Kabut Asap Kepung Palembang
29 September 2011 Leave a comment
Kerahkan 200 Tim Darat

KABUT TEBAL: Jarak pandang penerbangan masih dalam batas normal. Meski demikian, pihak bandara memberlakukan kondisi darurat. Dalam artian, jika pilot meminta cahaya landasan ditingkatkan, tetap akan dilayani.
PALEMBANG — Semua instansi terkait di Sumatera Selatan menyangkut penanggulangan bencana, menggelar rapat darurat di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel. Rapat dipimpin Kepala BPBD Sumsel, Yulizar Dinoto, menyikapi kondisi asap yang makin pekat di Palembang akibat munculnya 410 hotspot (titik) api di Sumsel.
Dalam rapat yang berlangsung kemarin (28/9), disepakati empat poin penting. Pertama teknologi modifikasi cuaca (TMC) akan terus dilakukan, bahkan makin digiatkan. “Kedua, kita sudah minta kepada BNPB (Badan Nasional Penanggulangan bencana) agar helikopter di Jambi untuk melakukan water bombing (bom air) dialihkan dulu ke Sumsel,” ucap Yulizar.
Informasi terakhir dari Kemenhut, transfer helikopter tersebut sedang dalam persiapan bergeser ke Sumsel. Saat ini tinggal penyelesaian administrasinya. Yang ketiga disepakati, akan dilaksanakan operasi pemadaman lewat jalur darat. “Kita sudah bentuk 200 tim. Melibatkan unsur Manggala Agni, Tagana, SAR, BPBD, TNI dan lain yang terkait untuk memadamkan hotspot di Sumsel,” bebernya.
Daerah yang diutamakan untuk pemadaman adalah yang banyak hotspot-nya. Lebih fokus lagi daerah yang berada di sekitar Palembang, seperti OKI, Ogan Ilir dan Banyuasin. Terakhir, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin SH akan segera menerbitkan surat kepada seluruh bupati dan wali kota se-Sumsel agar melaksanakan penegakan hukum (yustisi) dari beberapa UU terkait larangan pembakaran lahan dan hutan.
Yakni UU Perkebunan Nomor 18 Tahun 2000, UU Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999 dan UU Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009. “Mereka yang melanggar karena membakar hutan dan lahan diharap diberikan sanksi tegas, baik pidana maupun denda,” cetus Yulizar. Gerak cepat ini menyikapi kondisi asap di Palembang kemarin yang makin parah dari sebelumnya. Pemprov Sumsel tidak ingin masalah ini mengganggu penilaian kesiapan Sumsel khususnya Palembang sebagai tuan rumah SEA Games XXVI.
Staf BNPB, S Hasan menjelaskan, “serangan” lewat darat ini untuk memaksimalkan upaya pemadaman hotspot di Sumsel. Pasalnya, sudah beberapa hari terakhir tidak terasa turun hujan di Sumsel. Selama ini, tim darat seperti Manggala Agni sudah turun ke lapangan. Tapi, dengan hasil rapat kemarin diharap bisa lebih kuat lagi karena melibatkan lebih banyak pihak/instansi terkait, termasuk masyarakat.
“Untuk TMC, hasilnya belum memuaskan karena memang kondisi awan di atas wilayah Sumsel sangat tidak memungkinkan disemai hingga turunnya hujan,” ucapnya. Meski melakukan pemadaman darat, namun TMC hujan buatan tetap berjalan, memantau kondisi awan kemudian menyemainya agar bisa turun hujan. Kata Hasan, rekomendasi rapat kemarin akan langsung disampaikannya kepada pimpinan BNPB.
“Insya Allah, untuk heli yang melakukan water bombing bisa segera ke Palembang. Kebetulan dari Kementerian Kehutanan telepon, tanyakan kondisi asap di Sumsel. Mudah-mudahan helikopter dari Jambi bisa segera ke sini,” ujarnya. Untuk dana penanggulangan kebakaran lahan dan hutan di Sumsel sendiri dalam satu atau dua hari ke depan sudah siap.
Koordinator lapangan (korlap) hujan buatan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Sunu Tikno menjelaskan, hujan buatan intinya hanya memicu awan potensial untuk kemudian turun hujan. Kontrak kerja di Sumsel dimulai 12 September hingga 11 Oktober mendatang. “Hingga sekarang, kita sudah 22 kali sorti (terbang) dan menaburkan 223.800 kg (23,8 ton) garam,”tuturnya.
Wilayah udara yang telah diterbangi dan ditebari garam yakni Palembang, OKI, Muara Enim, Muba, Banyuasin, OKUT, Ogan Ilir dan OKU. Awan banyak di arah selatan dan timur Sumsel pengaruh arah angin dari tenggara. Namun, saat ini mulai ada di arah barat daya. “Sebenarnya, hujan buatan telah menunjukkan pengaruhnya pada penurunan hotspot. Tapi memang 25-27 September tidak turun hujan. Karena itu mungkin hotspot naik tajam,” imbuh Sunu.
Informasi dari staf Manggala Agni, tim yang terbagi dalam empat daerah operasional (daops) baik di OKI, Lahat, Banyuasin, dan Bayung Lencir Muba sedang berjibaku memadamkan api di lapangan. “Seperti di OKI, banyak kebakaran yang terjadi di areal perkebunan,” katanya.
Kasi Observasi dan Informasi BMKG Bandara SMB II Palembang, Agus Santosa menjelaskan kondisi cuaca dan iklim wilayah Sumsel terkini. Menurutnya, El Nino (fenomena menghangatnya suhu permukaan laut) dan La Nina (fenomena menurunnya suhu permukaan laut) saat ini negatif dan lemah. “Karenanya, penguapan di sekitar Sumsel dan Jawa kurang sehingga awan masih miskin uap air,” bebernya.
Awan di atas wilayah udara Sumsel juga tidak banyak karena pengaruh Tropic Cyclon (Nesat) yang masih sangat kuat sehingga merubah pola angin di Sumbagsel dan menyulitkan pertumbuhan awan penghujan.
Suhu permukaan laut sekitar Sumsel menjadi dingin sehingga penguapan agak susah. “Kelembaban juga tidak mendukung pembentukan awan. Siklon tropis dan tekanan udara dari Tenggara sangat kuat mengarah ke Utara ekuator Indonesia. Sehingga sulit terbentuk awan di wilayah Sumsel,” pungkas Agus.
Palembang Dikepung Asap
Satu hari penuh, Palembang yang menjadi ibukota Provinsi Sumsel dikepung asap. Sebenarnya, asap ini sudah terasa sejak dinihari. Bau menyengat menyesakkan pernafasan bahkan masuk ke dalam rumah. Tidak seperti biasa, hingga siang bahkan sore asap tetap ada walaupun agak menipis dibanding pagi hari.
Kondisi tersebut berdampak pada pelayaran di perairan Sungai Musi. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang, Masripin Thoyib mengatakan, jarak pandang normal untuk pelayaran kapal sungai di atas 600 meter, sedangkan kapal laut di atas 1000 meter (1 km).
“Saat kabut asap, seperti yang terjadi sekarang, jarak pandang bisa di bawah 1000 meter,” ujarnya, kemarin. Menurutnya, kondisi cuaca saat ini masih sama seperti beberapa waktu lalu, belum membaik.
Oleh karena itu, hingga sekarang maklumat pelayaran yang dikeluarkan oleh Administrator Pelabuhan (Adpel) belum dicabut. “Selama cuaca belum membaik, maklumat pelayaran (dari Adpel, red) masih berlaku.”
Dalam maklumat tersebut pihak bersangkutan diimbau untuk mewaspadai cuaca di musim kemarau, terutama saat pagi hari karena diselimuti kabut asap. “Nahkoda kapal diimbau meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati saat berlayar,” ujarnya kemarin. Ketika berlayar, kata Masripin, hendaknya peralatan navigasi dan komunikasi radio dioperasikan secara optimal.
Sarana navigasi pelayaran seperti lampu sinyal hendaknya dinyalakan ketika berlayar. “Jadi antara kapal satu dengan yang lain dapat saling mengetahui posisi masing-masing,” ungkapnya. Sedangkan sarana komunikasi yakni radio dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan stasiun pandu. Ketika terjadi sesuatu maka akan cepat termonitor.
Dikatakan, hingga saat ini kabut asap belum terlalu mengganggu pelayaran kapal untuk rute Dermaga 35 Ilir-Bangka dan sebaliknya. Dalam sehari, pihaknya memberangkatkan tiga kapal. “Jadi masih normal,” tukas Masripin.
Bagaimana dengan Bandara SMB II? Kepala operasional bandara, Iskandar Hamid, mengatakan, sejauh ini penerbangan masih normal. Jarak pandang masih 2 km. Meskidemikian, tetap diimbau untuk waspada. “Tergantung pilot juga. Kalau mereka bilang cahaya landasan ditingkatkan, maka kita tingkatkan.”
Kepala UPTD Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL) Dinas Kehutanan Sumsel, Ahmad Taufik menjelaskan, berdasar data 27 September pukul 24.00 WIB, di Sumsel terdeteksi 410 hotspot. “Itu berdasar citra satelit Modis. Sementara kalau satelit NOA, ada 245 titik,” ungkapnya.
Ditegaskannya, tidak penting adanya perbedaan jumlah hotspot tersebut. Namun, dipastikan jumlah ini merupakan yang terbanyak dalam satu harinya di sepanjang September. “Seluruh daerah di Sumsel tidak ada yang bebas dari hotspot,” cetus Taufik. Indikasinya, api masih membakar bagian dalam gambut dan tidak padam habis ketika hujan buatan turun beberapa waktu lalu.
Untuk di OKI, ada dua helikopter perusahaan yang membantu proses pemadaman kebakaran dengan melakukan bom air. Sementara, Manggala Agni kewalahan karena banyak disewa perusahaan perkebunan yang areal perkebunannya terbakar. “Seharusnya, perusahaan punya Satgas penanggulangan kebakaran lahan sendiri,” imbuhnya.
Taufik merinci, dari 410 hotspot, sebanyak 50 persennya berada di OKI yakni 205 titik. Tersebar di daerah Tulung Selapan, Pampangan dan Pedamaran. Lalu di Banyuasin dengan 72 titik, mulai Talang Kelapa, Mariana dan belakang bandara SMB II. Di OKU ada 37 titik, Muba 29 titik, Muara Enim 13 titik, Mura 13 titik, Ogan Ilir 6 titik dan Palembang satu titik di kawasan Jakabaring.
Ditambahkannya, total sejak 1 September hingga kemarin, telah terdeteksi 2.000 lebih hotspot di wilayah Sumsel. “Juaranya, OKI dengan 1091 titik, Muba 356 titik, Banyuasin 345 dan peringkat keempat Muara Enim dengan 326 titik,” pungkas Taufik.
Lokasi Sulit Dijangkau
Kebakaran lahan di OKI seakan tak terpengaruh turunnya hujan buatan beberapa waktu lalu. Adanya 205 hotspot atau 50 persen dari total hotspot di Sumsel kemarin diakui Kepala Dinas Kehutanan OKI, Alibudin SSos didampingi Kabid Perlindungan Hutan, Irawan Syafril.
“Sehabis lebaran, kondisi semakin panas. Sementara hujan buatan tidak berpengaruh banyak terhadap kebakaran lahan dan hutan di OKI. Hanya beberapa titik di OKI yang diguyur hujan, sebagian besar tidak terkena hujan,” katanya.
Menurutnya, pemkab OKI terus berupaya untuk menanggulangi kebakaran lahan ini. Tim dari Manggala Agni juga terus berupaya melakukan pemadaman di wilayah yang masih ditemukan titip apinya. Pada Senin (26/9), kata Irawan, jumlah hotspot 46 titik.
Rinciannya di Kecamatan Air Sugihan 18 titik, Tulung Selapan 21, Pangkalan Lampam 7 dan sisanya tersebar di Tanjung Lubuk, Mesuji, Pampangan, Mesuji, Pedamaran, Cengal dan Kayuagung. Terpisah, Kepala Pengendalian Operasi Manggala Agni OKI, Tri mengatakan, timnya terus bekerja siang malam melakukan pemadaman.
“Saat ini kami berada di Desa Riding Pangkalan Lampam untuk memadamkan api. Di sana, dari 4.000 hektare hutan suaka ada sekitar 50 hektare yang terbakar,” ujarnya. Selain itu, kebun Bupati OKI yang ditanami tanaman kayu Kelampaian di wilayah Sepucuk juga terbakar.
“Belum tahu berapa jumlah yang terbakar, saya baru mendapat laporan dari anak buah,” cetus Tri. Ditambahkan Irawan, berdasarkan data 9.986 hektare hutan produksi terbatas (HPT) yang terbakar berlokasi di Kecamatan Pedamaran Timur, utamanya di kawasan Sepucuk.
Luasnya areal kebakaran HPT yang terbakar karena banyak gambut dengan kedalaman empat hingga 10 meter. Tim pemadam menemui kendala. “Selain akses jalan dan lokasi sulit dijangkau, juga tidak ada sumber air karena rawa-rawa kering,”tukasnya.
Ia mengatakan, penyebab kebakaran ini sebagian karena ulah masyarakat yang membakar lahan atau hutan untuk dijadikan sonor jelang bertanam padi, mencari kayu bakar serta mencari ikan dengan membakar lebung. Kegiatan itu terlihat melalui pantauan udara.
Padahal, sebelumnya telah disebar maklumat Kapolda Sumsel serta UU No 41/1999 yang ancaman pidananya maksimal lima tahun dan denda Rp5 miliar bagi siapa saja yang membakar hutan atau lahan dengan sengaja maupun tidak sengaja.
“Kita terus mengadakan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat melibatkan jajaran polres, kodim, Kehutanan dan Manggala Agni sekaligus mengimbau mereka tidak melakukan pembakaran,” pungkas Tri. (46/38/mg13/mg15)
SUMBER: Sumatera Ekspres, Kamis, 29 September 2011










Komentar: