Dimanakah Pusat Kerajaan Sriwijaya


Dimanakah Pusat Kerajaan Sriwijaya Dimanakah pusat Kerajaan Sriwijaya, pertanyaan ini terus menghantui setiap kajian tentang Sriwijaya. Masalahnya, kerajaan maritim di Sumatera itu memang tidak meninggalkan istana atau keraton yang fisiknya masih bisa dilihat hingga sekarang.

Padahal, istana atau keraton menjadi rujukan penting untuk menentukan pusat pemerintahan dari kerajaan yang telah tiada. Masalah lain, bukti-bukti tertulis tentang Sriwijaya masih langkah dan terbatas, bahkan sebagian besar manuskrip justru terdapat di luar negeri. Penggalian dan kajian ilmiah yang ada belum bisa mengungkap semua fakta sejarah kerajaan itu. Ada beberapa wilayah yang sering diklaim sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, antara lain Kota Palembang, Jambi, Lampung, Riau, dan Thailand. Masing-masing tempat didukung adanya temuan arkeologis yang berkaitan dengan Sriwijaya, baik berupa candi, prasasti, atau struktur bangunan lama.

Sebagian besar peneliti berpendapat, pusat Kerajaan Sriwijaya diduga kuat berada di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dugaan itu didukung banyaknya prasasti dan situs Sriwijaya yang ditemukan disekitar Palembang. Prasasti-prasasti tersebut, antara lain Prasasti Boom Baru (akhir abad ke – 7 Masehi), Kedukan Bukit (682 Masehi), Talangtuo (681 Masehi), Prasasti Telaga Batu (diperkirakan abad ke – 7 Masehi), dan Prasasti Pendek di Bukit Siguntang (abad ke – 7 Masehi). Prasasti-prasasti itu menceritakan keberadaan Sriwijaya dan kutukkan bagi para pembangkang.

Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti, menilai bahwa Palembang menjadi pusat Sriwijaya pada masa awal kejayaan pada abad ke – 7 sampai ke – 9. Setidaknya ada 18 situs dari masa Sriwijaya di Palembang. Empat situs diantaranya memiliki penanggalan sekitar abad ke – 7 sampai ke – 8 Masehi, yaitu Situs Candi Angsoko, Prasasti Kedukan Bukit, Situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. “Data-data arkeologi lebih mengarah pada kesimpulan Kerajaan Sriwijaya awal berpusat di Palembang. Fase berikut, pusat kerajaan berpindah ke Jambi,” papar Retno.

Pada abad ke -10 sampai ke – 13 Masehi, Kerajaan Sriwijaya makin berkembang dan pusat pemerintahan berpindah ke daerah Jambi, Riau, atau Thailand. Perpindahan dipengaruhi budaya kerajaan maritim ditepian sungai, yang cenderung tidak menetapdisatu tempat dalam waktu lama.

Asumsi ini diperkuat penanggalan dari sejumlah peninggalan arkeologis didaerah-daerah tersebut, yang merujuk waktu pendirian sekitar abad ke – 10 sampai abad ke -13 Masehi. Ketua Dewan Kesenian Sumsel, Djohan hanafiah menilai, Palembang sangat mungkin menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya karena posisinya sebagai pertemuan dari beberapa sungai cukup strategis. “Sriwijaya itu kerajaan maritim yang sangat cocok berkembang di Palembang yang berbudaya tepian sungai (riverine culture). Segala aktifitas berpusat dipelabuhan, sedangkan penduduk tinggal dirumah-rumah rakit dengan transportasi utama perahu,” ungkapnya.

Masih banyak peneliti yang meragukan kemungkinan pusat Sriwijaya di Palembang, sekaligus menunjuk daerah Jambi, Riau, Malaysia, atau Thailand sebagai pusatnya. Dugaan ini terus berkembang karena adanya beberapa peninggalan Sriwijaya yang ditemukan didaerah-daerah tersebut. Suaka peninggalan sejarah dan purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu mencatat, setidaknya terdapat 70 peninggalan disitus purbakala Muaro Jambi ditepian Sungai Batanghari. Dari 70 peninggalan itu, dalapan candi dan satu kolam yang telah digali dan direnovasi, yaitu Candi Kotamahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, candi Astano, dan Kolam Telagorajo.

Berbagai artefak yang ditemukan menunjukkan, Situs Muaro Jambi merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Buddha pada masa kejayaan abad ke -10 sampai abad ke – 13 Masehi. Asumsi itu dibuktikandengan adanya arca Prajaparamita dan puluhan stupa Buddha di Candi Gumpung, keramik dari Dinasti Song, China (960-1279 Masehi), serta konsep makro kosmos dan mikro kosmos yang merupakan ciri khas bangunan dari aliran Buddha Mahayana.

Di Lampung, ditemukan Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk (Jabung) yang juga menerangkan keberadaan Sriwijaya. Thailand pun di klaim sebagai pusat Sriwijaya karena disana terdapat candi yang diduga dibangun salah satu Raja Sriwijaya, Prasasti Ligor, dan pemukiman lama sezaman dengan Sriwijaya, yang terletak dibeberapa lokasi. Candi Muara Takus yang berbentuk stupa Buddha di Riau juga sering melahirkan asumsi bahwa daerah tersebut pernah menjadi pusat Sriwijaya. Berbagai kemungkinan itu bersifat terbuka, terutama jika ditemukan bukti arkeologis baru yang lebih kuat. Apalagi, para peneliti yang menyimpulkan Palembang sebagai pusat Sriwijaya pun masih berpolemik, dimana persisnya lokasi bangunan istana Sriwijaya. (IAM)

Kompas

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: