Ditemukan, Planet Layak Huni Manusia
6 December 2011 Leave a comment
CALIFORNIA — Wahana antariksa Kepler kembali membuat kejutan. NASA mengumumkan pada Senin (5/12/2011) bahwa salah satu dari 2.326 kandidat planet temuan Kepler telah dikonfirmasi sebagai planet layak huni.
“Ini penemuan yang fenomenal. Ini membuktikan bahwa Homo sapiens semakin dekat dengan pencapaian kita di semesta untuk menemukan planet yang mengingatkan kita akan rumah. Kita hampir di sana,” kata Geoff Marcy, peneliti dari University of California, Berkeley, seperti dikutip AP, Selasa (6/12/2011).
Planet yang dikonfirmasi layak huni tersebut bernama Kepler 22b. Planet itu mengorbit bintang serupa Matahari bernama Kepler 22 dan berjarak 600 tahun cahaya dari Bumi.
Kepler 22b memiliki beberapa kesamaan dengan Bumi. Bumi mengelilingi Matahari selama 365 hari, sedangkan Kepler 22b mengelilingi bintang induknya dalam waktu 290 hari. Cuma beda tipis.
Temperatur Bumi dan Kepler 22b pun tak berbeda jauh. Disebutkan bahwa jika efek rumah kaca bekerja di Kepler 22b, maka temperatur di planet itu sekitar 22 derajat celsius.
Perbedaan dijumpai pada ukurannya. Kepler 22b berukuran 2,4 kali lebih besar daripada Bumi.
Sementara massanya belum diketahui sehingga sulit dipastikan apakah Kepler 22b merupakan planet batuan atau gas raksasa. Jika merupakan planet gas, maka tentu sulit bagi manusia untuk hidup di sana.
Meski dikonfirmasi layak huni, masih sulit bagi manusia untuk pergi ke Kepler 22b. Satu tahun cahaya setara dengan 9,65 triliun kilometer. Butuh waktu 22 juta tahun untuk ke sana dengan teknologi yang ada sekarang. Teknologi-lah yang nanti akan menjawab apakah pergi ke Kepler 22b akan menjadi mimpi atau kenyataan.
Selain penemuan Kepler 22b, NASA juga mengumumkan bahwa kini Kepler telah memiliki 2.326 kandidat planet layak huni. Jumlah ini bertambah 1.094 dari pengumuman pada bulan Februari 2011 lalu yang menyatakan bahwa ada 1.235 kandidat planet layak huni.
Dari jumlah 2.326 kandidat planet, 207 di antaranya memiliki ukuran setara Bumi. Sementara 680 lainnya lebih besar dari Bumi. Jumlah planet yang ada di Zona Layak Huni sendiri ada 48 buah. Masih dibutuhkan penelitian untuk mengonfirmasi apakah sekian planet-planet tersebut layak huni.
Editor : Soegeng Haryadi
Sumber : Kompas.com
Sriwijaya Post – Selasa, 6 Desember 2011 12:23 WIB
PARIS — Para astronom menemukan dua lubang hitam terbesar yang pernah teramati, masing-masing dengan massa milyaran kali lebih besar daripada Matahari.
Menurut penelitian yang diterbitkan Senin di jurnal ilmiah Nature, kedua lubang hitam raksasa itu terletak di pusat sepasang galaksi yang berjarak ratusan juta tahun cahaya dari Bumi.
Masing-masing dari lubang hitam itu diperkirakan memiliki massa sekitar 10 milyar kali lebih besar daripada Matahari, sehingga mengerdilkan lubang hitam sebelumnya yang diketahui sebagai paling besar, yang memiliki massa 6,3 milyar lebih besar daripada Matahari.
Tim Berkeley Universitas California yang dipimpin oleh Nicholas McConnell dan Chung-Pei Ma mengatakan, satu lubang hitam terletak di NGC 3842, yang paling terang di sebuah rumpun galaksi yang berjarak sekitar 320 juta tahun cahaya dari Bumi.
Lubang hitam kedua memiliki “massa yang sebanding atau lebih besar” dan terletak di NGC 4889, galaksi paling terang di rumpun Coma, dan berjarak sekitar 335 juta tahun cahaya.
“Kedua lubang hitam ini jauh lebih masif daripada yang diperkirakan,” tulis para astronom itu.
Mereka mengatakan, kalkulasi menunjukkan bahwa proses evolusi yang berbeda lebih cenderung mempengaruhi pertumbuhan galaksi terbesar dan lubang hitam mereka ketimbang pada galaksi yang lebih kecil.
Para astronom telah lama menduga bahwa sejak alam semesta terlahir, ada lubang-lubang hitam dengan massa besar seukuran kedua temuan baru itu.
Penelan-penelan kosmik ini tumbuh secara beriringan dengan galaksi-galaksi mereka, memangsa gas, planet dan bintang di sekitarnya.
“Ada hubungan simbiosis antara lubang hitam dan galaksi mereka yang telah ada sejak permulaan waktu,” kata Kevin Schawinski, seorang astronom Yale, dalam penelitian Juni.
Editor : Soegeng Haryadi
Sumber : Antara
Sriwijaya Post – Selasa, 6 Desember 2011 10:36 WIB
![]()

Citra hasil simulasi yang bakal terlihat di sekitar lubang hitam saat cahaya dibelokkan akibat tersedot gravitasi sangat kuat.
Kosmolog asal Rusia, Vyacheslav Dokuchaev, berpendapat bahwa kehidupan bisa saja terdapat di lubang hitam supermasif. Menurutnya, dalam lubang hitam supermasif sebenarnya terdapat kondisi yang mendukung kehidupan. Makhluk yang hidup dalam lubang hitam akan berevolusi menjadi makhluk yang paling maju di semesta.
Tentu saja pendapat Dokuchaev ini mencengangkan. Pasalnya, hingga sejauh ini, ilmuwan hanya memprediksikan bahwa kehidupan terdapat di Mars dan planet ekstrasurya, dan itu pun belum terbukti. Di samping itu, diyakini bahwa lubang hitam memiliki gravitasi kuat yang mampu menyedot apa pun ke dalamnya. Rasanya tidak mungkin ada kehidupan di sana.
Namun, Dokuchaev menjelaskan bahwa ada bukti kemungkinan kehidupan di lubang hitam dalam jurnal arXiv Cornell University, AS. Ia mengatakan bahwa di dalam lubang hitam ada sebuah wilayah di mana foton bisa tetap ada dalam orbit periodik yang stabil. Menurutnya, jika ada foton yang bisa ‘selamat’, maka sangat mungkin ada planet yang juga eksis.
Orbit stabil itu hanya terdapat setelah melewati horizon peristiwa, mulut dari lubang hitam, di mana tak ada keteraturan ruang dan waktu. Melampaui horizon peristiwa, terdapat horizon Cauchy di mana ruang dan waktu kembali stabil. Di horizon itulah, menurut Dokuchaev, kehidupan terdapat.
Seperti dikutip Daily Mail, Jumat (7/10.2011), Dokuchaev mengatakan, “Ruang dalam lubang hitam supermasif dihuni oleh peradaban yang sangat maju, tak terlihat dari luar.” Ia mengatakan bahwa kehidupan yang ada sudah tergolong Type III dalam skala Kardashev, jauh dari manusia yang ada pada Type I.
Skala Kardashev adalah sebuah skala yang dikembangkan oleh astronom Rusia, Nikolai Kardashev, untuk mengukur kemajuan sebuah peradaban secara astronomi. Type I ialah peradaban yang mampu memanfaatkan potensi planet yang dihuni, Type II adalah peradaban yang mampu memanfaatkan potensi tata suryanya, dan Type III bisa memanfaatkan potensi galaksinya.
Betapapun hebatnya argumen Dokuchaev, hal itu sulit untuk dibuktikan. Kita mungkin tak akan tahu apakah pendapat Dokuchaev benar atau salah sebab mengobservasi lubang hitam dan interiornya masih merupakan tantangan besar saat ini. Mungkin, pendapat Dokuchaev hanya akan bertahan sebagai teori. (Daily Mail)
Editor : Soegeng Haryadi
Sumber : Kompas.com
Sriwijaya Post – Senin, 10 Oktober 2011 13:48 WIB










Komentar: