Peta Prasasti dan Arca Sriwijaya.

Oleh: Syamsul Noor Al-Sajidi

Prasasti merupakan sumber sejarah tulisan berupa benda atau artefak yang berbentuk tiga dimensional, seperti batu, logam, kayu, dan lain-lain. Berita mengenai kerajaan Sriwijaya mulai dikenal dan semakin populer sejak ditemukannya beberapa prasasti yang umumnya berasal dari abad ke-7 Masehi.

Menurut arkeolog Bambang Budi Utomo, prasasti-prasasti yang ditemukan di wilayah Sumatra bagian selatan/tenggara berkisar 31 prasasti yang sebagian besar berasal dari masa Sriwijaya. Prasasti yang berasal dari abad k-7 Masehi berjumlah 25 buah. Isinya berkenaan dengan persumpahan dan siddhayatra (perjalanan suci). Sebagian besar prasasti tersebut ditemukan di wilayah Palembang saat ini, yakni 23 buah prasasti, termasuk Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Telaga Batu, dan Boom Baru. Beberapa prasasti itu, antara lain.

Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada akhir 29 November 1920 di kebun pak H. Jahri, tepi sungai Tatang, desa Kedukan Bukit di kaki Bukit Siguntang yang letaknya di sebelah barat daya Palembang, Sumatra Selatan saat ini. Prasasti itu dikenali oleh seorang kontrolir Belanda yang penggemar sejarah, Batenburg, yang kemudian melaporkan penemuan itu ke Dinas Purbakala (Oudheidkundigen Dienst).

Read more of this post

Sungai Saudagar Kocing, Tapak Sejarah Muslim Tionghoa di Palembang.

Oleh: Putra Kurusetra

SUNGAI Saudagar Kocing merupakan anak Sungai Musi yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan muslim dari Tiongkok di Palembang. Sungai ini berada di kampung 3-4 Ulu Palembang.

Read more of this post

Jejak Kecil Abdul Rozak, Sang Pahlawan

a17dbfd2a7dd80d64e2112d8bad5ac6f Oleh: Djohan Hanafiah

SAAT gencatan senjata atau sehari setelah “Perang Lima Hari Lima Malam,” tepatnya 6 Januari 1947, dengan menggunakan perahu, Abdul Rozak beserta keluarga menyusuri Sungai Jeruju, dari rumah Demang Zainuddin Juragan, di kawasan Kenten, Palembang. Di masa kekinian, lokasi rumah tersebut di dekat lapangan golf Kenten.

Saat menyeberangi Sungai Musi, menuju kawasan 10 Ulu, banyak tentara Belanda yang berpatroli di Sungai Musi menggunakan perahu. Laju puluhan perahu tentara Belanda itu, membuat perahu yang ditumpangai Abdul Rozak terombang-ambing oleh ombak seirama detak jantung para penumpangnya. Sesampainya di 10 Ulu mereka dibawa sejumlah pejuang kemerdekaan menggunakan mini bus menuju sebuah rumah warga. Besok siangnya, Abdul Rozak dan keluarganya dibawa ke pelabuhan Boom Marie —kini lokasinya di bawah Jembatan Ampera di Palembang Ilir dan Palembang Ulu.

Saat mau naik kapal Marie bersama mobil sedan BG 424, tiba-tiba Polisi Meliter Belanda (MP) memeriksa mereka. Untungnya, para polisi meliter itu samar-samar mengenali Abdul Rozak yang saat itu menjabat Residen Palembang. Yang diperiksa hanya Trajumas, anak Abdul Rozak. Saat diperiksa polisi meliter Belanda itu, Trajumas menjelaskan dirinya mengantar mobil bersama pemiliknya. Untungnya lagi, para polisi meliter itu percaya dan mereka tidak memeriksa dokumen Trajumas dan orangtuanya. Read more of this post

Keraton Kuto Gawang.

Oleh: DJOHAN HANAFIAH

BANGUNAN pada zaman Sriwijaya sudah rusak dan hilang, barangkali wajar saja, karena dimakan oleh waktu lebih dari seribu tahun. Akan tetapi, bagaimana dengan nasib bangunan pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam pada awal dan pertengahannya? Nasibnya hampir sama. Peninggalan di akhir Kesultanan Palembang (abad ke-19) nyaris hancur atau tidak terpelihara. Pada saat ini hanya Masjid Agung Palembang yang bernasib baik, karena telah direstorasi dan direnovasi. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1757).

Keraton Palembang yang pertama kali dibangun oleh para priyayi yang datang dari Jawa pada abad ke-16, tepatnya dari wilayah Jipang dalam lingkup kekuasaan Kerajaan Demak. Para priyayi ini adalah pengikut Aria Jipang, yaitu Pangeran Penangsang yang tewas dalam perebutan tahta Demak. Dengan tewasnya Pangeran Penangsang, maka para pengikutnya melarikan diri dari wilayah Demak. Pimpinan para priyayi yang hijrah ke Palembang ini adalah Ki Gede Ing Sura. Dari nama dan gelarnya diketahui setidaknya dia adalah seorang sura, yang berarti: seorang gagah berani, bersifat kepahlawanan, laki-laki perkasa. Sedangkan gelar Ki Gede menurut H.J. de Graaf “Ki yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu Senapati, yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis, dan Ki Ageng Pemanahan, dan bukan raden, menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari kalangan rendahan. Akan tetapi, memang benar mereka itu merupakan pemuka-pemuka di daerahnya, terbukti mereka itu mempergunakan predikat ageng atau gede di belakang sebutan ki”. Read more of this post

Sekilas Tentang Mobil “Ketek” Jeep

e926a3ce44fd6938cda43d2cf22ac97d Oleh: A. LATIF

MEMBICARAKAN mobil Jeep kita tidak boleh mengabaikan sejarah Perang Dunia II. Kala itu, untuk menjawab tantangan perang, militer Amerika Serikat dituntut untuk menciptakan sebuah kendaraan perang pengintai yang tangguh segala medan perang.

Ada tiga perusahaan otomotif di Amerika Serikat yang merespon kebutuhan kendaraan buat perang tersebut. Yakni Bantam Car Company, Ford, dan Willys-Overland Motor Company (WOMC).

WOMC sendiri sebelumnya bernama Overland Automotive Division of Standard Wheel Company (OADSWC), berdiri pada 1908. John North Willys kemudian membeli perusahaan ini pada 1912. Alhasil, namanya pun ikut berubah.

Tapi, WOMC bangkrut semasa Depresi Ekonomi terjadi di Amerika pada 1920-an. WOMC kemudian mengalami perubahaan struktur kepemilikan perusahaan. Namanya pun berubah lagi menjadi Willys-Overland Motors, Inc, (WOMI). Perusahaan ini memproduksi mobil Willys untuk kebutuhan masyarakat sipil seperti truk (Willys Overland) dan mobil penumpang. Read more of this post

Babat Jawa “Melemahkan” Palembang

a17dbfd2a7dd80d64e2112d8bad5ac6f Oleh: DJOHAN HANAFIAH

SULTAN Agung dari Mataram adalah tokoh sejarah yang terbesar dalam abadnya. Dia berkuasa pada tahun 1613-1646. Sultan Agung adalah raja Jawa yang berani mengepung Batavia sampai dua kali, yaitu tahun 1628 dan 1629. Meskipun pengepungan itu sendiri gagal, paling tidak sejarah telah mencatat keperkasaan tentara Mataram yang terlalu banyak menjadi korban.

Untuk mempertanggung jawabkan kegagalan pengepungan ini, maka babad yang dibuat oleh penulis istana, yaitu Serat Kendha dan Babad Balai Pustaka menuliskan suatu maaf yang dikemas dengan cerita: Panembahan Purbaya(kakak kandung Sultan Agung) setelah ikut bertempur di Batavia, kembali ke Mataram, melaporkan kepada raja dan menasihatkan agar perang diakhiri saja, “karena orang-orang Belanda hanya datang kemari untuk berdagang.”

Raja memutuskan untuk mengakhiri pengepungan dan disamping itu meramalkan bahwa Belanda kelak akan menolong salah seorang keturunannya yang menderita kekalahan. Selanjutnya menurut babad: Belanda akan menjadi sahabat dan sekutu dan menjaga istana. Read more of this post

Para Janda di Balik Kejayaan Palembang.

b4af507f10f88eaff20677a03727f643 Oleh: DJOHAN HANAFIAH

KERAJAAN Palembang didirikan sekitar tahun 1580-an oleh para ksatria dari kerajaan Demak bersama-sama dengan para penguasa (big men) Melayu di Palembang. Bentuk kerajaan ini pada awalnya sangat dipengaruhi gaya kerajaan Jawa (Demak), dengan budaya pesisir utara Jawa Tengah-an berbatas Jawa Timur. Setelah hampir satu abad keraton Palembang (Kuto Gawang, sekarang situsnya berdiri Pabrik PT Pupuk Sriwijaya), orientasi politik dan kebudayaan mulai berpaling kepada kekuatan internal dan Melayu. Tidak dapat disangkal kalau kebudayaan kerajaan Palembang adalah hasil akulturasi kebudayaan Melayu dan Jawa, yang dikenal sebagai Melayu-Palembang.

Perubahan orientasi ini terjadi setelah keraton Kuto Gawang dibakar habis oleh VOC pada perang Palembang-VOC tahun 1659. Kerajaan Mataram yang mengklaim Palembang sebagai kawulanya ternyata tidak membantu sama sekali akan nasib Palembang, bahkan menyalahkan Palembang kenapa harus berperang dengan VOC. Sakit hati Palembang atas sikap Sultan Agung dari Mataram tersebut, menyebabkan Palembang tidak mengakui lagi “dulur tua”nya sebagai orang yang patut dipanuti.

Palembang mengklaim kerajaannya sebagai satu Kesultanan Islam yang setara dengan Mataram, Banten dan kesultanan lain di Nusantara. Sejak tahun 1666 raja Palembang memakai gelar Sultan, dan para bangsawannya memakai gelar Raden, disamping gelar yang telah ada yaitu Mas Agus, Ki Agus dan Ki Mas(Kemas). Nama kerajaan Palembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam. Kesultanan ini dihapuskan dari peta politik Netherlands Indie tahun 1823, setelah Palembang dikalahkan dengan segala perkasaannya melawan armada laut Belanda yang terbesar pada tahun 1821. Read more of this post