan transformasi nilai-nilai Islam pada zaman sekarang, yang masyarakatnya sering disebut masysarakat industrial atau masyarakat informasi. Strategi apa yang harus kita lakukan untuk melakukan transformasi dalam masyarakat seperti itu. Untuk menjawab tantangan ini, ia mengemukakan beberapa pertimbangan yang agaknya perlu diperhatikan.

Pada dasarnya seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif. Ada dua cara yang dapat dilakukan oleh para pendidik agama Islam untuk mentransformasikan nilai-nilai normatif itu menjadi operasional dalam kehidupan anak didik keseharian. Pertama, nilai-nilai normatif itu diaktualkan langsung menjadi perilaku. Untuk jenis aktualisasi semacam ini, contohnya seruan moral praktis Al-Qur’an. Misalnya, untuk menghormati orang tua, lemah lembut pada sesama dan seterusnya. Seruan ini langsung diterjemahkan ke dalam praktek, ke dalam perilaku. Kedua, mentransformasikan nilai-nilai normatif itu menjadi teori ilmu sebelum diaktualisasikan ke dalam perilaku.

Model pengajaran pendidikan agama Islam yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis-indotrinatif-doktriner dan masih berkutat dalam pengajaran tahap ranah kognitif dogmatis tidak lagi menarik bagi peserta didik era kontemporer dan sekaligus tidak akan dapat mengantarkan anak didik pada tahapan afeksi. Oleh karena itu metodologi pengajaran yang seperti itu perlu dikontruksi ulang dengan pemaknaan-pemaknaan baru (al-qiraah al-muntiah), sehingga pelaksanaan pendidikan agama Islam akan tetap relevan dan kontekstual sesuai dengan gerak perubahan dan tuntutan zaman.

Sebagai konsekuensi logisnya, maka telaah epistimologis metodologis terhadap rancang bangun metodologi pembelajaran pendidikan agama Islam selalu diperlukan setiap saat. Jika kita sepakat dan mempunyai asumsi dasar yang sama bahwa kegiatan pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama Islam pada khususnya adalah serupa atau mirip dengan barang komoditi yang perlu dipasarkan dengan ara yag canggih, simpatik dan elegan. Untuk itu kaidah-kaidah dasar “pemasaran” yang menarik tentu perlu dipelajari. Dengan begitu, diperlukan manajemen dan mentalitas penyelenggaraan pendidikan agama Islam yang tidak bersandar pada polapemikiran yang bersifat pasif-represif-reparatif, tetapi diperlukan pola berpikir dan mentalitas yang kreatif-dinamis-inovatif. Allahu A’lam bi al-Shawwab.

<– Sebelum

Sumatera Ekspres, Rabu, 17 Oktober 2012

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: