Saat Tidur, Juni Tertimpa Kusen
18 February 2012 3 Comments
Ilustrasi
Kisah Tragedi Juni Saputra, Korban Puting Beliung
RUMAH panggung milik Naim, orangtua almarhum berukuran 10×15 meter yang berbentuk panggung kini rata dengan tanah akibat puting beliung. tak hanya rumah Naim, 21 rumah lainnya di Dusun I Desa Beringin Dalam juga rusak.
Peristiwa puting beliung membawa duka mendalam bagi keluarga Naim. Saat kejadian, satu dariempat anaknya harus menghadap Sang Khalik. Juni Saputra yang duduk di bangku kelas IV SDN Beringin Dalam tewas dalam bencana alam ini
Mirisnya saat kejadian, korban dan ketiga saudaranya masing-masing Jimi (12), Iis Dahliaa (8), dan Nata (4) sang adik bungsu tertidur pulas di kamar. Sudah tiga tahun ini korban dan saudaranya menetap di rumah orang tuanya lantaran Naim menikah karena Yati Octavia, ibu korbang meninggal lima tahun lalu.
Suhardi (27), tetangga korban menututurkan saat puting beliung sekitar pukul 21.00 WIB menyerang rumah korban, dirinya terjaga. “Saat itu saya mendengar suara bergemuruh seperti pesawat akan mendarat. Saya melihat keluar, rumah Naim sudah roboh,” cerita Suhardi.
Suhardi yang akrab dengan korban, langsung menuju rumah korban. Dia langsung menyelamatkan korban Iis Dahlia dan Nata yang terlihat olehnya. Sedangkan korban Juni dan Jimi tak terlihat. Lalu Suhardi memanggil Hendra (30) dan tetangga lainnya. Sementara warga lainnya memberitahukan bencana puting beliung pada Naim yang tinggal di rumah Lidok, istri keduanya.
Upaya pencarian terhadap korban Juni dilakukan dengan disaksikan oleh sang ayah. Sekitar 30 menit kemudian, tubuh Juni terlihat tertelungkup tertimpa kusen rumah. Hendra yang pertam kali menggotong korban. “Saat saya angkat, napas Juni masih ada. Namun dia meninggal dalam perjalanan ke ruumah bidan desa,” cerita Hendra.
Suhardi menambahkan dalam keseharian, Juni dikenal sebagai anak yang baik dan tak pernah bikin ulah. “Anak-anak kecil yang main itu adalah teman korban,” ujar Suhardi sembari menunjuk ke arah kerumunan anak kecil yang bermain di reruntuhan rumah korban.
Jimi yang dibincangi di rumah ibu tirinya menjelaskan saat kejadian, dia dan adik-adiknya sedang tertidur pulas. Posisi tubuh Juni tidur di sebelah kiri. Dia tidak mengetahuiapa yang terjadi. “Saat rumah roboh, kami jatuh bersamaan dengan dinding yang roboh ke bawah,” jelas Jimi polos.
Jimi sama sekali tidak punya firasat adiknya akan pergi selamanya. “Firasat nyata atau tidak nyata tidak ada,” ujarnya.
Jimi menambahkan, sejak ibunya meninggal empat tahun lalu dan sang ayah menikah lagi, diadan adik-adiknya menempati rumah orang tuanya. Sebagai anak paling tua, dia mengajak adik-adiknya untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya. “Kami tinggal berempat sejak tiga tahun lalu,” pungkasnya. (*/ce2)
Sumatera Ekspres, Jumat, 17 Februari 2012









Ai serem nian ye mang…
namonyo musibah, Mang… kito cuma biso pasrah dengan yang di-Pucuk, Mang
Innalillahiwainnailaihiroji’uun…
Semoga Almarhum diterima disisi-Nya ya Mas.
Dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.