Mengais Jejak Kebesaran Sriwijaya.


Mengais Jejak Kebesaran SriwijayaPerbincangan tentang Sriwijaya selalu memancing diskusi berkepanjangan, mengingat keterangan tertulis ataupun dalam bentuk peninggalan arkeologis yang mengungkapkan kejayaan kerajaan maritim terbesar di nusantara itu memang masih terbatas. Sejumlah manuskrip dan prasasti tentang kerajaan yang berkembang abad ke – 7 sampai dengan 13 Masehi di wilayah Sumatera itu banyak yang telah rusak, hilang, atau masih terkubur dalam tanah. Sejarah Sriwijaya justru banyak disusun berdasarkan berita-berita dari pengelana asing, seperti dari China, India, atau Arab.

Data arkeologis tentang Sriwijaya yang mula-mula muncul adalah Prasasti Kota Kapur yang ditemukan JK van der Meulen di dekat Sungai Mendo, Dusun Kota Kapur, Desa Pernagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Desember 1892. Prasasti atas tunggal batu ini berisi kutukkan bagi mereka yang tidak taat kepada Raja Sriwijaya. Nama Sriwijaya mulai dikenal sebagai kerajaan sejak G Coedes menerbitkan artikel berjudul Le Royaume de Crivijaya tahun 1918. Sejak itu Kerajaan Sriwijaya semakin menarik perhatian para peneliti dari Indonesia dan Asing. Jejak-jejak Sriwijaya terus digali, dan temuan-temuan barupun bermunculan.

Pada 17 November 1920 ditemukam prasasti Talangtuo di Desa Gandus, Palembang. Prasasti berisi tulisan huruf Pallawa berbahasa Melatu kuno bertarikh 684 Masehi itu menyebutkan tentang pembangunan Taman Srikserta oleh Dapunta HyangSri Jayanasa. Pada akhir Desember 1920 ditemukan Prasasti Kedukan Bukit, Palembang. Prasasti bertarikh 682 Masehi yang di pahat dibatu kali itu menceritakan perjalanan Dapunta Hyang bersama bala tentaranya untuk mendirikan wanua (tempat tinggal) Sriwijaya.

Prasasti Telaga Batu ditemukan di daerah Telaga Batu, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, tahun 1918. Prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke – 7 Masehi ini berbentuk unik, yaitu lempengan batu selebar 1,4 meter yang bagian atasnya dihiasi tujuh kepala ular cobra. Bagian bawah lempengan dilengkapi ceret untuk mengalirkan air saat berlangsung upacara. Selain berisi kutukan, prasasti ini mencantumkan perangkat birokrasi Kerajaan Sriwijaya secara lengkap.

Prasasti lain yang juga berisi kutukan adalah Prasasti Boom Baru yang ditemukan di daerah Boom Baru, Palembang, pada tahun 1992. Ada juga prasasti dari daerah lain, seperti Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk di Lampung. Selain itu, ditemukan potongan-potongan prasasti, arca, manik-manik, mata uang, struktur bangunan, potongan kapal dan lebih dari 16 situs di Palembang. Empat situs diantaranya memiliki penanggalan pasti sekitar abad ke – 7 sampai dengan abad ke – 8 Masehi, yaitu Situs Candi Angsoko, Prasasti Kedukan Bukit, Situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. Peninggalan Sriwijaya juga ditemukan di Riau, Jambi, dan Thailand.

Buku panduan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya menyebutkan berbagai prasasti dan peninggalan itu menggambarkan Sriwijaya telah berkembang sebagai kerajaan maritim yang besar, yang melakukan ekspansi hingga menguasai wilayah Melayu, Pulau Bangka, dan Lampung. Dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan disekitarnya, Sriwijaya dapat menguasai jalur perdagangan internasional, serta pelayaran dari India ke China dan sebaliknya.

Berita dari China dan Arab menyebutkan, kapal-kapal Sriwijaya juga berlayar ke China dengan membawaberbagai komoditas perkebunan, seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-rempah, emas dan perak. Barang-barang itu dibeli atau ditukar dengan porselin, kain katun, atau kain sutera.
Guru Besar Sejarah dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang, Prof Dr Jalaluddin mengemukakan, Palembang merupakan bandar perdagangan yang strategis dan aktif mengembangkan hubungan dagang ke Persia, China, India, dan Pulau Jawa. Armada kerajaan itu telah melayari jalur perdagangan dari Teluk Persia dipantai barat, selatan Asia, hingga ke China di pantai timur. Kekuatan maritim dapat dilacak dari peninggalan kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di Sungai Buah, Palembang, pada tahun 1960-an. Kemudi dari kayu onglen hitam sepanjang delapan meter tersebut saat ini tersimpan di Museum TPKS. Memperhatikan ukurannya yang besar dan panjang, kemungkinan kemudi itu digunakan untuk mengemudikan kapal basar guna mengarungi samudera.

Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat studi agama Buddha dan ilmu pengetahuan. Pengembara China, I-Tsing, datang ke Sriwijaya dengan menumpang kapal dari Persiapada tahun 672 Masehi. Dia mencatat, Sriwijaya pada saat itu telah memjadi kota dagang, kota pelajar, dengan penduduk dan raja beragama Buddha. Sarjana China itu sempat tinggal enam bulan untuk belajar tata bahasa sansekerta. Setelah berkunjung ke India, iamenetap selama sekitar tujuh tahun di bumi Sriwijaya. Dengan jumlah pendeta 1.000 orang, pendeta Buddha yang ingin ke India dianjurkan untuk belajar setahun atau dua tahun terlebih dahulu di Sriwijaya.

Kebesaran Sriwijaya justru terlacak dari peninggalan di India dan Jawa. Prasasti Dewapaladewa dari Nalanda, India, abad ke – 9 Masehi menyebutkan, Raja Balaputradewa dari Swarnadwipa (Sriwijaya) membuat sebuah biara. Prasasti Rajaraja I tahun 1046 Masehi mengisahkan pula, Raja Kataha dan Sriwiyasa Marajayayottunggawarman dari Sriwijaya menghibahkan satu wilayah desa pembangunan biara Cudamaniwarna di kota Nagipattana, India.

Penelitan dari balai arkeologi Palembang, Retno Purwanti, Prasasti Karang Tengah menyebutkan, Damudawardani dan Samaratungga (penguasa Sriwijaya) ikut memberikan sumbangan untuk membangun Candi Borobudur di Jawa Tengah, sekitar abad ke – 8 Masehi. ada juga keterangan tertulis yang menyebutkan Raja Sriwijaya membangun candi Buddha di Thailand.

“Kalau ingin mencari candi bersama peninggalan Sriwijaya, sebaiknya datanglah ke Borobudur atau Thailand. Candi-candi itu berdiri berkat kebijakan atau bantuan dari Raja Sriwijaya,” papar Retno.

Kenapa Raja Sriwijaya tidak mendirikan candi diwilayahnya sendiri, misalnya di Palembang. Menurut Retno, Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang berada di tepian sungai dan hutan lebat Sumatera. Karena tidak terdapat gunung berapi yang menyimpan batu, bangunan peribadatan, istana, dan rumah-rumah penduduk dibuat dari kayu atau bahan batu bata. Akibatnya, bangunan cepat rusak hanyadalam hitungan paling lama 200 tahun. Sebenarnya ada juga struktur bangunan candi di Palembang. Namun, sebagian besar struktur bangunan itu telah hancur atau terkubur dalam tanah, danbelum di gali hingga sekarang.

Di Situs Candi Angsoko, ditemukan struktur bangunan bata pada kedalaman dua meter daripermukaan tanah. Stupa beserta struktur bangunan bata terdapat pula di areal Situs Bukit Siguntang. Situs Gendingsuro juga menyimpan tujuh sisa fondasi bangunan bata dan makara.

“Struktur bata itu kemungkinan bekas candi atau bangunan lain. Hanya saja, peninggalan itu terkubur dalam tanah dan permukaannya telah menjadi perumahan penduduk. Untuk mengungkap kebesaran Sriwijaya, para peneliti harus menggalinya kembali sambil berpacu dengan pesatnya penbangunan Kota Palembang,” tambah Retno.

Kerajaan Sriwijaya runtuh pada tahun 1377 setelah muncul Kerajaan Singasari dan kemudian Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur. Palembang kemudian dikuasai secara berturut-turut oleh para perompak dari China, Kesultanan Palembang Darussalam, dan Pemerintah Kolonial Belanda. Namun, Sriwijaya akan tetap dikenang sebagai kerajaan yang berhasil mengembangkan kekuatan maritim, sosial politik, perdagangan, dan pusat studi agama agama Buddha yang disegani negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada masanya.

“Kebesaran Sriwijaya tidak harus diidentikkan dengan peninggalan fisik yang megah. Tetapi yang terpenting generasi muda hendaknya tetap mengingat Sriwijaya sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara,” tutur Budayawan Palembang, Djohan Hanafiah. (Ilham Khoiri/KOMPAS)

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: