Honor “Ngadat”, Panitia Demo
29 November 2011 Leave a comment
PALEMBANG — Puluhan panitia bagian upacara penghormatan pemenang (upp) SEA Games XXVI mendatangi Sekretariat KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Provinsi Sumatera Selatan . Mereka sebagian besar mahasiswa dan pelajar di kota ini yang berunjuk rasa menuntut dan mempertanyakan kejelasan status honor selama bertugas menyukseskan even dua tahunan tersebut.
Rachma Pramunia, mahasiswa STMIK MDP mengatakan, semula Inasoc selaku panitia penyelenggara menjanjikan upah Rp 200 Ribu perhari selama 16 hari kerja. Jika ditotal maka setiap orang mendapat Rp3,2 Juta.
“Kami sudah terima down payment (dp) sebesar Rp 500 Ribu setelah opening ceremony SEA Games 12 November lalu. Berdasarkan informasi sisanya, Rp2,7 juta akan dibayarkan setelah pelaksanaan,” kata Rachma kepada wartawan kemarin, (28/11).
”Namun, sampai sekarang belum juga diberikan. Makanya kami menuntut hak karena kewajiban untuk bantu menyukseskan pelaksanaan SEA Games sudah kami jalankan,” tambah remaja yang mengaku rela menanggalkan ujian mid semester di kampusnya demi menuntut hak itu.
Dimas Mahardika pelajar SMA N 7 Palembang menyatakan hal serupa. Apalagi, pihaknya rela mengesampingkan pelajaran sekolah demi berpartisipasi untuk bangsa di even se-Asia Tenggara ini. “Kami sudah berlatih sejak Juni, bahkan bulan puasa pun kami tetap latihan. Biasa latihan tiga kali seminggu dan tidak satu persenpun honor kami terima selama latihan,” tambah remaja berambut cepak ini.
Cukup unik karena mereka datang dengan mengenakan seragam sekolah dengan rapi beserta perlengkapan lain macam tas. Begitu juga dengan para mahasiswa terlihat membawa buku pelajarana. “Kami hanya masuk pagi absen setelah itu izin ke guru piket,” tukas dia.
Herman Hambali Ketua Koordinasi Aksi menambahkan panitia upp berjumlah 483 orang. Masing-masing, 432 panitia lapangan dan 50 unsur panitia. Untuk panitia lapangan mereka terbagi dalam kelompok outdoor (13 personil) dan indoor (7 personil). “Masing-masing personil berjumlah 21 orang,” tambah dia.
“Memang tidak begitu besar namun kalau ditotal bisa miliaran. Bayangkan jika satu orang masih belum terima Rp 2,7 Juta, kalau 482 orang sudah berapa? Satu miliar lebih, sekitar Rp1.301.400.000 (Rp1,3 M) ,” katanya lagi.
Lanjut Herman, pihaknya tidak mau kompromi. Bila tidak ada titik terang dari Inasoc, persoalan ini akan dibawah ke DPRD Sumsel. “Kami sudah sepakat besok atau lusa kami ke DPRD,” pungkas dia.
Sebelum para panitia upp gelar aksi ternyata “mamang” becak lebih dulu menduduki KONI. Puluhan koordinator tukang becak datang membawa masalah serupa. Ya, mereka menuntut gaji mereka satu hari, 9 November yang belum dibayar sebesar Rp 200 Ribu.
“Buk Maryama (Sekrtaris Inasoc Deraeh Sumsel, red) minta kami datang jam 10.00 WIB untuk meng-clear ‘kan masalah ini,” kata Muhammad Yudi Abdulrahman selaku Ketua Koordinator Becak.
“Kami sengaja datang lebih awal pukul 08.00 sebagai bukti bahwa kami memang butuh uang itu. Mengingat pak Muddai (Madang) selaku ketua Inasoc pernah bilang jika becak masuk ke Jakabaring Sport City (JSC) maka hari itulah kami langsung dapat gaji. Dan kami sudah ada di sana mulai tanggal tersebut meski kami tidak absen,” tambah dia. (mg42)
SUMBER : Sumatera Ekspres, Selasa, 29 November 2011









Komentar: