Kerajaan Sriwijaya, Bukan Sekedar Romantisme.


Oleh: Florencia Marcelina Ramadhona

Kebesaran masa lalu kerajaan Sriwijaya bukan sekedar romantisme bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Sumatra Bagian Selatan (Sumatra Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Bangka-Belitung) terhadap eksistensi leluhurnya.

Menurut Erwan Suryanegara, budayawan Palembang, yang menyusun buku “Sejarah Kerajaan Sriwijaya” pada Kamis (03/12/2009) pagi ini, di rumahnya, Jalan Anggada, Kalidoni, Palembang, berdasarkan kajian dari peninggalan-peninggalan Sriwijaya yang bersifat artefaktual, maupun sajian dalam berbagai literatur yang membicarakan hal-ikhwal Sriwijaya, tidaklah terbantahkan bahwa pada masanya Sriwijaya memang adalah sebuah kerajaan yang besar.

Keberadaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim, termasuk salah satu dari kerajaan-kerajaan besar dunia yang jumlahnya memang tidak banyak, memiliki masa rentang kekuasaan panjang yang berkisar tujuh abad lamanya, yakni ± abad ke-7 sampai abad ke-13 Masehi.

Sriwijaya selain diakui sebagai sebuah kerajaan terbesar pada masa atau babakan awal penerapan sistem kerajaan (masa klasik) di Nusantara, juga merupakan kerajaan pertama yang mengilhami akan semangat kenusantaraan.

Berdasarkan penelusuran sejarah kebudayaan di bumi Nusantara, sangat logis bila dikatakan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan besar di masa itu, karena cikal-bakal kebesaran atau tingginya peradaban manusia di bumi Sriwijaya, memang telah ada, dirintis, dan berlangsung sejak masa Nirleka Indonesia (2000-1000 SM = tradisi Megalitik Pasemah). Kala itu masyarakat di wilayah Dataran Tinggi Pasemah telah memiliki budaya tinggi, kemudian Sriwijaya melanjutkannya.

Jadi, semangat otonomi dan benih-benih demokrasi yang telah diklaim, seolah menjadi ciri kekinian masyarakat dunia saat ini, ternyata telah ada dan dihayati jauh sebelumnya oleh masyarakat di wilayah Sumatra Bagian Selatan, tepatnya sejak masa Pasemah purba dengan tradisi megalitiknya dan pada masa kerajaan Sriwijaya dengan kebudayaan Budha dan Hindu.

Kebesaran Sriwijaya sampai saat ini masih terus bergema. Namun sayang sekali, sampai saat ini, dapat dikatakan sumber-sumber sejarah Sriwijaya masih sangat sedikit yang ditemukan. Bukti-bukti arkeologis, epigrafis, palaeografis, dan referensi tetulis tentang Sriwijaya masih sangat langka dan terbatas, bahkan sebagian besar manuskrip mengenai kajian tentang Sriwjaya justru terdapat di luar negeri. Akumulasi penggalian dan kajian ilmiah yang pernah dilakukan oleh peneliti asing maupun lokal belum bisa mengungkap semua fakta sejarah Sriwijaya. Akibat keterbatasan ini, rekonstruksi sejarah Sriwijaya mengalami banyak kesulitan.

Polemik yang muncul mengenai Minanga, Mukha Upang, nama raja-raja Sriwijaya yang pernah berkuasa, periodesasi, bahkan lokasi pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya sampai saat ini masih terus bergulir. Namun bagi ilmu sejarah, interpretasi dan teori yang berbeda dalam suatu studi sejarah adalah suatu berkah dan anugrah, karena perspektif sejarah sebagai ilmu, di antaranya, bersifat dinamis dan penuh keterbukaan. Asalkan multipendapat tersebut tetap berlandaskan dan didukung oleh data, fakta, teori, dan interpretasi yang objektif, ilmiah, dan rasional sehingga kian mendekati kebenaran sejarah, terutama sejarah Sriwijaya.

Tahun 1988, daerah sekitar Palembang mendapat sorotan tajam dari pakar sejarah Indonesia yang terdiri Dr Hasan Muarif Ambary dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang didampingi ahli purbakala Hindu-Budha Soejatmi Sutari, arkeolog Bambang Budi Utomo, arkeolog yang dikirim dari Usaid MI Dr E Edwards Mc Kinnon, dan peneliti perahu kuno Perancis Piere Yves Manguin. Kelima peneliti sejarah dengan disiplin ilmu masing-masing mengadakan ceramah di Palembang pada tahun 1988.

Kesimpulan mereka, nilai ilmiah kepurbakalan dari sejarah Sriwijaya, yang berkepentingan terhadap sejarah Sriwijaya bukanlah hanya orang Indonesia pada umumnya dan orang Palembang atau Sumatra Selatan khususnya. Namun lebih dari itu, kedudukan Sriwijaya pada masa lampau abad ke-7 sampai ke-13 Masehi adalah sama pentingnya seperti kerajaan Islam yang berpusat di Baghdad, Asia Barat, ketika dipimpin oleh Harun Al Rasyid.

Apa pun pendapat para peneliti mengenai Sriwijaya, yang jelas sampai saat ini, fakta arkeologis dan artefaktual kerajaan Sriwijaya paling banyak ditemukan di wilayah Palembang, sehingga interpretasi dan teori para peneliti mayoritas bertendensi pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya diduga kuat memang berada di Palembang saat ini.

Berita Musi

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: