Sopir Angkutan Umum Minta Tarif Baru
13 December 2011 1 Comment

SEPI : Naiknya tarif BRT sejak kemarin, membuat masyarakat enggan menaiki kendaraanmilik Pemkot Palembang tersebut. Tampak salah satu halte transit di simpang Polda yang ditempeli pengumuman kenaikan tarif.
PALEMBANG -– Sejumlah sopir angkutan umum berencana mengusulkan kenaikan tarif angkutan kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang. Keinginan tersebut, imbas dari naiknya tarif Bus Rapid Transmusi (BRT) menjadi Rp4 ribu sejak kemarin (12/12).
“Kita juga baru tahu naiknya tarif BRT dari penumpang. Kalau mereka naik setidaknya tarif kita juga bisa naik,” ujar Adi didampingi Azis, sopir angkot Way Hitam-Talang Betutu, kemarin.
Sopir yang mengendarai kendaraan bernomor lambung 055 itu menambahkan, tarif yang dikenakan pada penumpang saat ini Rp2 ribu-Rp2.500. Bila dibandingkan dengan BRT, tarif angkot yang dikenakan saat ini jauh berbeda. Sebelumnya, tarif hanya terpaut Rp500-1.000 karena BRT hanya Rp3 ribu. Sedangkan saat ini, perbedaan tarif tersebut mencapai Rp1.500-Rp2.000.
“Kita mau saja naikkan harga, tapi kita juga takut izin dicabut oleh Dishub. Yang jelas nanti koordinasi dengan teman yang lain dan Dishub Palembang,” ungkapnya. Ia mengaku, kenaikan tarif oleh angkot dan bus kota sudah dianggap wajar. Sebab, harga ini sudah tak memungkinkan lagi dengan persaingan yang terjadi sekarang.
“Setidaknya, tarif kita dipatok Rp2.500 saja, sudah jadilah (cukup, red). Tapi, kenyataannya banyak yang bayar Rp2 ribu,” ungkapnya. Menurutnya, tarif Rp2.500 sudah ideal buat mereka. Dengan tarif tersebut, mereka bisa menyisihkan sedikit untuk simpanan.
“Tapi, ini juga harus dipukul rata oleh semua sopir. Jangan hanya kita saja nanti malah nggak ada yang mau naik,” tambahnya. Terkait naiknya tarif BRT tersebut, pihaknya belum merasakan imbas tambahan penumpang. “Masih normal, belum ada kenaikan penumpang. Ini saja masih sepi sekarang,” ungkapnya.
Koran ini juga berbincang dengan salah satu sopir bus kota jurusan Plaju-Lemabang. Menurutnya, kenaikan tarif yang dilakukan BRT memang sedikit memengaruhi jumlah penumpang. “Agak banyak penumpang kita, mungkin karena orang lebih pilih naik bus kota ketimbang BRT,” bebernya tanpa mau menyebutkan nama.
Bertambahnya jumlah penumpang, baru terjadi pada siang hari. Kemungkinan, pada pagi harinya banyak warga yang belum tahu kenaikan harga BRT. “Baru siang inilah yang ramai, kalau pagi tadi nggak seberapa,” ungkapnya.
Terkait menaikkan tarif kepada penumpang, ia mengaku tak berani tanpa koordinasi dengan yang lainnya. Namun, bisa saja pihaknya mengusulkan kenaikan tarif karena BRT juga menaikkan harga. “Bisa saja mas kami naikkan, tapi harus kompak dengan yang lainnya,” tukasnya.
Wali Kota Palembang, Ir H Eddy Santana Putra MT menjelaskan, kenaikan tarif ini sudah ditandatangni pihaknya. Pertimbangan kenaikan tersebut, agar BRT tak merugi terus setiap bulannya. Untuk diketahui, setiap bulan BRT selalu defisit hingga Rp400 juta.
Pemasukan yang didapatkan PT SP2J (Sarana Pembangunan Palembang Jaya) mencapai Rp1,9 M per bulan, sedangkan biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp1,9 M. Pengeluarannya digunakan untuk pembayaran gaji kepada 490 pegawai yang mencapai Rp600 juta per bulan. Kemudian untuk perawatan sekitar Rp50-Rp100 juta per bulan, bahan bakar sekitar Rp60 juta per bulan dan angsuran kredit pembelian 60 unit BRT dari total 85 bus yang ada saat ini.
“Dengan kenaikan ini, kita harapkan tak merugi lagi. Jangan disubsidi terus,” ungkapnya. Eddy meminta kepada Dishub Palembang dan PT SP2J untuk mempercepat penggunaan smart card bagi penumpang BRT. “Harus Desember ini sudah bisa digunakan,” jelasnya.
Kenaikan tarif BRT ini, katanya, tak memberatkan sejumlah penumpang. Pasalnya, kenaikannya hanya Rp1.000. “Nggak berat, malah ada angkutan masal yang sama sudah menerapkan Rp5 ribu di kota lain,” katanya. Ia menilai, meski angkutan sejenis di Jakarta lebih murah karena hanya Rp3.500, namun total dengan subsidi yang diberikan mencapai Rp7 ribu.
“Kalau kita cukuplah Rp4 ribu ini,” katanya. Menurutnya, setelah bisa menutupi biaya operasional karena sudah menaikkan harga, target tahun berikutnya adalah penambahan 80 bus dari target yang hanya 60 BRT.
“Ada dana hibah separuh untuk pembelian mobil baru, sekitar 60 persen atau Rp50 M dari APBD Perubahan 2011. Sisanya biar mereka cari sendiri,” ungkapnya. Untuk jenis kendaraannya, ia belum mengetahui. Termasuk merek yang akan digunakan nantinya. (mg44)
Sumatera Ekspres, Selasa, 13 Desember 2011








Follow blog’ku ya, ntar pasti aku follback http://andiweb3.wordpress.com