Napak Tilas Peninggalan Jepang di Palembang


Napak Tilas Peninggalan Jepang di Palembang

Oleh: Muhammad Nasir, Palembang

Penjajahan Jepang yang berlangsung selama 3,5 tahun telah meninggalkan kenangang buruk bagi rakyat Indonesia. Namun bagi Sumatera Selatan, ternyata tidak hanya meninggalkan kenangan pahit. Negeri Matahari Terbit itu ternyata juga meninggalkan peluang pendapatan bagi Sumsel, berupa bekas bangunan yang bisa menjadi obyek wisata. Sayangnya “pundi-pundi” ini belum maksimal digarap menjadi obyek wisata sejarah.

Sedikitnya, terdapat 15 bekas bangunan balatentara Jepang berserakkan diberbagai lokasi di Kota Palembang, Naifnya, bekas-bekas bangunan itupun ternyata tak begitu dikenal warga Palembang sendiri. “Padahal peninggalan ini kalau diurus dan dilestarikan, bukan tidak mungkin dapat dinikmati sebagai obyek wisata,” kata seorang guru sejarah sekolahlanjutan pertama swasta dan pegawai bagian humas pemerintahan Kota Palembang, Ahamd Bastari Suan, beberapa waktu yang lalu.

Berdasarkan pemantauan SH, bangunan-bangunan eks Jepang umumnya tidak terawat, meskipun terdapat di tengah kota atau ditengah lingkungan tempat tinggal warga. Setidaknya, ada 15 obyek yang berpotensial untuk dikembangkan. Misalnya, rumah perlindungan di bawah tanah (bungker) di Jalan Joko, Kelurahan Talangsemut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang. Selain itu ada juga terowongan di Jl. Joko, tepatnya dibelakang Aula Imanuel, kompleks pertahanan di Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, dan pekuburan tentara Jepang di Talang Krikil.

Selain itu, kompleks pertahanan udara di Jalan Sudirman, tepatnya disamping Rumah Sakit Kristen (RSK) Charitas, kompleks pertahan di Jl. AKBP H Umar, Kelurahan Ario Kemuning. Asrama tentara di Tegal Binangun. Kompleks pertahanan Jepang di Jl. Majapahit, Kelurahan 1 Ulu. Kompleks pertahanan di Pulau Melati, Kelurahan Keramasan, Kertapati. Jalan Jepang di Kelurahan Karyajaya. Kompleks pertahanan di Jl. Pertahan, Plaju. Benteng Jepang di Lorong Sikam, Plaju. Dan kompleks pertahanan udara di Tegal Binangun, Plaju.

Tentang bunker di Jalan Joko, Kelurahan Talangsemut, masyarakat sekitar tidak menyadari kalau bangunan yang tinggal menyisakan puing-puing ini dahulu menjadi basis pertahanan Jepang saat menghadapi musuh. Saat ini bungker itu memang sudah tidak lagi di dalam tanah karena tanah didaerah ini sudah diuruk. Namun masih terdapat sisa bangunan yang menurut masyarakat setempat dulunya dibangun oleh Belanda untuk menghadapi Jepang.

Dinding bungker terbuat dari beton cor dengan ketebalan 0,25 M dan tinggi dinding 2,4 meter. Luas bangunan diperkirakan 17,8×8 meter, dan bentuknya masih terlihat sampai sekarang, Di Jalan Joko, tak jauh dari bungker terdapat terowongan. Pintu masuk terowongan yang diperkirakan menuju bungker masih tersisa. Begitupun terowongannya masih ada. Namun belum ada yang mengukur seberapa jauh terowongan itu dan kemana tembusnya. Namun demikian, terowongan berbentuk segi empat ini memiliki ukuran 3×2,7 meter, dengan pintu berukuran 2×1,2 meter, diduga terowongan ini cukup panjang dan berliki-liku, dan terlihat masih kuat. Namun karena gelap dan licin, tak jelas bagaimana kondisi di dalamnya.

Kompleks pertahanan setidaknya ada sembilan kompleks pertahanan Jepang yang kini masihada puingnya. Kompleks pertahanan yang ada di samping RSK Charitas terbuat dari beton cor dengan ketebalan 0,5 meter dan tinggi 2 meter. Sementara itu, luas bangunannya adalah 32×15 meter. Lokasi bangunannya pun cukup tinggi. Untuk mencapainya terdapat tangga yang sudah menghitam. Di lokasi ini juga terdapat terowongan yang diperkirakan tembus kepinggiran Sungai Musi. Tempat ini diperkirakan dipergunakan sebagai tempat untuk melarikan diri kalau kondisi sedang tidak memungkinkan untuk bertahan.

Sementara itu, pada saat ini, kondisi terowongan itu sendiri tak memungkinkan untuk dimasuki. Disini masih terlihat bekas landasan meriam berukuran 5×4 meter. Luas areal seluruhnya sekitar satu hektare, terjepit areal RSK Charitas. Lokasi ini pun tampak tak terawat. Selain rumput, terdapat juga semak-semak dan pohon pisang yang menjadi “penghias.”

Adapun tempat pertahan di Jl. AKBP H Umar, puing-puingnya masih berdiri kokoh. Diareal seluas 4.710 m2 terlihat bekas bangunan dan terowongan yang sudah tak utuh lagi. Bangunan induk berupa bungker berukuran 20×20 meter, dan dipintu masuk terdapat terowongan berukuran 2×1,5 meter. Pintu gus inilah yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Gua Jepang. Bangunan yang cukup menarik adalah bekas benteng yang terdapat di Lorong Sikam Darat, Plaju. Benteng kembar berukuran 8×6 meter ini memang tidak utuh lagi. Namun, lokasi ini cukup menarik, apalagi bentuknya yang kokoh. Begitu juga bangunan berbentuk kawah telungkup di Jalan Tegal Binangun, Plaju. Adapun bangunan berdiameter 14 meter dengan tinggi puncak 3,5 meter dan dinding setebal 0,9 meter ini terlihat unik.

Tak jauh dari bangunan ini, terdapat juga kompleks yang di perkirakan pertahanan artileri. Bangunan dengan dinding beton setinggi 1,5 meter dan di kelilingi tiang-tiang beton itu terlihat cukup menyeramkan. Sementara itu, beberapa pondasi tepakan penangkis serangan udara juga terlihat masih utuh. Markas tentara Jepang masih terlihat dari sisa-sisa bangunan yang terdapat di Jalan Tegal Binangun yang dikenal juga dengan sebutan Jalan Jepang ini. Disini, selain bekas bak mandi, terdapat juga bekas landasan meriam penangkis serangan udara.

Dunia pariwisata memang sedang lesu, berbagai teror manghantui wisatawan. Menghadapi tahun 2008, bukan tidak mungkin ada angin segar yang membawa turis mancanegara melirik Sumatera Selatan. Setidaknya, wisatawan asal Jepang bisa dipancing dengan obyek-obyek peninggalan nenek moyang mereka. Atau paling tidak, para pelajar bisa diajak mengunjungi obyek-obyek ini untuk mendapatkan pelajaran secara langsung peninggalan penjajah yang pernah memeras negeri ini.

Murid-murid yang menuntut ilmu di sekolah dasar yang tak jauh dari eks pertahanan Jepang, ternyata tak banyak yang mengetahui kalau ada pelajaran berharga yang terdapat di sekitar sekolah mereka.

“Kami dak tau Kak, kalu ado peninggalan Jepang disini,” ungkap seorang murid SD Km 5 Palembang ketika diajak melihat sisa-sisa bangunan bekas pertahan Jepang, tak jauh dari sekolahnya.

Sinar Harapan, Kamis, 01 Maret 2007

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: