Menjaga Adab dan Akhlaq di Kota Makkah
11 October 2011 Leave a comment

Hendaklah kita menjaga adab dan akhlak selama perjalanan, terlebih lagi jika berada di Haromain dan tempat-tempat mulia lainnya. Di antara adab yang harus kita lakukan, dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu adab zhahir dan bathin.
Adapun yang Termasuk Adab Zhahir, antara lain:
1. Menjaga ketentraman dan kebersihan dimanapun kita berada.
2. Jangan selalu mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memikirkan kepentingan orang lain.
3. Senantiasa tersenyum dan mengucapkan salam dan berperilaku lemah lembuh dan ramah tamah.
4. Tinggalkanlah semua kebiasaan buruk yang tidak terpuji, seperti merokok, membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau berjalan-jalan di pertokoan, restaurant, dan lain-lain, berbicara dengan suara yang keras apalagi tertawa terbahak-bahak, berpakaian yang tidak selayaknya, berlebihan yang tidak sesuai dengan akhlak seseorang yang sedang berhaji, membawa/membaca/melihat majalah/gambar-gambar yang jauh dari norma-norma Islami, dan lain-lain.
Adapun yang Termasuk Adab Bathin di antaranya:
1. Senantiasa berbaik sangka terutama kepada Allah SWT kemudian segala makhluk Allah terutama orang-orang yang kita jumpai. Bersangka baik kepada Allah SWT di antaranya kita meyakini bahwa Allah SWT akan menerima ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, akan memberikan kemudahan selama kita berhaji dan menjadikan haji kita haji yang mabrur. Dan bersangka baiklah kepadasesama manusia, entah itu sesama yang berhaji atau pelayan-pelayan toko, masjid, warung, sopir taksi, petugas haji, petugas kebersihan, peminta-minta, pedagang dan lain-lain. Jauhkan diri kita dari berprasangka buruk, karena Rasulullah SAW dalam sabdanya telah mengatakan:
“Dua perkara yang tidak ada kebaikan lain melebihinya, Huznuz Zhon Billah wa Husnuz Zhon Bi-’Ibadillah (Berprasangka baik kepada Allah dan kepada makhluk-makhuk lainnya).”
Dalam hadits lain Beliau bersabda:
“Berbaik sangka itu terpuji meskipun sangkaan itu salah dan berburuk sangka itu buruk dan berdosa meskipun sangkaan itu benar.”
2. Tanamkan sikap rendah hati dan tawadhu’ dengan merasakan diri kitalah orang yang paling rendah dan hina di mata Allah SWT, kita orang yang paling membutuhkan ampunan dan kasih sayang-Nya, karena Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang merasa hina di hadapan-Nya.
3. Perbanyak mengingat dosa-dosa dan kesalahan serta kelalaian kita sebagai hamba Allah.
4. Perbanyak bertafakkur dengan memgingat bermacam-macam nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita, terutama nikman iman, Islam, rezeki, kesehatan, kemudahan dan lain-lainnya.
5. Jangan sekali-kali kita berkeluh kesah jika kita mendapatkan cobaan atau kesulitan ketika menjalankan ibadah haji, akan tetap bersabarlah dan terimalah semua itu seraya terus berhusnuz zhon kepada Allah, bahwa semua itu adalah salah satu cara yang dilakukan oleh Allah untuk mengampuni dan mengangkat derajat kita di sisi-Nya.
6. Perbanyak niat-niat yang baik untuk hal-hal yang akan kita lakukan kelak setelah pulang dari ibadah haji, terutama menjauhi dan meninggalkan maksiat-maksiat dan perilaku atau kebiasaan-kebiasaan buruk. Juga tentu untuk menambah amal-amal baik seperti shalat berjemaah, membaca Al-Qur’an, shodaqoh, silaturrahmi dan lain-lain.
![]()
Asyhurul Hurum merupakan waktu yang sangat diagungkan dan dijaga kesuciannya oleh bangsa pra Islam (Jahiliyah), dari segi kepribadian mereka sendiri seperti menghapus kezhaliman, menghindari pertengkaran dan lain-lain. Ataupun dari segi sosial mereka, denganmenghindari peperangan dan lain-lain, bahkan di antara mereka apabila menemui orang yang membunuh di bulan-bulan ini (Asyhurul Hurum), mereka tidak menganiayanya karena menjaga kemuliaan bulan tersebut

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan peranngilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah berserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Taubah: 36)
Hingga datanglah Islam agenda ini terus berjalan, bahkan ditambahkan kesuciannya dengan tidak melakukan peperangan hingga turunlah ayat yang menghapuskan larangan berperang

Artinya: “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musryikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 5)
Adapun bulan-bulan tersebut berjumlah empat bulan, 3 di antaranya datang secara berurutan, yaitu Dzul Qa’idah, Dzul Hijjah, Muharram, dan yang satunya terpisah yaitu Rajab. Pada umumnya di bulan-bulan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak melakukan amal-amal yang sunnah, terlebih lagi berpuasa, sebagaimana hadits di bawah ini:
“Barangsiapa berpuasa tiga hari dari bulan-bulan Haram dicatat baginya bagaikan beribadah 900 tahun.”
Dan masih banyak lagi hadits yang menerangkan kemuliaan berpuasa dalam Asyhurul Hurum, seperti di bulan Muharram yang merupakan paling afdholnya Asyhurul Hurum dan berpuasa di dalamnya paling mulia setelah Ramadhan. Dan diriwayatkan oleh Hafsoh RA:
“Barangsiapa berpuasa di akhir bulan Dzul Hijjah atau awal Muharaam, Allah akan menghapuskan baginya kesalahan 50 tahun, dan satu hari berpuasa di bulan Muharram seperti ganjaran berpuasa 30 hari.”
Dan juga kita dianjurkan untuk memperbanyak beribadah di 10 hari pertama dari Muharram terlebih lagi hari Asyura’ yang di dalamnya banyak limpahan pemberian Allah dan kemuliaan yang disebarkan-Nya.








Komentar: