Pertamina Batasi Solar
25 October 2011 Leave a comment

ANTRE SOLAR : Antrean kendaraan yang henndak mengisi solar meluap hingga ke Jl Jendral Sudirman, Km 4,5, kemarin (23/10). Antrean terjadi karena sejumlah SPBU tidak mempunyai persediaan solar
PALEMBANG — Sejumlah SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) mengalami kekosongan solar. Antrean kendaraan yang hendak mengisi solar pun terjadi pada SPBU yang masih punya stok. Seperti kemarin (23/10), di SPBU depan Korem Gapo, Jl Jenderal Sudirman, Km 4,5 Palembang dan sejumlah SPBU di kabupaten/kota di Sumsel.
”Kami sudah keliling ke beberapa SPBU, untuk solar kosong semua. Dapat kabar di SPBU depan Korem ini ada, tidak tahunya antrean sudah panjang sampai ke jalan. Mau tidak mau harus nunggu, kalau tidak besok (hari ini, red) tidak jalan mobil ini. Kan harus nganter anak sekolah dan kerja juga,” ucap Andriansyah, salah seorang warga Sukarami yang antre solar, kemarin.
Pantauan koran ini, memang terjadi antrean panjang hingga ke jalan di SPBU depan Korem Gapo. Puluhan pemilik mobil pribadi berusaha mendapatkan solar untuk kendaraan mereka. Sedangkan di SPBU samping Taman Makam Pahlawan (TPM) Ksatria Ksetra Siguntang terlihat lengang karena stok solar di sini habis.
Ketua Hiswana Migas Sumsel, H Junaidi Ramli mengatakan, kekosongan solar sudah terjadi sejak dua hari lalu. ”Bukan banyak, tapi hampir semua SPBU di Palembang mengeluh. Pertamina melakukan pembatasan, stok kita di SPBU kosong,” ucapnya.
SPBU miliknya, di Jl Jenderal Sudirman samping TMP Ksatria Ksetra Siguntang, kata Junaidi juga kosong. Idealnya, dalam sehari SPBU-nya mendapat suplai sekitar 10 ribu liter solar. ”Sudah dua hari terakhir ngadat, alasannya banyak. Misalnya mobil tidak ada,” kata Junaidi.
Belum lagi karena kelebihan kuota tahun lalu belum dibayarkan pemerintah pusat dan pemerintah Sumsel tidak mengajukan kuota tambahan. Pembatasan ini, diungkapkan Junaidi mulai diterapkan Jumat (21/10) lalu. Memang sebelumnya telah ada pertemuan dengan para pengusaha SPBU. ”Tapi kalau kondisinya seperti ini namanya tidak pro rakyat,” cetusnya.
Kelangkaan solar juga terjadi di beberapa SPBU kabupaten/kota di Sumsel. Seperti di SPBU di Desa Palem Raya Kecamatan Inderalaya Utara. Di sini sejak pukul 07.00 WIB, solar sudah habis dan hanya ada premium. Akibatnya kendaraan dari luar kota jenis truk dan fuso harus menunggu di pelataran parkir sampai pasokan solar dari Palembang tiba.
Manulang, pengemudi fuso asal Medan mengaku sudah menunggu satu jam di pelataran parkir SPBU Desa Palem Raya untuk mendapatkan solar. ‘’Kita sudah mencoba antre di SPBU arah Palembang, tetapi antrean kendaraan yang mengisi solar, sampai ke jalan raya. Daripada mengganggu arus lalu lintas, lebih baik kita mengisi BBM di SPBU lain, tetapi ternyata sama saja,’’ katanya.
Pegawai SPBU Desa Palem Raya yang enggan dikorankan mengatakan, persediaan solar sudah habis sejak pukul 08.00 WIB. Sampai pukul 11.30, pasokan solar dari Palembang belum tiba. “Biasanya pasokan solar dari Palembang tiba sore hari sebanyak dua tangki ukuran 10.000 liter atau 16.000 liter,” ujarnya.
Kondisi yang sama juga terjadi di SPBU Km 24 Desa Pulau Semambu Kecamatan Inderalaya Utara. Pintu masuk SPBU dipenuhi kendaraan jenis truk dan fuso yang akan mengisi solar.
Di Muba, kelangkaan solar sudah sering terjadi. Bahkan pihak pengelola SPBU memasang pengumuman bertuliskan “Bensin Habis atau Solar Habis’’. Kalau sebelumnya, bensin yang sering langka kini solar pun ikut-ikutan sulit didapat. Ironisnya, BBM eceran jenis premium alias bensin mudah ditemui, namun harganya tinggi Rp7.000 hingga Rp8.000 per liter, bahkan di Kecamatan Lalan harganya mencapai Rp15 ribu per liter.
Sedangkan BBM jenis solar di tingkat eceran jarang ditemukan, karena pengecer kurang berminat menjual solar. ‘’Karena solar kurang laku,’’ kata Ilham, pengecer bensin.
Di Kayuagung, kelangkaan BBM sudah terjadi sejak seminggu terakhir. Seperti di SPBU Pematang Panggang Mesuji dalam beberapa jam saja habis. Begitu juga di tiga SPBU di Kecamatan Lempuing. Stok masih ada namun sedikit, diperkirakan hingga jam 21.00 WIB BBM solar habis.
Adanya pembatasan BBM bersubsidi jenis solar ini dibenarkan Asmen External Relation Pertamina Fuel Retail Marketing (FRM) Region II, Roberth MV. “Kita memang baru dapat laporan, beberapa SPBU di Palembang terjadi kekosongan,” akunya. Saat ini memang sedang dilakukan pengaturan agar kuota solar bisa mencukupi hingga akhir Desember nanti.
Pasalnya, penyaluran solar sejak Januari-September lalu sudah over kuota 7 persen. Pengendalian suplai solar ini akan dilakukan per minggu. Dimana Pertamina, kata Roberth akan terus mengamati tingkat kebutuhan konsumsi BBM di SPBU. Pembatasan ini bertujuan untuk ketepatan penyaluran.
Dimana jadwal penyaluran solar ke SPBU diatur sedemikian rupa, termasuk jumlah yang disalurkan. Misalnya, SPBU yang biasa dipasok 48 KL disuplai 32 KL. Jumlah suplai disesuaikan dengan kondisi dan posisi SPBU tersebut.
”Kita punya data konsumsi setiap SPBU. Dan kita lakukan hitung-hitungan. Ternyata, masih ada penyaluran yang tidak tepat sasaran. Terpaksa kita lakukan pengendalian dari pada sebelum Desember kuota BBM khususnya solar untuk Sumsel habis,” ungkap Roberth.
Dengan pembatasan bukan berarti Pertamina menyetop pasokan. Suplai ke SPBU tiap hari tetap jalan karena memang Pertamina tidak akan membiarkan SPBU kosong tanpa penyaluran BBM.
Robert mengakui masih banyak penyaluran BBM bersubsidi yang tidak tepat sasaran. Dicontohkannya, pada SPBU yang jarang dimampiri kendaraan truk dan sejenisnya malah tinggi konsumsi solarnya. ”Ini kan aneh. Menurut temuan dan informasi yang diterima Pertamina, beberapa SPBU masih nakal.”
”Kita tahu berapa pasokan ke mereka, jualan mereka dan omzetnya. Seharusnya pada waktu itu belum habis, nyatanya stok sudah habis. Tapi pembatasan ini tidak hanya di Palembang, kita lakukan pada seluruh SPBU di Sumsel agar tidak kesannya terjadi diskriminasi. Kita sudah ketemu dan bicara blak-blakan dengan para pengusaha SPBU,”cetus Roberth lagi.
Pertamina mengendus modus baru penyimpangan penjualan BBM bersubsidi. Modus operandi ini juga hasil koordinasi dengan pihak kepolisian. ”Ada 7-8 unit mobil baru, tapi punya tangko BBM modifikasi yang mampu membeli hingga 1 ton. Ini yang sedang kita selidiki lebih lanjut. Tunggu saja tanggal mainnya,”pungkasnya.(46/33/mg44/41/38)
SUMBER : Sumatera Ekspres, Senin, 24 Oktober 2011








Komentar: