Hidup adalah Anugerah Bagi Jiwa yang Ikhlas

<a href="http://palembangjaya.tk/wp-content/uploads/2012/03/Anugerah.jpg" target="_blank">

Yang tinggal di gunung merindukan​ pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan​ gunung.

Di musim kemarau merindukan​ musim hujan.
Di musim hujan merindukan​ musim kemarau.

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam. Read more of this post

Sebuah Komitmen, Senyuman dan Cinta

danbo__s_first_love_

Yang tinggal di gunung merindukan​ pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan​ gunung.

Di musim kemarau merindukan​ musim hujan.
Di musim hujan merindukan​ musim kemarau.

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam. Read more of this post

Ringan Diri Melaksanakan Shalat Jum’at

Bismillah

Hidup memang semakin keras. Setiap kita berkompetisi, berupaya menngejar yang terbaik. Capaian-capaian yang selama ini telah diraih seakan belum cukup. Bekerja menghidupi keluarga adalah kemuliaan bagi setiap muslim yang menjaga harga dirinya daari kemalasan dan kehinaan di mata manusia. Hanya kadar hasilnya saja yag berbeda-beda. Allah SWT mencukupkan rezekki kita masing-masing menurut takaran yang telah Dia tetapkan.

Read more of this post

Kenapa Aku Ditinggalkan?

Bismillah

Pertanyaan ini mungkin akan muncul kalau seandainya Al-Qur’an itu bisaberbicara, dan ini merupakan fakta yang riil (nyata), bagaimana tidak ketika masuk bulan Ramadhan kita bisa saksikan di setiap mmasjid akan mengadakan kegiatan yang namanya tadarusan Al-Qur’an dan itu bisa kita jumpai pada setiap bulan Ramadhan. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh beberapa orang yang menjadi aktivitas di dalamnya akan mengisi keheningan malam. Begitu di beberapa rumah akan terdengar suara orang-orang yang membaca Al-Qur’an, dan itu akanterus berlangsung sampai bualan Ramadhan berakhir. Tapi sangat disayangkan sekali, karena dengan berakhirnya bulan Ramadhan maka berakhir pula kegiatan Membaca Al-Qur’an yang biasa dilakukan di bulan tersebut. Read more of this post

Ghibah (Mengumpat)

BISMILLAH

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebahagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjingkan sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Alla Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Makna Ghibah

Di dalam Al-qur’an kata ghibah disebut sebagai (pengumpat) yakni orang yang menusuk perasaan orang lain, melukai hati meraka dan memburuk-burukkan orang lain. Sedangkan menurut Rasulullah SAW di dalam haditsnya:

“Ghibah ialah apabila engkau menyebutkan perilaku saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai oleh mereka.” (HR. Muslim) Read more of this post

Memberi Makna Kehidupan Menurut Ajaran Islam

taubat

Oleh DR. H. Syukri Muhammad Yusuf, Lc, MA

“Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. (QS. Al – Hadid : 20)

DEMIKIAN ilustrasi Al-Qur’an dalam menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga dan berlomba dalam kekayaan, anak keturunan dan lain sebagainya. Kemudian mengumpamakan itu semua dengan tanam-tanaman yang pada awalnya mengagumkan petani kemudian menjadi kering dan hancur. Di ujung ayat ditutup dengan ungkapan “kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. Satu hal yang paling menakutkan adalah ayat ini disertai dengan ancaman bahwa di akhirat kelak ada azab yang keras, meskipun ada ampunan dan keridhaan Allah. Read more of this post

Meraih Derajat Ihsan

DERAJAT ihsan merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba Allah yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk di dalamnya.

Antara Islam, Iman, dan Ihsan
Suatu ketika Malaikat Jibril ‘Alaihis sallam di majelis Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam da para sahabatnya dalam rupa manusia, kemudian menanyakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam beberapa pertanyaan. Di antara pertanyaannya adalah tentang makna islam, iman dan ihsan. Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Sallam menjawabnya dan dibenarkan oleh Jibril. Berdasarkan hadits ini [1], para ulama membagi agama Islam menjadi tiga tingkatan yaitu islam, iman dan ihsan.

Tingkatan agama yang paling tinggi adalah ihsan, kemudian iman, dan paling rendah adalah islam. Kaum muhsinin (orang-orang yang memiliki sifat ihsan) merupakan hamba pilihan dari hamba-hamba Allah yang shaleh. Oleh sebab itu, sebagian ulama menjelaskan jika ihsan sudah terwujud berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba. Jadi setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap muslim itu mukmin dan tidak setiap itu mencapai derajat muhsin. Pelaku ihsan adalah hamba pilihan dari hamba-hamba Allah yang shaleh. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an disebutkan hak-hak mereka secara khusus tanpa menyebutkan hak yang lainnya.[2]

Read more of this post