RD MINTA MAAF
22 November 2011 Leave a comment

KECEWA : Pelatih Rahmat Darmawan (RD) memberi semangat kepada anak asuhnya yang sedih dan kecewa karena gagal dalam adu penalti saat melawan Malaysia, tadi malam.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
PALEMBANG — Sepak bola Indonesia tidak berjodoh dengan medali emas setelah terakhir kali direbut pada SEA Games 1991 Filipina. Meski sudah sekuat tenaga berjuang, Egi Melgiansyah dkk tetap saja hanya mampu meraih perak. Pil pahit ini harus ditelan setelah dalam final cabor sepak bola yang berlangsung di SUGBK Senayan, Jakarta, semalam, Merah Putih takluk melalui drama adu penalti 4-5 (1-1) kepada Malaysia.
Dalam tos-tosan semalam, Gunawan Dwi Cahyo dan Ferdinand Sinaga gagal jalankan tugas sebagai algojo. Tendangan Gunawan membentur tiang kiri selanjutnya bola menyeberang begitu saja keluar gawang. Sementara eksekusi Ferdinand mampu ditangkap kiper Malaysia Che Mat Khairul. Kegagalan kedua pemain itu membuat tiga eksekutor lainnya, Titus Bonai, Abdulrahman, dan Egi Melgiansyah sukses jalankan tugas tak berarti.
Sebab, Malaysia lebih beruntung. Dari lima algojo yang disiapkan, empat di antaranya sukses taklukkan kiper Indonesia Kurnia Meiga. Yakni, Jazuli Marhali, Baddrol Bakhtiar, Othman Mohamad, dan Mohamad Shas Mohamad. Satu-satunya tendangan algojo Malaysia yang bisa dimentahkan Kurnia Meiga adalah milik Saarani Ahmad.
”Saya mendapat tugas dengan target medali emas. Apapun alasannya saya gagal,” terang Pelatih Timnas U-23 Indonesia Rahmad Darmawan usai pertandingan semalam. ”Saya menyampaikan permohonan maaf atas kegagalan ini, tak bisa memenuhi keinginan mereka untuk mendapat yang terbaik,” lanjutnya.
Kegagalan ini membuat Indonesia tak bisa akhiri kutukan 20 tahun puasa emas. Dan, menempatkan Malaysia sebagai hantu bagi Indonesia dalam perebutan emas multieven dua tahunan. Pada SEA Games edisi 1979 di Jakarta, Indonesia alami situasi yang sama setelah ditekuk Malaysia 0-1 di final. Pasukan Garuda memang sukses membalas rasa malu itu dan jadi juara pada SEA Games (SEAG) 1987 Jakarta melalui gol semata wayang Ribut Waidi (91’).
Nah, ketika kembali ketemu semalam, Indonesia menyerah setelah berjuang habis-habisan hingga 120 menit. Skor tidak berubah 1-1 hingga akhirnya pemenang ditentukan melalui adu penalti. Sebelum tos-tosan, Indonesia unggul lebih dulu melalui tandukan Gunawan Dwi Cahyo (5’). Sedangkan Malaysia samakan kedudukan melalui Omar Asraruddin (35’). Kedua tim bisa menambah gol, sayang gol Titus Bonai dan Ferdinand Sinaga dianulir wasit karena terlebih dulu offside. Begitu juga dengan satu gol dari Malaysia di menit akhir pertandingan.
Bagi Malaysia, ini adalah emas kelimanya di SEAG. Sementara Indonesia, ini adalah perak ketiganya. Namun, kegagalan semalam lebih menyakitkan karena tidak bisa melengkapi prestasi Indonesia sebagai tuan rumah SEAG XXVI/2011. Sepak bola yang digadang-gadang sempurnakan status juara umum dengan raihan emas, justru harus dipaksa meraih perak di depan puluhan ribu pendukungnya. Prestasi Indonesia di SEAG tahun ini pun ibarat sayur tanpa garam; hambar!
Dikatakan arsitek yang karib disapa RD itu, kegagalan Timnas U-23 semalam karena anak asuhnya tidak jalankan taktik yang diberikan. Egi Melgiansyah dkk diminta membangun serangan dari bawah. Namun, barisan belakang suka buru-buru mengarahkan bola langsung ke jantung pertahanan Malaysia. Kondisi ini membuat Pasukan Garuda Muda kewalahan karena Malaysia lebih siap dengan permainan seperti itu. Baru masuk babak kedua, pemain bisa menguasai jalannya pertandingan dan cetak gol namun dianulir wasit.
”Pemain mengira semua akan menjadi mudah setelah unggul lebih dulu. Kita seperti mau mengamankan skor 1-0 sampai akhir. Pemain takut lakukan built up padahal kalau main long passing-long passing kita kalah dari Malaysia. Tekanan tidak bisa maksimal karena kondisi pemain tidak sebugar ketika di semifinal. Selain itu juga adanya perbedaan kualitas dalam kecepatan dan pergerakan tanpa bola dari Malaysia,” ungkap eks arsitek Sriwijaya FC itu.
RD juga mengungkapkan bahwa dalam drama adu penalti Malaysia lebih siap dibanding timnya. Bahkan pelatih asal Lampung ini mengungkapkan jika saat memilih eksekutor penalti beberapa pemain mengaku tidak siap dan harus ‘dipaksa’. Sementara Malaysia lebih pengalaman. Kiper dan eksekutornya siap menghadapi penalti.
Di sisi lain, Pelatih Malaysia Ong Kim Swee mengatakan jika hasil di SEA Games ini adalah kejayaan bagi sepakbola Malaysia dimana bisa mempertahakan emas SEA Games. ”Ini membuktikan Malaysia menjadi juara memang bukan karena nasib. Tapi karena program yang baik dan dedikasi semua pihak,” ungkap Ong. ”Pemain kami yang berpengalaman di AFF banyak bantu pemain muda untuk beraksi di hadapan pendukung Indonesia fanatik,” pungkasnya. (kmd/ali/jpnn)
SUMBER : Sumatera Ekspres, Selasa, 22 November 2011








Komentar: