Berharap Mewarisi Spirit Sriwijaya


Berharap Mewarisi Spirit Sriwijaya Ratusan lembaga telah memakai nama Sriwijaya. Mulai dari instansi militer, yayasan sosial, toko, universitas, koran, usaha travel, angkutan umum, pabrik pupuk, jalan, sampai dengan hotel, semua menempelkan nama kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara ini. Barangkali para pemberi nama memiliki harapan serupa, mewarisi spirit kebesaran Sriwijaya. Namun, apakah kebesaran Sriwijaya benar-benar memberikan inspirasi bagi masyarakat zaman sekarang? Sebagian besar masyarakat di Palembang, Sumatera Selatan, yang diduga pernah menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, justru menyangsikannya. Alasannya, mereka kesulitan melacak sejarah dan nilai-nilai kebesaran Sriwijaya, akibat keterputusan sejarah.

Tidak banyak lagi yang bisa diwariskan dari kebesaran Sriwijaya sekarang ini, bahkan sebagian besar generasi muda sudah tidak lagi memahami sejarah kerajaan besar yang pernah tumbuh di bumi Sumatera Selatan ini. Pelabelan nama Sriwijaya cenderung menjadi kelatahan massal, tanpa pendalaman akan nilai-nilai didalamnya. Menurut Budayawan dan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) Djohan Hanafiah, kondisi tersebut karena sejarah kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 sampai ke-13 Masehi terputus dan tidak dilanjutkan oleh sejarah berikutnya.

Ensiklopedi Nasional Indonesia mencatat, kerajaan Sriwijaya di tundukkan Majapahit yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur, pada tahun 1377. Sejak itu hingga sekitar abad ke-16 Masehi, Palembang dan sekitar praktis menjadi daerah tak bertuan yang menjadi sarang gerombolan perompak dari China. Para perompak China yang agresif dan nekad menguasai jalur-jalur transportasi sungai dan laut, yang saat itu merupakan jalur perdagangan internasional oleh Sriwijaya.

Mereka beranak pinak, membentuk koloni tersendiri, memutuskan tradisi dan nilai-nilai yang berkembang di tanah leluhur bangsa China, dan sebaliknya menanamkan kehidupan budaya khas perompak yang berangasan. Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti mengutarakan, sisa-sisa perompak China sekitar 200 tahun itu dapat diamati pada peninggalan Kampung Kapiten di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I Palembang. Tugu prasasti di kampung itu menunjukan pemujaan kepada dewa samudra, sebagai peringatan adanya komunitas China yang menetap di Palembang. Keganasan para perompak ini berakhir setelah Panglima Perang Cheng Ho yang diutus penguasa China memberantas dan memerangi mereka.

Meski kekuasaan perompak China berakhir, tetapi kebesaran Sriwijaya terlanjur terpuruk dan sulit untuk dibangkitkan lagi. Pusat studi agama Buddha dan bahasa Sansekerta yang masyur dengan lebih dari 1.000 pendeta Buddha, tenggelam bersama ajaran-ajarannya. Kedikjayaan armada maritim dan pergaulan kerajaan besar itu dalam peta perdagangan internasional ikut pupus. Tradisi seni budaya bernuansa Buddha dan Hindu pun tidak berlanjut lagi pada zaman berikutnya.

Kerajaan Palembang Darussalam yang tumbuh sekitar abad ke-16 sampai tahun 1851, juga tidak meneruskan kebesaran Sriwijaya. Kerajaan ini membangun tradisinya sendiri yang berakar pada spirit Islam yang dipengaruhi kerajaan Demak, Jawa Tengah. Kekuasaan Belanda merasuki daerah Palembang sejak awal abad ke-18 sampai dengan pertengahan abad ke-20 Masehi lebih bercorak Kristiani, dan menekankan perdagangan untuk mengembangkan wilayah jajahan. Kondisi ini semakin menjauhkan kemegahan Sriwijaya dari kesadaran generasi-generasi berikutnya.

“Kebesaran Sriwijaya benar-benar terputus oleh Kerajaan Palembang Darussalam dan Belanda, yang membangun budaya jauh berbeda,” papar Djohan Hanafiah. “Beberapa candi dan peninggalan Sriwijaya sempat dihancurkan dan dikubur dalam tanah dengan alasan teologis. Estetika, ilmu pengetahuan, dan seni yang berkembang pada masa Sriwijaya tidak lagi tumbuh pada masa berikutnya sampai sekarang.”

Tantowi, Pengurus Dewan Kesenian Palembang yang menjadi Staf Humas Provinsi Sumsel. mengenarai adanya keterputusan sejarah, antara kebesaran Sriwijaya dengan budaya Sumsel zaman sekarang ini. Jeda waktu terjadi setelah Sriwijaya runtuh pada abad ke – 14 sampai abad ke – 16 Masehi merupakan missing link (rantai terputus)yang memutus keterkaitan Sriwijaya dengan Kerajaan Palembang Darussalam, kolonial Belanda, hingga pembangunan Kota Palembang modern.

Budaya masyarakat Palembang dan daerah sekitar, lanjut Tantowi, justru banyak dipengaruhi karakteristis kelompok masyarakat yang hidup berkebun di hutan-hutan. Mereka memiliki tradisi yang keras, karena hidup ditengah belantara dan terbiasa membawa senjata tajam untuk mengelola kebun dan jaga diri. Sedikit banyak kebiasaan itu masih berlanjut hingga sekarang.

Djohan Hanafiah menilai, tradisi kekerasan menguat dalam kehidupan masyarakat Sumatera karena daerah ini dihuni lebihdari 20 suku. Masing-masing suku merasa setara dengan suku lain, dengan senantiasa bersaing ketat untuk menguasai akses sosial, politik, dan ekonomi. Ketika komunikasi macet, kekerasan menjadi salah satu cara yang diandalkan untuk mempertahankan eksistensi antar suku tersebut.

Sesungguhnya masih terdapat satu kebesaran Sriwijaya yang berusaha dihidupkan masyarakat Sumsel, yaitu kekuatan armada maritim dalam mengarungi samudera dan mengembangkan perdagangan internasional. Setidaknya semangat tersebut pernah mendorong Gubernur Sumsel 1998-2003, H Rosihan Arsyad, pada tahun 2001 lalu untuk merekontruksi replika kapal layar Sriwijaya. Asnawi Hasan, Staf dibagian Industri dan Pariwisata Biro Ekonomi Pemprov Sumsel, mengungkapkan, studi bentuk kapal yang digunakan Sriwijaya untuk mengarungi Sungai Musi dan benua pernah dilakukan tim dari pusat penelitian arkeologi nasional. Dalam kajiannya, kapal yang dibuat dari kayu onglen itu mirip dengan kapal Borobudur yang memakai layar dan bercadik, panjangnya sekitar 24 meter dengan lebar kurang lebih 6 meter. Hanya saja, hingga Syahrial Oesman menjadi Gubernur Sumsel periode 2003-2008, rencana tersebut kandas. KOMPAS

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: