Ekonomi Sumsel Diperkirakan Growth 5,9 Persen
15 December 2011 Leave a comment
PALEMBANG – Pertumbuhan ekonomi Sumsel diperkirakan sebesar 5,9 persen pada tahun ini, sementara Bangka Belitung 6,6 persen. “Walau kondisi ekonomi global masih tidak menentu dengan adanya krisis utang eropa, beberapa indikator menunjukan bahwa Sumsel Babel berkinerja cukup baik,” kata Didy Laksmono Rahadi kepada Wartawan usai pertemuan tahunan perbankan Sumsel dan Kep. Babel di Hotel Aryaduta Palembang, kemarin.
Secara nasional, pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai 6,5 persen didukung oleh pertumbuhan ekspor dan investasi yang tinggi. Namun bayang-bayang resesi global mulai menghantui pertumbuhan perekonomian tahun depan. Pasalnya, permintaan ekspor bisa melemah. Makanya pertumbuhan ekonomi potensial, lanjut Didy, harus ditopang dengan peningkatan akumulasi kapital dan produktivitas.
“Tahun depan bisa tumbuh 7 persen dengan catatan investasi tumbuh minimal 12 persen setiap tahun,” ulas dia. Investasi harus didukung pula infrastruktur yang memadai. Jika semua siap, ketersediaan pembiayaan menjadi kunci. Oleh karena itu perbankan diperlukan untuk membiayai pembangunan.
Menurut Didy, selama tahun 2011 fungsi intermediasi perbankan sudah berjalan sesuai harapan. “Ditunjukan dengan pertumbuhan kredit per Oktober 25,7 persen, LDR meningkat dari 75,5 persen pada 2010 menjadi 81,4 persen per Oktober,” imbuhnya lagi. Yang mengembirakan kinerja perbankan Sumsel Babel seperti aset, DPK, kredit, dan LDR melampaui nasional.
Namun, lanjut Didy, perbankan harus berbenah. “Perbankan kita profitable, prudent, tapi tidak efisien,” tukasnya. Untuk bisa bersaing menghadapi tantangan di wilayah ASEAN, utamanya menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, perbankan perlu menekan tingkat suku bunga.
Perbankan di ASEAN seperti Malaysia dan Filipina menetapkan suku bunga kredit yang jauh lebih murah di kisaran 6,5 persen dan 5,7 persen. “Perbankan kita di level 12 persen,” jelasnya. Jika perbankan Indonesia tidak efisien akan kalah di tingkat ASEAN.
Adang Joedianto, Kakanwil II Bank Mandiri meyakini tahun depan akan terjadi perlambatan pertumbuhan. Ini karena beberapa komoditas merupakan komoditi ekspor. Krisis global akan menekan laju permintaan ekspor. Solusinya meningkatkan pertumbuhan investasi. “Walau demikian ekonomi tetap growth (tumbuh, red) tinggi di atas 6,3 persen,” tuturnya.
“Pertumbuhan ekonomi mengambarkan bisnis perbankan. Kalau tumbuhnya 6,3 persen, maka kredit perbankan akan tumbuh 25 persen,” tuturnya. Penurunan BI rate ke level 6,0 persen, kata Didy, punya andil positif menggerakan perekonomian. Diharapkan pula bank lebih efisien dengan menurunkan tingkat suku bunga. “Kita sudah merespon penurunan BI rate, sejak November suku bunga dasar kami turunkan 0,5 persen,” tandas dia. (mg29)
Sumatera Ekspres, Rabu, 14 Desember 2011









Komentar: