6 January 2012
by Iwan Lemabang

DERAJAT ihsan merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba Allah yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk di dalamnya.
Antara Islam, Iman, dan Ihsan
Suatu ketika Malaikat Jibril ‘Alaihis sallam di majelis Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam da para sahabatnya dalam rupa manusia, kemudian menanyakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam beberapa pertanyaan. Di antara pertanyaannya adalah tentang makna islam, iman dan ihsan. Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Sallam menjawabnya dan dibenarkan oleh Jibril. Berdasarkan hadits ini [1], para ulama membagi agama Islam menjadi tiga tingkatan yaitu islam, iman dan ihsan.
Tingkatan agama yang paling tinggi adalah ihsan, kemudian iman, dan paling rendah adalah islam. Kaum muhsinin (orang-orang yang memiliki sifat ihsan) merupakan hamba pilihan dari hamba-hamba Allah yang shaleh. Oleh sebab itu, sebagian ulama menjelaskan jika ihsan sudah terwujud berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba. Jadi setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap muslim itu mukmin dan tidak setiap itu mencapai derajat muhsin. Pelaku ihsan adalah hamba pilihan dari hamba-hamba Allah yang shaleh. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an disebutkan hak-hak mereka secara khusus tanpa menyebutkan hak yang lainnya.[2]
Read more of this post
Like this:
One blogger likes this post.
Komentar: