Semua Serba Pas



Banyak perempuan tangguh metropolis yang berhasil mewujudkan mimpi mereka. Di antaranya, tiga profesor muda ini, Prof Dr Ir Erika Buchari MSc, Prof Dr Siti Herlinda MSi, dan Prof Dr Ir Nuni Gofar MS. Bagaimana kiat mereka menjadi sukses seperti sekarang? Berikut wawancara wartawan Sumatera Ekspres, Martha Hendratmo, Ramadian Evrin, kemarin.

Kapan meraih gelar profesor?
Erika: Belum setahun. Tepatnya 3 Maret 2011 lalu
Herlinda : 1 September 2007 lalu
Nuni : Saat usia 45 tahun, yakni 1 Desember 2009 lalu

Profesor bidang apa?
Erika: Ttransportasi, pada Fakultas Teknik Unsri
Herlinda: Fakultas Pertanian. Tepatnya Program Magister Ilmu Tanaman, Program Ilmu Lingkungan, Program Doktor Ilmu Pertanian
Nuni: Pertanian, Jurusan Tanah

Judul orasi ilmiah saat pengukuhan?
Erika: Saya ambil judul ”Peran transportasi multimoda dalam peningkatan pelayanan transportasi”
Herlinda: Pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama tanaman
Nuni: Wah, sudah tidak ingat lagi. Tapi tentang pertanian organik

Lama nggak raih sebutan profesornya?
Erika: Cukup lama, lebih dari satu tahun. Mulainya sejak 2009. Karena badan terkait usulan gelar profesor saat itu sedang sibuk, proses dari TPAK (tim penilai angka kredit) ke rapat senat membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Setelahnya baru ke Universitas dan kemudian dikirim ke Jakarta pada Oktober 2010, sehingga penetapannya keluar dan pengukuhan Maret 12 Januari 2011 lalu.
Herlinda: Sejak 2005 sebenarnya sudah bersiap, tapi baru 2007 keluar penetapan.
Nuni: Untuk memperoleh gelar guru besar tidak ada sekolah. Tidak selama sekolah, tapi memang ada proses

Apa sih sarat untuk mendapatkan gelar kehormatan ini?
Erika: Pertama harus bergelar Doktor. Lalu dalam bidang penelitian mengantongi angka kum (kumulatif) minimum 850. Tak hanya penelitian, tapi juga tetap mengajar dan pengabdian masyarakat. Tapi memang penilaian terbesar pada penelitian
Herlinda: Syarat pertama harus penilaian integritas oleh senat Unsri. Kemudian harus sudah Doktor, ada publikasi jurnal nasional dan internasional, menulis buku dan mengajar S1-S3. Secara moral harus punya kesatuan kejujuran dan tanggung jawab
Nuni: Sama. Intinya melaksanakan Tridharma perguruan tinggi yakni mengajar, meneliti dan mengabdi dan itu dinilai. Jika menurut senat guru besar hasil penilaian layak, maka baru diajukan untuk mendapatkan gelar guru besar ke Kemendikbud

Di Unsri, Anda profesor ke berapa?
Erika : Waktu pengukuhan, saya profesor ke-58. Namun, dua kemudian pensiun sehingga naik jadi profesor ke-56.Tapi saat ini kalau tidak salah sudah nambah dua profesor lagi
Herlinda : Saat pengukuhan dulu, mungkin yang ke 40-an, tidak terlalu ingat lagi
Nuni : Wah, tidak ingat pastinya. Tapi seingat saya sekarang di Unsri ada sekitar 58 guru besar

Pernah ada yang meragukan kemampuan akademik Anda?
Erika: Alhamdulillah belum pernah ada. Saya sudah terjun ke masyarakat sejak 1990. Sudah banyak yang dilakukan dan mendapatkan gelar profesor ini di usia yang memang tidak muda lagi
Herlinda: Pernah. Untuk gelar profesor ini ’kan harus banyak menulis ilmiah dan melakukan riset. Saat itu, usia saya baru 39 tahun, belum berjilbab. Rata-rata guru besar lain usianya 50 tahun. Mungkin aura guru besar belum terlihat sehingga banyak mahasiswa baru yang menganggap saya ini juga mahasiswa. Setelah masuk ke kelas, ternyata saya berdiri di depan mereka. Mungkin, bayangan mereka seorang guru besar berkacamata, rambut tipis, tua dan itu tidak ada pada saya.
Nuni : Tidak pernah. Teman-teman juga tahu kalau apa yang saya kerjakan pasti dengan sungguh-sungguh

Di keluarga Anda ada yang profesor?
Erika: Ada, suami saya Prof Dr H Hasan Basri
Herlinda: Suami saya, Prof Dr Ir H Hasbi MSi. Beliau menjadi dosen di Program Agribisnis dan Agro Industri dan S3 Ilmu Pertanian Unsri
Nuni: Ada, Kakak perempuan saya juga professor. Saat ini dia dosen Fakultas Teknik pada salah satu universitas di Malaysia

Terjun ke dunia pendidikan murni karena keinginan?
Erika: Memang ini impian sejak kecil, tepatnya waktu itu usia 11 tahun. Saya punya teman, nah kakeknya seorang profesor. Lalu saya bilang ingin jadi profesor juga. Tapi, enam tahun sejak 1990-1996 sempat vakum. Kemudian kembali ke track yang benar hingga berhasil meraih gelar profesor ini
Herlinda: Cita-cita memang ingin jadi pengajar dan dosen. Empat saudara perempuan saya semuanya jadi guru. Saya memang senang ngajar, kerjaannya tenang karena bisa bantu orang dan tidak sampai malam. Ada kepuasan tersendiri saat membagi ilmu kita dengan mahasiswa, terlebih bila mereka bisa sukses dan berhasil. Rasanya bangga
Nuni: Bukan cita-cita dari kecil sih. Dulu waktu kuliah ada tawaran beasiswa tunjangan ikatan dinas (TID). Siapa yang dapat (beasiswa) harus menjadi tenaga pendidik atau dosen. Waktu itu, kebetulan saya dapat beasiswa sejak duduk di semester III jurusan tanah, Fakultas Pertanian Unsri. Meski begitu, hingga sekarang tidak pernah berfikir untuk loncat ke pekerjaan lain

Selain Unsri, apa profesi Anda yang lain?
Erika: Sebagai staf ahli Gubernur bidang transportasi. Selebihnya, menjalankan amanah sebagai seorang ahli di bidang transportasi
Herlinda: Hanya di Unsri
Nuni: Di Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) sebagai reviewer program kreatifitas mahasiswa yakni aksesor BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) dari Jakarta

Organisasi apa saja yang masih diikuti?
Erika : Ada beberapa. Tapi yang bisa dikatakan aktif sekarang di Forum Studi Transportasi Antar Perguruan Tinggi (FSTAPT). Di organisasi ini sudah 14 tahun, termasuk salah satu pendiri. Lalu di Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
Herlinda : Saya Ketua Dharma Wanita Unit Dinas Pertanian dan Peternakan Muba, Sekretaris Dewan Riset Nasional Pemprov Sumsel. Di tingkat nasional, saya Anggota Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISMI) dan Anggota Dewan Riset Nasional
Nuni : Hanya ikut Ikatan Sarjana Wanita Indonesia wilayah Sumsel

Apa betul seorang profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku dan karya ilmiah?
Erika : Memang betul. Kalau buku saya yang sudah cetak ada satu. Judulnya “Mengapa transportasi masih jadi beban”, dicetak 2008. Dua lainnya selesai ditulis, tapi belum cetak. Yakni “Mengapa begitu sulit membangun pelabuhan” dan “ Transportasi sebagai sumber penghasilan suatu daerah”. Kalau karya ilmiah sudah puluhan, semuanya ditulis saat ada waktu senggang
Herlinda : Ya, kalau jurnal ilmiah ada sekitar 30-an buku, baik internasional maupun nasional. Selain itu, juga harus mengikuti seminar nasional dan internasional. Saya sudah ikuti sekitar 20-an lebih.
Nuni : Benar. Kalau buku kebetulan baru satu yaitu tentang biologi tanah. Sedangkan jurnal jumlahnya mungkin sudah puluhan. Pastinya tidak ingat persis, yang jelas fokus tentang pertanian organik

Sudah berapa calon Doktor yang anda bimbing?
Erika : Nah itu dia, di Unsri belum ada S3 bidang transportasi. Hingga sekarang saya baru bimbing satu orang, mantan Kadishub Palembang pak Edi Nursalam. Yang ada malah justru dari luar Sumsel, seperti India
Herlinda : Sekitar 10 orang. Yang sudah jadi Doktor 2 orang dan 8 orang di antaranya belum
Nuni : Kalau yang sudah lulus baru seorang, tapi yang sedang bimbingan ada lebih dari 2 orang lagi. Arah penelitiannya juga tentang pupuk organik

Aktif mengajar?
Erika : Oh iya dong. Kita masih tetap mengajar mahasiswa
Herlinda : Masih mengajar karena sifatnya wajib
Nuni : Masih dong. Kadang orang salah beranggapan jika profesor itu tidak lagi mengajar. Padahal, kita tetap wajib mengajar mahasiwa S1. Minimal tiga kali seminggu

Betul nggak sih untuk meraih gelar profesor butuh dana besar?
Erika: Bagi saya pribadi, itu tidak betul. Paling perlu dana untuk melakukan penelitian.
Herlinda: Tidak pakai uang untuk mengurus administrasi. Yang ada hanya biaya publikasi dan seminar. Tidak seberapa, hanya puluhan juta rupiah
Nuni : Dana untuk penelitian cukup besar. Tapi, tidak harus menggunakan dana pribadi. Ada dana bersaing dari Dikti atau Unsri. Dan syukur alhamdulillah, saya selama penelitian mendapatkan dana bersaing itu tadi.

Pendapat Anda tentang emansipasi wanita di bidang pendidikan?
Erika: Masih belum sama antara pria dan wanita. Buktinya, di Unsri dari total 50 lebih profesor, yang profesor wanitanya mungkin hanya sepertiga bahkan kurang. Untuk yang profesor bidang transportasi, di Indonesia, dari 12 orang hanya ada dua yang wanita. Alhamdulillah salah satunya saya
Herlinda: Kalau ada kemampuan silakan saja, selama bisa menjaga kehormatan dan etika berkeluarga dan sosial. Jangan sampai melupakan peran sebagai istri dan tugas mengurus keluarga. Di Unsri, profesor wanita hanya 10 dari 58 profesor.
Nuni: Dunia pendidikan tidak ada yang namanya gender. Di Unsri, jumlah profesor wanita memang lebih sedikit dari guru besar pria. Tapi itu mungkin karena jumlah dosen wanita yang memang lebih sedikit dari dosen pria

Suka duka berkecimpung di pendidikan?
Erika : Sukanya, hidup pas-pasan. Maksudnya, saat mau keluar negeri pas ada uangnya. Mau melanjutkan kuliah, pas terima beasiswa. Pokoknya serba pas (he…he…). Saya bahkan pernah mewakili Indonesia kursus transportasi di Jepang setelah karya tulis yang dikirim ke JICA dinyatakan menang. Kalau dukanya, sedih dengan under estimate pemerintah yang sangat tidak percaya dengan dunia penelitian
Herlinda : Dukanya hampir tidak ada, lebih banyak sukanya. Mungkin dulu saat masih baru jadi pengajar, gajinya masih kecil. Tapi, sekarang dapat tunjangan sebagai guru besar. Ternyata, enak juga jadi pengajar. Ngajar ini tidak monoton, selalu fresh karena ketemu dengan mahasiswa yang berbeda-beda
Nuni : Bagi saya rasanya tidak ada dukanya menjadi dosen, malah senang. Kita bisa mengurusi mahasiswa. Lagi pula saya sangat menikmati pekerjaan ini, menganggapnya bagian dari keseharian. Kadang kita juga bisa mempelajari sesuatu dari mahasiswa.(*)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 3 Desember 2011

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s