Tabrakan Beruntun, Bayi Pingsan di Ampera
10 October 2011 Leave a comment

Empat mobil tabrakan beruntun di Jembatan Ampera, Minggu (9/10) pukul 14.00 WIB. SRIPOKU.COM/AANG HAMDANI

Rudi (33), sopir mobil Katana bersama istri panik bayinya pingsan usai tabrakan. SRIPOKU.COM/AANG HAMDANI

Insiden ini membuat lalulintas macet 4 kilometer. SRIPOKU.COM/AANG HAMDANI
SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Rudi (33), warga 5 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I, cemas bukan kepalang. Bayinya yang masih berusia empat bulan pingsan di pangkuan istri saat mobilnya ikut dalam insiden tabrakan beruntun di atas Jembatan Ampera, Minggu (9/10) pukul 14.00.
Tanpa menghiraukan mobil Katana hijau plat BG 1284 yang penyok di bagian depan dan belakang, Rudi cepat membawa istri dan bayinya ke pos polisi di bawah jembatan. Tampak bayi berkulit putih dan gemuk itu terkulai lemas di pelukan ibunya.
Arus lalulintas di Ampera macet total akibat empat mobil yang melaju dari arah Seberang Ilir terlibat tabrakan beruntun. Mobil Rudi di urutan ke tiga.
Di belakangnya mobil Strada yang dikemudikan Fatho (40), warga Mesuji, OKI. Fatho juga membawa serta anak dan istri. Beruntung keduanya duduk di kursi belakang sehingga tidak sampai pingsan.
Anggota Polresta Palembang turun mengatur lalulintas. Mobil Rudi dan Patho diparkir di trotoar Ampera. Sementara dua kendaraan lainnya mobil AVP BG 1649 dan yang paling depan Terano merah tak ada di lokasi.
“Saya berada di jalur yang benar, tapi memang jalanan padat. Motor-motor sudah begitu mepet. Mobil saya paling belakang. Saya bawa anak, tidak ngebut. Mobil AVP dan Avanza di depan sudah lari, saya tidak bisa mengejar,” kata Patho.
Sekitar 10 menit kemudian, sopir mobil APV, Apriansyah (23), dengan berjalan kaki mendatangi lokasi tabrakan. Dia mengaku bagian depan dan belakang mobilnya penyok, lantas minta ganti rugi.
Patho tentu saja tidak mau karena menurutnya insiden itu tak disengaja. Apalagi mobil Strada miliknya juga penyok di bagian depan dan belakang.
Rudi yang baru naik dari mengantar bayinya ke pos polisi minta permasalahan itu tak diperpanjang.
“Sudahlah, mobil saya juga penyok. Saya perbaiki sendiri saja. Saya tak ambil pusing. Anak saya pingsan,” katanya, lantas pergi meninggalkan mobilnya di
trotoar Ampera. Dia membawa pulang istri dan bayinya naik becak.
Hasil pengusutan polisi, ternyata mobil APV itu taksi gelap. Sopirnya Apriansyah sudah dua kali kena tilang. Mobil AVP ini ditahan di Mapolresta Palembang karena ternyata tidak memiliki kelengkapan surat.
Lalulintas Macet
Sementara lalulintas macet kian panjang. Dari arah Seberang Ilir macet sampai bundaran Cinde. Di Seberang Ulu macet sampai simpang Jakabaring, bahkan ke arah Jl Jend A Yani macet sampai Universitas Bina Darma. Pengendara motor yang kesal terjebak macet menaikkan motor ke trotoar Ampera.
Sejumlah pengendara mengeluhkan kondisi ini. Kemacetan terjadi setiap hari terutama pada pagi, siang, dan sore hari. Apalagi kalau ada kendaraan kecelakaan atau mogok di atas Ampera. Akibat tabrakan beruntun kemarin, lalulintas macet sampai pukul 20.00.
Siaga Mobil Derek
Kadishub Palembang, Masripin, mengatakan, sebagai antisipasi kemacetan yang kerap terjadi di Jembatan Ampera, kami mendirikan posko pemantau lalulintas. Nanti juga akan disiagakan beberapa unit mobil derek yang digunakan saat terjadi kemacetan akibat kecelakaan atau kendaraan yang mogok di atas Ampera.
“Kami juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian, Pol PP dan dinas terkait lainnya. Penyebab kemacetan yang utama adalah besarnya volume kendaraan yang melintas di jembatan Ampera pada jam-jam tertentu. Harusnya saat ini sudah ada alternatif jalan untuk mengatasi kmacetan di Ampera, dengan membangun jembatan lainnya,” katanya.
Dihubungi secara terpisah, Pengamat Perkotaan, Erika Buchari, mengatakan, kemacetan di Ampera karena volume kendaraan yang melintas sudah terlalu banyak dan harus dialihkan dengan membuat alternatif jalan lain yang menghubungkan daerah Ulu dengan Ilir.
“Tidak mungkin kita dari Ilir mau ke Ulu dengan menggunakan kapal akibat macet dan kendaraan ditinggalkan, sedangkan jembatan musi 2 bukan alternatif
yang bagus karena terlalu jauh dan melingkar,” katanya.
Menurut dia, masyarakat Sumsel khususnya Palembang sudah jenuh dengan sering terjadinya kemacetan di jembatan Ampera, dan diharapkan pembangunan jembatan alternatif lainnya dari pemerintah. (ahf/cw7/mg15)
Editor : Aang Hamdani
Sumber : Sriwijaya Post – Senin, 10 Oktober 2011 11:27 WIB










Komentar: