Masjid Ini Berdiri di Tengah Belantara
2 December 2011 Leave a comment
Masjid Tanpa Nama di Simpangbayat, Kecamatan Bayunglencir, Kabupaten Muba.
Masjid tanpa nama. Demikian, warga Simpangbayat, Kecamatan Bayunglencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menyebut bangunan rumah ibadah yang terletak di pinggir jalan lintas timur Palembang-Jambi. Masjid yang dibangun swadaya oleh masyarakat 2008 lalu ini nampak berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya di Muba. Meski terletak di kawasan hutan belantara, namun terkesan cantik, unik dan megah.
Perpaduan arsitektur Sumsel-Jawa dan sedikit terkesan Cina dengan ragam warna kuning terang menambah kesan megah tempat ibadah yang berdiri di atas lahan 60m x 40m persegi itu. Ukuran masjid sendiri tidaklah terlalu luas, yakni 15m x 15m persegi. Namun karena keunikan dan bentuknya yang terkesan megah, bangunan dengan lima menara di sisi kiri, kanan dan depannya ini kerap memicu kekaguman bagi orang yang melihatnya.
Dibincangi Sripoku.com, Selasa (29/11) Bustami, marbot masjid itu mengatakan, berdirinya masjid ini dipelopori salah seorang pengusaha bernama H Busuni. Dia juga yang mewakafkan tanah tersebut untuk dibangun sebuah masjid yang sejauh ini sudah menghabiskan dana sekitar Rp 2 miliar.
“Masjid ini belum selesai secara keseluruhan. Kami masih mengupayakan pembangunan menara utama, toilet dan tempat berwudhu,” ujar Bustami.
Dikatakan, karena terlihat unik dan megah, tidak jarang warga yang melintas tertarik untuk singgah dan mengabadikan gambar setelah melaksanakan shalat. Sebab menurut orang-orang yang ia temui, masjid ini lain daripada yang lain. Terlihat sederhana, namun megah dan enak dipandang mata.
“Ini akan menjadi kebanggan kami sebagai warga Simpangbayat. Sayangnya warga di sekitar kita ini tidak begitu banyak. Paling kalau Shalat Jumat, ada sekitar 100 orang,” katanya.
Pesona masjid yang belum memiliki nama ini, memang terlihat berbeda. Berdiri di dataran cukup tinggi sebelah kanan jalan lintas Palembang-Jambi. Interior di dalam masjid ini tidak begitu banyak, simple, namun terkesan megah. Di bagian langit-langit kubah ditambahkan warna cat hijau merah awan dan terdapat lampu hias menjuntai di sana.
Di bagian tangga bertingkat menuju pintu masuk disediakan semacam kolam khusus tempat mencuci kaki sebelum masuk masjid. Seolah menambah kesan, bahwa masjid ini sengaja dibangun dengan visi dan seni yang terarah. Sekitar 10 meter di samping masjid ini juga terdapat sebuah Madrasah Ibtidaiyah swasta dengan siswa sekitar 40 orang. Untuk belajar di sini siswa membayar Rp 10 ribu perbulan, dengan sarana dan fasilitas seadanya.
“Anak-anak madrasah inilah yang kami harapkan bisa memakmurkan masjid yang banyak dianggap orang megah ini,” harap Bustami.
Penulis : Eko Adiasaputro
Editor : Soegeng Haryadi
Sriwijaya Post – Jumat, 2 Desember 2011 15:19 WIB











Komentar: