Ikan Pari 100 Kg Tersangkut di Jaring Nelayan
10 September 2011 Leave a comment

Ikan pari sebera 100 Kg tersankut di jaring nelayan di Desa Rantaupanjang, Muba pada Rabu sore kemarin. SRIPOKU.COM/EKO ADIASAPUTRO
SEKAYU — Seekor ikan pari dengan berat sekitar 100 kilogram tersangkut jaring nelayan di perairan Sungai Musi, Dusun II Desa Rantaupanjang, Kecamatan Lawangwetan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Rabu (7/9/2011) sekitar pukul 17.30.
Mustika (35), pemilik jaring terpaksa dibantu 11 warga lainnya untuk mengevakuasi ikan tersebut dari tengah sungai ke tepian menggunakan perahu.
Hingga saat ini ikan yang diperkirakan memiliki panjang 1,5 meter ini masih ditambatkan di pinggir sungai. Mustika sang pemiliknya masih bingung mau diapakan.
Keberadaan ikan ini tentu saja menarik perhatian banyak orang. Ratusan warga yang mengetahui terus berdatangan untuk melihat ikan tersebut. Namun karena posisi ikan masih di dalam air, warga yang mau melihat harus mengangkat terlebih dahulu ke permukaan.
Mustika mengatakan, ia menjadi nelayan atau pencari ikan di perairan sungai musi sudah belasan tahun. Namun baru kali ini ia menemukan ikan pari sebesar dan seberat itu.
Awalnya, seperti biasa ia memasang jaring ikan dengan panjang sekitar 10 meter melintang di tengah arus sungai. Dan seperti biasa, kemarin Mustika juga bermaksud mengecek jaringnya.
Namun saat mengangkat jaring, ia terkejut mendapati salah satu alat penangkap ikan itu terasa sangat berat. Setelah di angkat sedikit ke permukaan, ternyata itu seekor ikan pari dengan ukuran yang sangat besar. Karena tidak mampu mengangkat sendiri, ia pun kembali ke pemukiman dan minta bantuan kepada warga lainnya.
“Waktu saya mengangkat jaring, kor rasanya berat sekali. Pas saya lihat ternyata ikan pari. Tadinya saya kira sejenis labi-labi,” ujar Mustika.
Hingga saat ini ikan pari tersebut masih menjadi tontonan warga. Bahkan Mustika, mengaku sudah ada orang yang mau membayar Rp 600 ribu untuk memiliki ikan tersebut namun tidak diberikan.
“Saya juga masih bingung mau diapakan ikan ini. Sementara biarlah saya pelihara. Saya tidak mau ada kejadian aneh terhadap saya lantaran memakan atau menjual ikan ini. Siapa tahu nanti malam ada mimpi, dan kalau dia minta dikembalikan ke air akan saya kembalikan,” katanya.
Penulis: Eko Adiasaputro
Editor: Soegeng Haryadi
Sriwijaya Post – Kamis, 8 September 2011 12:27 WIB
![]()
KEHEBOHAN warga Dusun II Rantaupanjang, Kecamatan Lawangwetan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Rabu (7/9) belum berakhir. Kemarin, Jumat (9/9), mereka kedatangan tamu dari Balai Riset Perikanan Perairan Umum dari Banyuasin. Lima peneliti itu dikomandoi Dr Husnah Samhudi sebagai doktor bidang lingkungan perairan didampingi Dr Arif Wibowo. Mereka tertarik untuk meneliti ikan pari dengan panjang sekitar 1,5 meter dan berat lebih dari 100 kilogram yang ditemukan Mustika (35), warga setempat, Rabu lalu.
Kedatangan para peneliti ini menarik perhatian banyak orang. Bahkan ramainya penduduk setempat yang menyaksikan dua kali lipat dibanding saat pertama kali ikan itu ditemukan.
Setelah menemui pemilik ikan, Husnah bersama timnya langsung mendatangi lokasi atau tempat ditemukannya ikan tersebut untuk mengetahui berapa tingkat kedalamannya. Dari sana, tim langsung negosiasi dengan Mustika dan berhasil meminta ikan tersebut dengan kompensasi Rp 1 juta.
Menurut Husnah, pihaknya akan membawa ikan pari tersebut ke balai riset yang terletak di Jl Beringin No 308 Mariana, Banyuasin. Di sana pihaknya akan melakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui jenis, habitat, dan hal-hal lainnya.
“Nanti kita akan mengambil DNA untuk mengetahui jenis apa ikan ini. Tapi sementara dengan melihat garis bintik hitam di sekeliling bagian bawah perutnya kami menduga ikan ini himantura chaopraya betina. Ikan pari diduga naik ke permukaan karena ingin kawin,”katanya.
Biasanya Pari Jantan
Dikatakan, pihaknya tertarik untuk meneliti ikan pari yang ditemukan warga Rantaupanjang ini lantaran baru kali ini terjadi. Selama ini pihaknya kerap menemukan pari pejantan, namun selalu di perairan 35 Ilir, jarang di tempat lain.
“Baru kali ini saya dengar ditemukan pari dalam bentuk besar jauh dari muara atau Ampera. Ini yang membuat kami tertarik melakukan penelitian. Kami ingin tahu banyak tentang ikan ini,”ujar dia.
Ditambahkan Arif sebagai Fresh Water Biodiversity, pihaknya akan membedah ikan pari tersebut dan terpaksa membuat ia mati untuk melengkapi analisis penelitian yang dilakukan. Terlebih dahulu pihaknya akan melakukan identifikasi spesies, baik melalui metode DNA maupun morfologi.
Langkah berikutnya adalah penyebaran zeogeografi untuk mengetahui di mana kelompok tinggalnya. Kemudian ekologinya, baik terkait lingkungan ikan tersebut, maupun yang terkait dengan makanan, pertumbuhan, termasuk berat badannya.
“Dalam setahun ini kita sudah menemukan tiga pari, yang pertama awal Juni, dan kedua 17 Agustus lalu. Tapi ini penemuan terbesar setelah temuan kita tahun 2003 lalu,”kata Arif seraya mengatakan Pari ini diperkirakan ikan air tawar yang hidup di dasar sungai.
Jika hendak kawin biasanya, ikan pari mencari tempat yang paling dalam, dan pihaknya menemukan air di sekitar tempat ikan ini ditemukan memiliki kedalaman sekitar 8 meter lebih. (mg1)
Sumber: Sriwijaya Post — Sabtu, 10 September 2011 10:30 WIB

![]()








Komentar: