Pelajaran Dari Hijrah dan Tahun Baru Islam
27 November 2011 Leave a comment

Oleh : Ahmad Sholeh, S.Pd.I

Artinya : “Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta-benda dan dirinya, mendapatkan derajat yang tinggi pada sisi Illahi. Mereka itulah orang-orang yang menang. Allah menyampaikan berita gembira kepada mereka dengan memperoleh rahmat, ridha Illahi dan surga yang di dalamnya mereka menghayati kenikmatan yang abadi.” (QS. At-Taubah : 20-21)
KAUM Muslimin seyogianya harus bersyukur bahwa mereka telah mempunyai penanggalan (kalender), yang telah ditetapkan sejak zaman Khalifah Umar bin Khattab, yang sekarang memasuki usia 1433 tahun. Bukan bersyukur karena telah mempunyai kalender itu, tapi yang penting ialah menerapkan nilai-nilai pendidikan (edukatif) yang tersembunyi di belakanng peristiwa itu dalam kehidupan sehari-hari. Terutama tentang pilihan menetapkan awal Tahun Baru Islam itu dihitung dari permulaan Hijrah Rasulullah SAW dan para Sahabat dari Mekkah ke Madinah, satu detik sejarah yang mengandung perjuangan.
Umat-umat lain yang sudah mempunyai kalender sendiri, pada umumnya mendasarkan permulaan penanggalan mereka kepada hari lahir Raja-raja, Pemimpin-pemimpin, atau Nabi-nabi mereka, sebagaimana penanggalan Masehi yang dihitung awalnya dari kelahiran Nabi Isa As.
Berbeda halnya dengan Tahun Baru Islam, tidak dihitung dari hari lahir Nabi Muhammad SAW, tapi dikira dari suatu momentum yang merombak jalan sejarah dunia, suatu peristiwa permulaan menyingsingnya fajar kebenaran dan kemenangan. Yaitu, tatkala Rasulullah hijrah (menyingkir) dari dunia yang diliputi kebatilan ke suatu benua yang dapat menumbuhkan benih-benih kebenaran (alhaq). Khalifah Umar bin Khattab sendiri pada waktu itu sudah menarik kesimpulan; “Hijrah itu memisahkan antara yang haq dengan yang bathil.”
Pada tempatnyalah apabila Prof Moh. Khard Husein, bekas Rektor “Azhar University” menegaskan:
“Hijrah Nabi itu adalah permulaan kebangunan Islam dari ufuk tempat memancarnya kemerdekaan ummat. Apabila kita merayakan hari yang bersejarah itu, maka sesungguhnya yang kita peringati dan rayakan ialah suatu hari yang menjadi garis pemisah antara yang haq dengan yang bathil. Suatu momentum sejarah dimana kaum muslimin memperoleh kebebasan menjalankan tugas-tugas mereka, mencapai kemerdekaan melaksanakan ibadah, menjelmanya kebahagiaan ummat yang lepas sama sekali dari intrik-intrik musuh. Dan yang terpenting, kaum muslimin dapat menegakkan keyakinan keagamaan dengan hak-hak yang penuh.” Pelajaran penting yang dapat ditarik dari Hijratur Rasul itu ialah tentang strategi dan taktik dalam perjuangan.
Dalam setiap perjuangan harus senantiasa memakai strategi dan taktik. Strategi dapat diibaratkan seperti induk, sedangkan taktik laksana anak. Setiap taktik yang dilakukan tidak boleh terlepas dari strategi. Adakalanya dalam suatu perjuangan, seperti dicontohkan dalam perpindahan atau penyingkiran Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, harus menentukan pilihan untuk mundur buat sementara waktu, tidak terlepas dari satu strategi yang menyeluruh. Sikap mundur sebagai taktik ialah karena menyadari bahwa pihak lawan pada suatu saat mempunyai kekuatan yang dapat menguasai; sedang pihak sendiri merasa perlu mendapat nafas panjang dengan keyakinan yang penuh bahwa satu ketika yang bathil akan hancur, yang haq akan tegak dan berdiri.
Dengan sikap mundur atau menyingkir (hijrah) berarti sementara waktu mengakui dan menerima kenyataan tentang keunggulan lawan, tapidengan sikap itu terjamin kelanjutan atau konsistensi perjunagan. Sikap yang pertama taktis, sedang yang kedua strategis.
Dalam perjuangan Rasulullah, kebenaran itu dibuktikan oleh fakta sejarah sepuluh tahun kemudian, dengan berhasilnya merebut Kota Mekkah kembali, sesudah sepuluh tahun lamanya melakukan konsolidasi.
Membudayakan Tahun Baru Islam
Setiap kita menyambut/memperingati 1 Muharram sebagai permulaan Tahun Baru Islam, maka kesan yang selalu mempengaruhi pikiran ialah perayaan/peringatan tersebut belum membudaya, masih jauh tertinggal dibandingkan dengan peringatan hari-hari besar Islam lainnya. Kalau peringatan hari-hari besar Maulid, Mi’raj Nabi dan lain-lain terihat dan terasa suasana perayaan itu sampai ke desa-desa, maka suasana dan syi’ar yang demikian tidak terasa dan tidak kelihatan dalam peringatan/perayaan Tahun Baru Islam. Yang terasa dan terlihat ialah suasana libur, kantor-kantor ditutup, sebab Tahun Baru Islam itu sudah umum diakui sebagai Hari Besar Islam yang diliburkan, juga dalam Republik Indonesia.
Perayaan/peringatan Tahub Baru Islam itu haruslah ditingkatkan sedemikian rupa dengan melakukan bermacam-macam kegiatan, menganut ke permukaan air mutiara yang terpendam dalam peristiwa Hijrah itu, terutama meningkatkan iman, memupuk semangat jihad dan memantapkan sikap hijrah (menyingkir) dari sesuatu yang dimurkai Allah SWT.
Hijrah
DALAM Al-Qur’an ditemukan lebih dari 30 kali kata-kata hijrah itu, dan sebagian daripadanya dirangkaikan dengan kata-kata (iman dan jihad). Antara iman, hijrah dan jihad saling kait-mengait, berjalin-berkelindan, merupakkan “tiga tungku sejarangan.”
Dengan semangat iman akan terasa ringan menghadapi tantangan demi tantangan, menempa keteguhan hati, menumbuhkan kesabaran, kesiapan dan kemantapan jiwa mengalami penderitaan dan kesukaran, dapat melihat cahaya pengharapan dan kemenangan. Keimanan itu adalah landasan dan pedoman dalam perjuangan, tak ubahnya lksana fondasi bagi satu bagunan, yang terbuat dari beton, sehingga tidak retak atau roboh walaupun digoncang oleh gempa yang dahsyat.
Semangat iman itu jugalah yang menumbuhkan ruhul jihad, yaitu berusaha bersungguh-sungguh mengeluarkan kemampuan yang maksimal, jangan separo-separo. Semangat iman itu jugalah yang mendorong setiap pejuang di mana perlu dan pada saatnya, untuk hijrah atau menyingkir buat sementara waktu, bergumul dengan penderitaan dan bermacam-macam kesukaran.
Dalam pada itu, pada surat At-Taubah ayat 20-21 diberikan jaminan oleh Allah SWT bahwa orang-orang yang beriman, berjihad dan berhijrah akan mendapatkan kenikmatan rohaniah berupa:
1. Derajat yang tinggi dan mulia pada sisi Allah SWT.
2. Rahmat dan karunia Illahi.
3. Ridha Illahi, yaitu disenangi Allah, dan merasa senang (ridha)pula dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun; dan
4. Kenikmatan yang abadi di akhirat (surga).
Abdullah Yusuf Ali dalam Tafsir “The Holy Quran” memberikan ulasan tentang ayat tersebut, bahwa kenikmatan rohaniah itu akan dihayati secara bertahap dan bertingkat (gradation).
Pertama, ialah kasih sayang Allah SWT yang khusus, yang lebih tinggi dan memancar dari seluruh alam semesta.
Kedua, kenikmatan mendapatkan siraman karunia Illahi yang kemudian masuk meresap ke dalam jiwa.
Ketiga, memperoleh semacam asuransi kerohanian dalam bentuk kehidupan di taman surga di hari yang akan datang, satu kehidupan yang penuh nikmat lagi abadi.
Sangat mengesankan sekali bila Syekh Mohd. Abdul Wahid Ahmad, seorang tokoh Ulama Besar Mesir mengemukakan bahwa hijrah itu merupakan madrasah (sekolah), dari sana dapat dipelajari penempaan semangat hak yang hebat yang tak pernah lunak sampai aqidah abadi dapat menang atas akidah kepalsuan, betapa mahligai keyakinan meningkat tinggi di ats keruntuhan kekufuran.
Ustadz Mahmud Mustafa al-A’sar mengemukakan bahwa hijrah merupakan sunnatul Anbiya wal mursalin, sunnah para nabi dan Rasul. Disebutkannya betapa Nabi Allah Nuh hijrah, Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Isa alaihimus salam dan Nabi Muhammad SAW. (Usaid)








Komentar: