Taksi Bandara Stop Operasional



MOGOK KERJA : Ratusan sopir taksi dari Primkopau, Balido dan Kotas mogok operasional karena masuknya Blue Bird di Bandara Internasional SMB II, kemarin. Aksi ini dimulai pukul 10.00 WIB dan akan berlanjut hingga tuntutan mereka dipenuhi. Tak sedikit penumpang dari bandara terlantar akibat aksi tersebut.

Minta Blue Bird Tak Operasional di Palembang

PALEMBANG Persoalan para sopir taksi bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II yang tak menerima kehadiran taksi baru “Blue Bird” sepertinya memuncak. Kemarin, mereka berdemo. Memarkirkan kendaraannya di samping pintu masuk Terminal Kargo Bandara SMB II Palembang.

Sebaliknya, sejumlah sopir yang mengaku dari Primkopau, Balido, dan Kota itu, berjaga di arah pintu keluar bandara. Menunggu sopir Blue Bird yang membawa penumpang. Bahkan informasinya, mereka nekad memukuli kendaraan Blue Bird yang mengangkut penumpang keluar dari bandara. “Kita stop operasional mulai hari ini (kemarin) di bandara,” ujar perwakilan ratusan sopir taksi dari Primkopau dan Balido, M Rihan, kepada wartawan, kemarin.

Ia mengaku, tidak akan berhenti melakukan aksi sebelum Blue Bird memutuskan tidak operasional di bandara. “Mau satu atau dua hari, bahkan sampai bulanan kita akan melakukan aksi kalau Blue Bird tidak dihentikan. Kalau bisa juga di wilayah Kota Palembang tidak operasional. Kita juga menunggu keputusan dari kepala cabang kita,” cetusnya.

Menurut Rihan, sejak beberapa bulan terakhir, pendapatan mereka mengalami penurunan. Sebab, operasionalnya Bus Rapid Transmusi (BRT) di Bandara SMB II juga ikut menyebabkan penurunan tersebut. “Sekarang mau ditambah operasional Blue Bird di bandara, penghasilan kita pasti turun.”

Sejak di launching lalu, tambah dia, Blue Bird sudah masuk bandara. Ia mengaku, pendapatan mereka turun drastis. “Sejak mereka masuk sebelum SEA Games di bandara, sekitar 30 persen penghasilan kita turun. Kami memohon dengan sangat, Blue Bird jangan operasional di bandara, termasuk di Palembang,” jelasnya.

Namun, ia tak mempersoalkan saat SEA Games lalu Blue Bird operasional. Hanya, usai even internasional tersebut Metropolis kembali sepi. “Jadi, kalau mereka tetap operasional, kita nggak kebagian penumpang lagi,” ungkapnya seraya mengatakan operasionalnya Blue Bird merusak pasaran angkutan taksi di bandara dan angkutan lain.

“Kita juga prihatin dengan tukang becak dan ojek karena Blue Bird ini operasional,” tambahnya. Ia memisalkan, tukang becak dan ojek tak akan mendapatkan penumpang karena menggunakan Blue Bird lebih murah. Dari PS (Palembang Square)-PIM (Palembang Indah Mall) biasa mereka mendapat Rp10 ribu-Rp15 ribu, tapi menggunakan Blue Bird cukup membayar Rp7 ribu.

“Karena Blue Bird menggunakan tarif argo, tidak berdasarkan penentuan tarif minimal,” bebernya. Katanya, bila Blue Bird masih operasional di bandara mereka bakal bertindak anarkis. “Akan kami hancurkan, karena sudah merusak mata pencaharian kami,” tambah Rihan.

Dikatakan, pihaknya kepada penumpang yang menggunakan jasanya ditentukan dengan tarif minimal. Sedangkan Blue Bird tanpa tarif minimal, namun dengan argo. “Kita biasanya dari bandara ke kota Rp45-Rp50 ribu. Tapi, kita nego dengan penumpang, apakah mau tarif minimal atau argo. Faktanya, kebanyakan penumpang bertanya berapa tarifnya ke tempat ini.”

Ia menambahkahn, sengaja tidak menggunakan argo karena hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit. “Kita tetap menyediakan argo sama halnya dengan Blue Bird, buka pintu Rp5 ribu dan perkilometernya Rp2.500. Tapi, kalau kami seperti itu (argo, red), bagaimana mau bayar setoran? Makanya, kami pakai tarif minimal,” jelasnya yang diamini rekannya yang lain.

Ia mengaku, pihaknya mengambil kendaraan taksi tersebut secara kredit dari koperasi. Biaya perbulan berkisar Rp4-Rp5 juta. Bila menggunakan argo, ia memastikan tidak akan tercapai karena dengan argo menuju ke kota hanya Rp25-Rp35 ribu.

Pantauan Sumatera Ekspres, beberapa Blue Bird terlihat keluar masuk bandara. Pengemudinya mengantarkan pengguna jasa ke bandara, tapi langsung keluar tanpa membawa penumpang. Tampak juga taksi lain yang operasional mengangkut penumpang dari Primkopau.

Setelah mengantar, taksi ini bersama rekannya yang lain kumpul. Saat bersebelahan dengan Blue Bird, pengemudi ini saling lihat. Namun, tak ada percekcokan di antara mereka. Saat Blue Bird keluar, mereka menjadi perhatian dari beberapa sopir taksi yang melakukan aksi mogok. Bahkan, mereka memeriksa isi kursi belakang dan samping sopir Blue Bird tersebut.

Jamaludin, pria asal Bangka Belitung yang baru mendarat di Bandara SMB II Palembang mengaku heran tak ada taksi yang menawarkan jasa angkutan kepadanya. Padahal, ia harus mengejar travel tujuan Jambi pukul 13.00 WIB. “Kalau nggak ada taksi susah juga, apalagi harus mengejar waktu ke Jambi,” bebernya saat ditemui pukul 12.15 WIB.

Ia mengaku, kepergiannya ke Jambi karena ingin melihat keluarganya yang masuk rumah sakit di Jambi. Bahkan, kesannya terburu-buru karena orang tua yang sakit tersebut berasal dari Maluku juga ingin melihat keadaan anaknya. “Karena nggak bisa siang, kita terpaksa berangkat nanti malam (semalam, red),” tambahnya.

Namun, ia juga menyalahkan pihak taksi yang melakukan aksi mogok. Pasalnya, tak semua orang berduit yang turun dari bandara. “Kalau orang kaya nggak masalah main tembak harga atau tanpa argo. Tapi, kalau orang yang ekonominya pas-pasan kan kasihan kalau ditentukan harga. Setidaknya menggunakan argo saja,” ungkapnya.

Yon Sugiono, General Manager PT Angkasa Pura (AP) II mengaku tidak tahu adanya aksi mogok dari para sopir taksi yang mangkal di Bandara SMB II Palembang. “Saya nggak tahu, nggak ada laporan ke saya. Memang dimana?” ujar Yon saat dihubungi koran ini.

Kepala Security PT AP II, Darso mengungkapkan, aksi mogok operasional yang dilakukan para sopir taksi yang mangkal di Bandara SMB II sudah diredam. “Sudah diredam tadi oleh Pak GM, pada intinya Blue Bird boleh masuk,” ungkap Darso.

Katanya, mereka sudah dikumpulkan dan diberikan saran-saran dalam menghadapi persoalan ini. “Yang jelas, mereka harus berani memperbaiki pelayanan dan menghadapi tantangan. Kenapa harus takut? Kalau kita punya pelayanan baik pasti dipakai,” bebernya.

Dari hasil pertemuan tersebut ia mengatakan, PT AP II tak mempunyai hak dan wewenang untuk melarang Blue Bird masuk ke kawasannya. “Kita nggak punya kewenangan melarang, mereka punya hak untuk masuk karena resmi izin dari Dishub. Apalagi, transportasi memang dibutuhkan di bandara kalau pelayanan baik akan diacri penumpang,” imbuhnya. (mg44)

Ditulis oleh Rachmat Aprianto
Sumatera Ekspres, Kamis, 24 November 2011 13:28

Syafrizal: Yang Penting Ada Tempat
KETUA Serikat Pekerja Blue Bird Palembang Syafrizal mengatakan, demo yang digelar oleh sejumlah sopir taksi yang beroperasional di bandara sempat membuat sopir taksi Blue Bird khawatir. Tapi kita tetap melayani (mengantar, red) penumpang yang hendak ke bandara,” ujarnya, kemarin. Namun, terangnya, beberapa sopir Blue Bird tersebut sempat dicegat sopir taksi lain, saat mengantarkan penumpang ke bandara.

“Mereka berpikir jika sopir kita (Blue Bird, red) menaikkan penumpang dari Bandara,” terangnya. Padahal, jelas Syafrizal, saat itu sopir Blue Bird hanya mengantar penumpang yang hendak berangkat.

Sedangkan sejumlah penumpang yang ikut pulang adalah penumpang hanya mengantar keberangkatan keluarganya di Bandara. “Nah itu dijelaskan sopir taksi kita (Blue Bird, red) kepada mereka (sopir taksi lain, red<), tapi sepertinya mereka tidak percaya,” ungkap Syafrizal.

Oleh karena itu, menghindari hal yang tidak diinginkan, pihaknya mengimbau, memberi pengertian kepada para sopir Blue Bird agar sementara tidak mengangkut penumpang dari bandara. “Tapi kalau berani ambil (penumpang di bandara, red) silakan saja, tapi kalau ada apa-apa, resikonya tanggung sendiri,” terang Syafrizal.

Tapi, lanjut Syafrizal, jika nantinya izin beroperasional di bandara SMB II dari PT Angkasa Pura (AP) II telah diperoleh, maka para sopir Blue Bird bisa mengangkut penumpang dari bandara. “Kita tidak menuntut tempat luas, atau jumlah kendaraan tertentu di bandara, yang penting ada tempat (untuk taksi Blue Bird, red) di bandara,” tukasnya.

Sementara itu, Wali Kota Palembang Ir H Eddy Santana Putra MT mengaku telah berbicara mengenai permasalahan tersebut dengan pihak Blue Bird. Dari pembicaraan tersebut, jelasnya, diketahui jika pihak Blue Bird berniat membina dan menjadi koordinator taksi lain yang ada di Metropolis.

“Jadi nantinya taksi-taksi lain juga sama seperti Blue Bird, baik pelayanan dan pengelolaannya,” ungkap Eddy. Dengan begitu, maka nantinya seluruh taksi di Metropolis bisa memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan kepada masyarakat.

“Jadi, keberadaan taksi-taksi tersebut sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan pelayanan transportasi yang aman dan nyaman sekaligus solusi masalah transportasi umum yang murah dengan pelayanan berkualitas,” tukas Eddy. (mg13/ce3)

SUMBER : Sumatera Ekspres, Kamis, 24 November 2011

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s