50 Pasang Pengantin Nikah Massal
9 December 2011 Leave a comment

DI ARAK : Lima puluh pasang pengantin diarak usai melakukan akad nikah di Masjid Alfatul Akbar melewati Jembatan Ampera menuju BKB (Benteng Kuto Besak) Palembang, kemarin.
PALEMBANG – Pelataran Plaza Benteng Kuto Besak (BKB) tampak berbeda dari biasanya, siang kemarin (8/12). Sejumlah pasangan pengantin memadati kawasan tersebut. Jumlahnya tak sedikit, mencapai 50 pasang.
“Meskipun sudah 20 tahun menikah, namun baru resmi sekarang diakui pemerintah. Alhamdulillah ada nikah massal ini,” kata seorang pengantin pria didampingi istrinya yang mengenakan busana khas pengantin Palembang.
Namun, dalam kegiatan nikah massal yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang ini, tak hanya kaum muda. Banyak juga di antaranya yang terlihat seperti kakek-kakek dan nenek-nenek. Pelaksanaan kegiatan di BKB tersebut, bisa dikatakan sebagai acara resepsi pernikahan mereka setelah sebelumnya melaksanakan akad nikah di Masjid Alfatul Akbar.
Usai akad nikah paginya, mereka kemudian di arak menggunakan becak hias diiringi Bujang Gadis Palembang (BGP) dan tanjidor. Di sela-sela kegiatan tersebut, koran ini berbincang dengan pasangan pengantin yang tertua. Melihat dari fisik dan wajahnya, usianya diperkirakan lebih dari 50 tahun.
“Usia saya 64 dan istri 63 tahun,” ujar Abu Hasan, suami dari Mariam yang mengikuti program nikah massal tersebut. Ia mengaku, sudah melangsungkan pernikahan di bawah tangan dengan istrinya, pada 2006 lalu. Saat itu, pernikahannya disaksikan oleh P3N dan ketua RT tempatnya tinggal.
“Tapi, surat nikahnya sudah hilang karena sering pindah-pindah rumah,” ungkapnya. Nah, adanya program nikah massal ini diakuinya sangat membantu karena ia tak mampu melangsungkan pernikahan secara resmi. Kendalanya, karena biaya yang harus dikeluarkan cukup besar.
“Sekarang sudah nggak kerja lagi karena tua, kalau dulu buruh bangunan. Biasanya dapat Rp50-Rp60 ribu perhari, tapi nggak rutin,” katanya. Saat ini, ia hanya bisa mengandalkan pemberian dari anak-anaknya yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan dan tukang becak.
Abu Hasan sendiri, memiliki 6 anak dan 2 cucu. Pernikahannya ini, merupakan yang kedua baginya. Sebelumnya, ia memiliki istri bernama Inuh namun meninggal pada 1995 lalu. Sementara Mariam, juga merupakan pernikahan keduanya setelah sebelumnya ditinggal suaminya Latif karena meninggal pada 1991 lalu.
“Jadi, kita duda dan janda,” ungkapnya. Mariam sendiri, sempat memiliki satu anak di pernikahannya yang pertama. Hanya, meninggal pada usia 2,5 tahun. Di pernikahannya kali ini, ia tak mendapat penolakan dari anak-anaknya. Bahkan, mereka setuju.
“Anak-anak setuju, karena ada yang merawat bapaknya. Karena sudah tua, jadi kalau ada yang sakit kita saling merawat saja,” bebernya. Pertemuan keduanya, terjadi saat 2006 lalu. Meski sedusun (sama-sama dari Sekayu, red), keduanya jarang bertemu di Palembang karena memiliki rutinitas masing-masing.
“Kita teman kecil dulu,” ungkapnya. Saat bertanya-tanya kabar dan mengetahui status keduanya, pasangan ini kemudian mengambil jalan pintas. Hanya dalam waktu seminggu, keduanya melaksanakan ijab kabul. “Kita sama-sama mau, mungkin juga karena jodoh makanya disatukan,” ungkapnya.
Mariam sendiri, sebelum dinikahi hanya seorang pegawai kerupuk di Lebak Keranji Gandus. Ia menumpang di rumah temannya yang juga pekerja sebagai pembuat kerupuk. Masih katanya, setelah menikah beberapa tahun lalu, ia mengaku tak mengharapkan anak dari pernikahan keduanya ini.
“Mungkin mesinnya sudah rusak, jadi belum berpikir mau punya anak,” katanya sembari tertawa. Kepala Bagian Sosial dan kemasyarakatan (Kabag Sosmas) Pemkot Palembang, Eka Juarsa mengatakan, jumlah pasangan yang ikut dalam nikah massal tersebut sebanyak 100 orang atau 50 pasang. Mereka, berasal dari 16 kecamatan yang tersebar di Metropolis.
“Terpaksa dibatasi pesertanya, karena menyesuaikan dengan APBD Kota Palembang dan bantuan dari pihak lain. Dari 167 pasang yang mendaftar, hanya mampu membiayai 50 pasang saja,” ungkapnya.
Beberapa sponsor yang ikut membantu dalam pelaksanaan tersebut seperti Pegadaian, Bank SumselBabel, Bank Syariah Mandiri, Jamsostek, PT Angkasa Pura, Hotel Jayakarta Daira dan sebagainya.
Dari para sponsor tersebut, juga diberikan doorprize kepada pasangan pengantin. Seperti dari Bank Syariah Mandiri yang memberikan Rp1 juta setiap pasangan pengantin. Kemudian Hotel Jayarakta Daira memberikan kamar kepada 5 pengantin lewat undian dan hadiah lainnya kepada pengantin di nikah massal tersebut. (mg44)
Sumatera Ekspres, Jumat, 9 Desember 2011








Komentar: