Legimin dan Titipan Pra-Sriwijaya


Legimin dan Titipan Pra-Sriwijaya Tas hitam yang dibawa dari kampung dibuka dengan sigap. Isinya bukan berkas-berkas penting, apalagi tumpukkan uang. Tak disangka lelaki berwajah keras ini mengeluarkan kepingan-kepingan tembikar, bandul jaring dari tanah liat, tempurung kelapa, potongan kayu dan tulang hewan, pecah bata, batu asahan, sejemput manik-manik, dan seikat ijuk dari dalam tasnya. “Ini contoh-contoh temuan yang ditemukan di belakang rumah saya sewaktu membuat parit,” uajr Legimin, seorang transmigrasi asal Malang, Jawa Timur, yang kini jadi warga Desa Karang Agung Tengah, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Menempuh jarak waktu empat jam dengan perahu motor dari kampungnya ke Kota Palembang hanya untuk memperlihatkan benda-benda usang dan tidak lazim. Namun, kirimananya itu adalah kado istimewa buat purbakalawan di Balai Arkeologi Palembang yang menekuni bukti-bukti peradaban sebelum munculnya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.

Artefak-artefak yang dibawa Legimin berasal dari Situs Karang Agung Tengah yang terletak di kampungnya. Situs itu kemudian menjadi terkenal di dunia arkeologi ketika beberapa tahun yang lalu analisis laboratorium terhadap dua potongan bekas tiang rumah panggung zaman kuno menghasilkan penanggalan 1624, 1629 BP, kira-kira sama dengan tahun 326, 329 Masehi.

Penelitian arkeologis secara insentif sejak tahun 2000 sampai sekarang semakin memperkuat teori bahwa pada abad ke-4 Masehi telah ada komunitas di daerah pantai Sumatera Selatan yang aktif dalam perdagangan internasional. Komunitas yang cukup padat dan telah mengenal spesialisasi pekerjaan dan stratifikasi sosial. Letak situs dekat Selat Bangka, Selat yang dikenal sebagai ajang perdagangan internasional pada awal Masehi. Komoditas impor yang ditemukan di situs, antara lain, manik-manik dari India dan Asia Barat.

Situs Karang Agung di identifikasi sebagai situs masa proto sejarah, kemudian arkeolog memberi istilah Situs Pra-Sriwijaya. “Disebut Situs Pra-Sriwijaya karena masanya sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Palembang, dan juga pertimbangan faktor lokasi yang tidak jauh dari persebaran situs-situs Sriwijaya di Sumatera Selatan dan Jambi,” ujar Tri Marhaeni, Ketua Tim Peneiti.

Tak pelak, ditemukannya situs Karang Agung sekitar tahun 2000 telah mengubah teori perubahan garis Pantai Timur Sumatera dalam kaitannya dengan lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya. Teori itu yang menyatakan Sriwijaya di Palembang maupun Jambi terletak pada tanjung di tepi laut sekitar abad ke-7 Masehi. Tampaknya teori itu perlu dipertimbangkan lagi setelah di temukannya pemukiman Karang Agung dari masa yang lebih tua daripada Sriwijaya. (Soeroso 2002)

Museum Situs.

Setelah lebih dari seribu tahun terkubur dalam kesunyian, Situs Karang Agung mulai diusik manusia. Pada tahun 1987 hingga 1990, daerah Karang Agung mulai dibuka sebagai lahan transmigrasi menyusul dibukanya lahan transmigrasi di Air Sugihan beberapa tahun sebelumnya. Maka dimulailah eksploitasi kekayaan Situs Karang Agung. Legimin mengisahkan, tahun 1997, 1998 teradi booming manik-manik dan benda-benda berlapis emas dari Situs Karang Agung. Saat itu penduduk berburu manik-manik dari bahan kaca berlapis emas, bahan batu, kaca, dan perunggu. Semua benda relik itu menjadi komoditas yang laku keras.

Jual-beli manik-manik dilakukan menurut panjang manik-manik yang dirangkai. Harga manik-manik emas Rp 40.000 per Cm, manik-manik perunggu Rp 5.000 per Cm, manik-manik batu Rp 500 per Cm, sedangkan dari bahan lain Rp 1000 pr Cm. Umumnya penadah manik-manik berasal dari luar Karang Agung. Legimin teringat ada seorang penadah berhasil mengumpulkan manik-manik samapi satu karung seberat 20 kilogram. Manik-manik dibawa ke Jawa dan akhirnya ke Bali.

Bisnis artefak mulai surut ketika instansi purbakala di Palembang dan jambi melakukan penyuluhan kepada penduduk, selain artefak semakin berkurang diambili penduduk. Legimin aktif membantu para purbakalawan. Bukan itu saja, ia rajin mengumpulkan artefak-artefak yang tidak laku dijual, seperti pecahan-pecahan tembikar, bata kuno, dan potongan kayu, lalu ditata dihalaman rumahnya. “Saya telah membuat museum situs dihalamanan rumah,” ujar Legimin.

Istilah Museum Situs diperolehnya dari arkeolog yang kerap melakukan melakukan dan tinggal dirumahnya. Baginya, mengumpulkan dan memajang artefak-artefak didepan rumah agar dilihat tamu tentang bukti-bukti peradaban abad ke-4 Masehi itu adalah museum situs.

Mengapa Legimin membawa artefak-artefak “rongsokan” ke Palembang.

“Saya ingat pesan teman-teman dari arkeologi, terutama Pak Roso, kalau menemukan lokasi temuan yang paling padat dan beraneka ragam, supaya melaporkan. Parit yang saya gali padat dan lengkap temuannya, Pak,” kata Legimin menjelaskan maksud kedatangannya di Palembang, sambil melaporkan ada warga yang menyimpang tujuh patung perunggu berukuran kecil.

Pak Roso yang dimaksud adalah Soeroso MP, salah satu peneliti yang pertama mengungkap identitas Situs Karang Agung Tengah, dan kini selaku Direktur Peninggalan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Legimin, yang pernah menempuh karier sebagai petinju di Malang, pertama kali ikut transmigrasi ke Air Sugihan pada tahun 1989 dan mulai menetap di Karang Agung pada akhir tahun 1989.

Air Sugihan, disebelah timur Karang Agung (masuk Kabupaten Banyuasin), dikenal juga kaya dengan artefak-artefak pra-Sriwijaya. Daerah ini yang terlebih dahulu di eksploitasi kekayaan arkeologinya, terutama manik-manik dan keramik. Dari Air Sugihan, kemudian para pemburu harta mengalihkan perhatian ke Karang Agung.

Legimin hidup tenang di Karang Agung brsama keluarganya. Usahanya sebagai petani dan tukang tambal gigi mampu menghidupi seorang istri dan lima anaknya, bahkan puteri yang sulung dapat kuliah di Malang. Sebagai tukang tambal gigi, Legimin keliling kampung dengan sepeda mencari pasien sambil mengumpulkan artefak-artefak “rongsokan” untuk koleksi museum situsnya.

Museum terbuka Legimin kini telah diberi atap rumbia agar benda-benda koleksi tidak kepanasan dan kehujanan. Dia mengakui, museum itu diwujudkan karena kekagumannya pada umur artefak-artefak Karang Agung yang lebih tua daripada kerajaan Sriwijaya. Setelah ia mendengar informasi dari para purbakalawan yang berdiskusi dirumahnya yang sederhana. Legimin memang bukan Maclaine Pont yang rajin mengumpulkan benda-benda peninggalan Majapahit di Trowulan, pada tahun 1924-1926.

Arsitek bangsa Belanda yang merengkontruksi Ibukota Majapahit itu membangun gedung yang kokoh dan megah untuk menyelamatkan artefak Majapahit, sementara Legimin membangun museumnya dengan bahan apa adanya. Bagi Legimin, benda-benda itu adalah titipan leluhur dari Tanah Sriwijaya. Walaupun bukan tanah kelahirannya, kekayaan arkeologi di Tanah Sriwijaya yang di pijaknya kini perlu dijaga.

Nurhadi Rangkuti, Kepala Balai Arkeologi
KOMPAS

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: