Tarkam, Tukang Becak yang Berangkat Haji
10 October 2011 1 Comment

Banyak rahasia Allah di mukabumi ini. Semuanya, terbentuk atas kehendak Allah SWT. Begitu pula dalam hal memenuhi panggilan-Nya menunaikan ibadah haji. Mampu dari segi financial maupun fisik, belum tentu bisa berangkat. Tapi, jika yang Maha Kuasa berkehendak, Abang Becakpun bisa naik haji.
ADE ROSAD – Martapura
LANTUNAN lafaz talbiyah mengumandang seirama cerahnya suasana pagi. Udara sejukpun berhembus seakan ingin melengkapi pelepasan 85 jamaah calon haji (JCH) asal Kabupaten OKU Timur yang tergabung dalam Kloter 8, di Asrama Haji Desa Lingot Kecamatan Martapura, kemarin (9/10).
Ribuan warga yang ikut mengantarkan anggota keluarganya beribadah haji terlihat sabar menunggu keberangkatan para keluarganya. Tak ada kesan jenuh ataupun lelah. Sementara wajah JCH terlihat serius memandang ke arah pembimbing yang memimpin membacakan lafaz talbiyah. Spontan lafaz itupun menggema menuntun JCH tetap khusu’. Air matapun terlihat menetes dengan tangan menengadah ke atas.
Di tengah kerumunan JCH, terlihat sosok pria paruh baya memakai peci hitam duduk serius dengan mata tertuju ke depan. Dia adalah Tarkan (72), warga Desa Pujo Rahayu, Kecamatan Belitang. Meski hanya berprofesi sebagai abang becak di kawasan Kota Gumawang, tetapi keinginan dan niat yang kuat mengantarkannya menunaikan rukun Islam ke lima.
Tarkan mengaku menggeluti profesinya sebagai tukang becak sejak 1979. Dalam bathinnya selalu terselip keinginannya untuk berangkat haji, apalagi jika bulan haji datang. Keinginan ini selalu menggebu-gebu ingin melihat langsung rumah Allah. “Dalam benak saya yang penting bisa haji. Kapan pun berangkatnya,” ujar pria berkulit hitam ini.
Untuk memantapkan niat baiknya ini, hasil kerjanya selama seharian ditabung setiap har. Jumlah yang ditabungkannya tak tentu tergantung pendapatannya. “Kadang saya menabung dalam sehari Rp5 ribu. Jumlah ini di luar hasil untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” imbuhnya.
Dikatakannya, uang yang ditabung dari hari ke hari ini disimpannya dalam celengan. ‘’Nah, sebulan sekali, celengan ini saya buka dan saya setorkan ke bank. Inilah yang saya lakukan selama 29 tahun,’’ ujarnya.
Saat ekonomi sulit, lanjutnya, dirinya yakin dengan kekuasaan Allah SWT. ‘’Dengan menafkahi satu isteri dan 4 anak, saya yakin jika Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan rezeki, apalagi untuk tujuan yang baik,’’ ujarnya.
Dikatakannya, setelah tabungannya cukup banyak, dia pun memantapkan diri untuk menginjakkan kakinya di tanah Allah SWT. ‘’Tahun 2008 saya pun daftar haji, dan baru sekarang saya bisa berangkat,’’ ujarnya.
Tarkan berprinsip, dimana ada ikhtiar dan niat yang kuat pasti akan terkabul. ‘’Karena, panggilan haji itu datangnya dari Allah SWT, tak semua bisa mendapatkannya. Untuk itu, doa dan selalu memohon kemudahan rezeki, menjadi bagian terpenting dalam kehidupan saya,’’ jelasnya.
Memang, kepergiannya beribadah haji ini tak didampingi isteri ataupun anggota keluarga lainnya. ‘’Memang sedih juga, karena isteri atau anggota keluarga tak ikut serta. Tapi mau apalagi, saya hanya pasrah kepada Allah SWT,” papar pria asal Banyumas, Jawa Tengah ini.
Kesedihannya sirna saat melihat anak-anak dan keluarganya yang lain mengantar keberangkatannya. ‘’Saya berharap agar mampu menjalankan rukun Islam ke lima ini dengan baik dan pulang kembali dengan selamat,’’ ujarnya. (*)
SUMBER: Sumatera Ekspres, Senin, 10 Oktober 2011










kagum saya sama bapak..
semoga tahun ini semua ibadah hajinya diterima Allah, serta bisa menjadi haji yang mabrur & mabrurah.. aamiiin