Femke Den Haas; “Terdampar” di Indonesia demi Urusi Binatang
30 November 2011 Leave a comment
![]()
PEDULI HEWAN : Femke Den Haas, wanita Belanda yang peduli dengan hewan asli Indonesia.
Tidak banyak orang, apalagi perempuan, yang rela meninggalkan negeranya hanya untuk merawat binatang. Namun, itu tak berlaku bagi Femke Den Haas, warga negara Belanda tersebut menghabiskan waktu di Indonesia untuk pekerjaan yang oleh sebagian orang dianggap tak penting itu. Siapa dia dan apa saja kegiatannya?
Oleh : Dhimas Ginanjar — Jakarta
USIA kandungan tujuh bulan membuat perut Femke buncit. Namun, itu tidak membuat dia kehilangan kelincahan. Saat wartawan koran ini menemuinya di kantornya, Jalan Kemang Timur, Jakarta Selatan, dia cukup energik untuk mengerjakan tugas. Termasuk, naik turun tangga dari kantornya di lantai 2.
Perempuan 34 tahun tersebut mengaku baru saja selesai mengurus pemindahan monyet. Sehari sebelumnya, dia malah berada di Kepulauan Seribu untuk melakukan vaksinasi dan sterilisasi kucing liar. Dia memelopori hal itu lantaran populasi kuucing di Kepulauan Seribu sudah terlalu banyak.
“Kepulauan Seribu juga menjadi lokasi untuk menyelamatkan populasi elang bondol juga elang laut,” ujar dia. Dia juga memberikan pelatihan daur ulang sampah kepada warga setempat. Itulah alasan dia sering bolak-balik Jakarta-Kepulauan Seribu meski perutnya terus membesar.
Kecintaannya terhadap binatang dan alam membuat dia tetap bersemangat setiap saat. Bukan hanya itu, Kamis lalu (17/11) dia juga melawat ke Surabaya. Femke mengunjungi Kebun Binatang Surabaya (KBS). Tujuannya, melihat lebih dekat perkembangan satwa di kebun binatang yang pengurusnyatak henti-henti terlibat konflik tersebut.
Orang-orang di sekitarnya kerap khawatir dengan kondisinya. Bukan cuma masalah hamil dan kegigihannya dalam bekerja, melainkan kesehatan bayi di kandungan itu yang lebih mengkhawatirkan.
Femke mengatakan, banyak yanng mengkhatirkan bayinya bakal tertular penyakit jika dirinya terus bersentuhan dengan hewan. Misalnya, toxoplasma. Penyakit yang biasanya dibawa kucing atau anjing tersebut bisa mengakibatkan bayi cacat. “Tidak masalah. Sebab, saya selalu cuci tangan. Toxo itu dari feses, saya tidak pegang itu,” imbuhnya.
Dokter hewan (veterinary nurse) lulusan Leiden University, Belanda, tersebut juga menyatakan tidak menggunakan berbagai vaksin untuk kehammilannya. Perempuan bersuami orang Indonesia itu tidak ingin ada jarak antara dirinya dan binatang. Apalagi, di rumahnya juga ada 19 binatang. Yakni seekor anjing berusia 16 tahun yang dia bawa dari Belanda, enam anjing biasa, dan12 kucing hasil penyelamatan.
Femke lantas menceritakan alasannya sangat tertarik dengan binatang. Semuanya berawal saat dia masih berusia sekitar enam tahun. Ketika itu dia dan keluarga yang sedang berada di salah satu pantai di Spanyol mendapati seekor kucing terluka. Hewan mamalia tersebut terjepit kayu dan sekarat.
Femke kecil langsung menangis begitu melihat hewan yang mulai tidak berdaya itu mengerang. Dia lantas meminta orang tuanya segera menyelamatkan kucing tersebut. Namun sia-sia, orang tua Femke menolak dengan alasan bahwa kucing itu hendak mati.
Sejak itu, dia terus kepikiran, betapa malang kucing tersebut karena telat diselamatkan dan mati. Femke lantas tumbuh menjadi sosok yang sangat cinta binatang. Dia tidak ingin lagi ada binatang yang tersakiti dan tidak dihargai. “Usia delapan tahun, saya sudah tidak makan daging,” ungkapnya.
Sekitar 1996, ayahnya bekerja di Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia mengajaknya untuk ikut serta ke wilayah tugasnya. Dia mempelajari berbagai hal tentang kekayaan fauna di bumi pertiwi ini. Salah satu yang menurut dia paling menarik adalah primata, terutama orang utan. “Karena itu, saya pengin banget jadi sukarelawan orang utan di Kalimantan,” tuturnya.
Begitu sampai di Indonesia, dia tidak menyia-nyikan kesempattan untuk mengirim aplikasi ke Kalimantan Wanariset Orangutan demi proyek rehabilitasi. Femke beruntung karena aplikasiinya diterima. Namun, dia tidak lantas bertolak ke Kalimantan karena masih harus bersitegang dengan ayahnya. “Femke, kenapa harus menghentikan sekolah juga?” ucapnya, menirukan perkataan ayahnya yang tidak setuju kala itu.
Femke tetap pada pendiriannya. Bagi dia, menghentikan semua kegiatan, termasuk pendidikan di sekolah, sebanding dengan hasil yang bakal didapatnya. Setelah mendapat izin, dia mengikuti program penyelamatan orang utan. Selama empat bulan, dia tinggal di hutan dan melepaskan sekelompok hewan primata tersebut.
Setelah itu, dia kembali ke Belanda, mengambil studi paramedis hewan empat tahun di Leiden University. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan dengan mengambil kursus untuk satwa liar di Utrecht dan bekerja di sana. Kali ini dia bekerja menangani satwa seludupan yang masuk ke negara Ratu Beatrix tersebut.
Nah, pekerjaan itulah yang membuat dia ingin kembali ke Indonesia. Sebab, banyak penyeludupan yang banyak melibatkan hewan dari Indonesia, seperti primata jenis kukang dan monyet. Kenginannya tersebut terwujud setelah dia menyelesaikan tugas bekerja di Afrika untuk konservasi simpanse dan Animal Shelder di Yunani pada 2002. Pada Agustus 2002 kakinya kembali menginjak bumi Indonesia. Itu terjadi atas undangan Pusat Primata Schmutzer (PPS) Kebun Binatang Ragunan. Kebetulan, dia mengenal pendiri PPS Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh sebelum sosok itu meninggal meninggal pada 1998. “Diundang untuk membentuk standardisasi pusat primata,” ungkapnya.
Pikir dia saat itu, hanya satu tahun berada di Indonesia. Tetapi ternyata, ada yang tertarik untukmenggunakan jasanya. Yakni, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur, Cengkareng, Tangerang. Tugasnya khusus mengurus hewan-hewan sitaan dari perdagangan gelap.
Femke semakin “betah” di Indonesia setelah 3’5 tahun di PPS Tegal Alur dan mendirikan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) pada 2008. Bagi dia, ibu kota memiliki masalah binatang paling banyak. Beberapa isu yang diangkat ketika JAAN berdiri adalah kuda untuk andong.
Femke akhirnya benar-benar tertarik dan memilih tinggal di Indonesia, apalagi setelah menikah dan hamil. Keinginannya kembali ke Belanda sudah tidak lagi menggebu. Dia ingin melanjutkan apa yang sudah dibangun selama ini. “Kadang saya ingin pulang, tapi untuk kunjungan,” ucap dia.
Femke juga sakit hati begitu tahu bahwa banyak orang utan yang dibanntai di Kalimantan demi kelapa sawit. Padahal, seharusnya orang Indonesia bangga dengan memiliki orang utan. “Saya ingin anak saya nanti bisa menikmati keindahan alam di Indonesia, seperti orang utan dan lumba-lumba di alam bebas,” ujar dia. (c11/nw/ce1)
Sumatera Ekspres, Selasa, 29 November 2011








Komentar: