Hidayah.


Hidayah: Pilihan Ataukah Takdir

Sama seperti ketika kaum Muslim membahas tentang takdir, pembahasan tentang hidayah juga mempunyai masalah yang sama, yaitu ketika dicampuradukkannya antara aktivitas Allah dan aktivitas manusia. Mereka menganggap hidayah adalah suatu yang diberikan Allah secara cuma-cuma, dan bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah semata dan mengabaikan usaha manusia. Hidayah berasal dari kata hada-yahdil-hadayatan yang berarti menunjuki, hidayah sendiri berarti petunjuk. Definisi ini penting kerena banyak kkesalahan pembahasan barawal dari salahnya definisi, termasuk banyaknya kesalahpahaman tentang hidayah. Lebih dalam lagi, petunjuk adalah suatu panduan, kumpulan instruksi yang harus dilaksanakan dalam mencapai tujuan.

Sedikit sekali yang langsung yakin dan merasa jelas ketika disampaikan kepada mereka suaatu petunjuk. oleh karena itu, reaksi perasaan-perasaan adalah suatu hal yang wajar terjadi pada seseorang yang mendapatkan petunjuk, atau bisa disebut kontraindikasi petunjuk. Ketika kita mendapatkan petunjuk biasanya akan muncul banyak sekali keraguan dan kebimbangan, “AApakah saya mampu melakukannya?” “Bagaimana kalau terjadi sesuatu di tengah-tengah perjalanan?” “Bagaimana jika pemberi petunjuk ini berbohong kepada saya?” dan pertanyaan kebimbangan semisalnya yang muncul menghantui kita.

Sama seperti kita hidup, hidup kita punya tujuan, dan biasanya bila seorang muslim ditanya tentang apa yang diinginkannya pada akhir hidupnya maka ia akan menjawab ‘surga Allah’. Surga adalah kepunyaan Allah, dan Dia-lah satu-satunya yang berhak menentukan dan memberi petunjuk alamatnya kepada kita dan seperti apa cara mencapainya.

Pertanyaan adalah, sudahkah Allah memberikan petunjuk alamat masuk surga-Nya kepada kita? jawabnya tentu saja: SUDAH!!!

Hidayh Telah Turun

Al-Qur’an adalah petunjuk (Al-Huda), yang memuat alamat petunjuk-petunjuk kepada surga-Nya. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi guidance bagi hidup manusia dari awal sampai akhirnya, dari urusan yang paling kecil hingga urusan yang paling besar, mulai dari dulu sampai dengan masa kapanpun. Artinya, ketika seseorang selalu mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dalam menjalani kehidupannya maka ia pasti akan menemui surga-Nya, Allah menetapkan:

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira kepada orang-orang yang berserah diri(QS. An-Nahl: 89)

Walaupun Al-Qur’an telah diyakini kebenarannyaoleh seorang muslim, namun tetap saja sebagian besar yang membacanya tetap akan merasa kontraindikasi petunjuk seperti ragu, pusing dan sebagainya. Banyak yang akhirnya terjebak menjadikan Al-Qur’an justru sebagai tujuan, bukan sebagai petunjuk. Misalnya, sekelompok kaum muslim seringkali lebih mementingkan dan mengagung-agungkan hafalan Al-Qur’an dan cara membaca serta bagusnya suara pembacaan Al-Qur’an saja, lalu berhenti sampai di sana. Mereka lupa bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, membacanya adalah sunnah, sedangkan mengamalkannya adalah kewajiban. Namun, yang sekarang difokuskan justru bukan pada pengamalannya. Maka wajar kalau umumnya kaum muslim tidak pernah menncapai tujuan hidupnya karena petunjuk yang diberikan Allah hanya dijadikan sebagai hafalan dan bacaan tanpa adanya pengamalan.

Atas dasar itu pula, kita bisa mengatakan bahwa hidayah Allah sebenarnya telah turun ke tengah-tengah manusia, yaitu dalam bentuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga tidak relevan apabila seorang muslim mengatakan “Saya belum mendapatkan hidayah” mungkin yang lebih tepat, adalah “Saya belum meraih hidayah

Hidayah Bergantung Situasi

Sebagai sebuah contoh apabila kita akan pergi kesuatu tempat dimana kita sama sekali belum mengetahuinya, ada beberapa cara agar kita bisa sampai ke tempat tujuan tanpa harus dijemput dan tepat waktu.

Pertama, kita harus memiliki peta yang dapat menunjukkan letak lokasi yang tujuan yang dimaksud.

Kedua, kita telpon dan meminta pejelasan dari shahibul hajat secara langsung.

Ketiga, kita harus bertanya kepada warga setempat, kita jangan bertanya kepada pegawai yang kebetulan hanya kost di situ, tidak pula kepada pedagang yang kebetulan berada di sana. Karena itu, ketepatan petunjuk bergantung oleh tepatnya kita memilih orang yang mana yang dapat memberikan informasi terbaik. Tidak ada yang memiliki pengetahuan terbaik pada suatu daerah kecuali orang daerah itu sendiri.

Sama seperti hidayah Allah, Dia mengharuskan kita untuk berkumpul dan bertanya serta mendapatkan informasi dari orang-orang yang tepat. Apabila kita ingin pergi ke Papua maka kita akan mengumpulkan informasi yang kita inginkan langsung dari orang Papua atau orang yang pernah tinggal cukup lama di sana. Apabila kita ingin mengetahui kedahsyatan kuliner di Jawa Barat maka haruslah kita bertanya kepada orang yang hobby kuliner dan tinggal di Jawa Barat. Adalah suatu hal yang salah besar apabila kita menanyakan rute jalan di Kota Bogor pada orang yang tidak tinggal di Bogor, orang buta menuntun orang buta namanya.

Nah…. apabila kita ingin mencapai surga Allah maka sepantasnyalah kita selalu bertanya dan mengambil informasi dari orang yang mengetahui secara jelas perihal surga maka itu bukan ustadz, bukan kiyai, bukan siapapun, tapi hanya Rasulullah Muhammad SAW yang mengetahuinya. Karena itulah, berkumpulnya pun harus bersama-sama orang yang mencintai Rasulullah SAW, kita pasti akan mencapai surga sebagaimana yang kita inginkan, ingat Rasulullah berpessan kepada kita:

“Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang yang shaleh dan orang yanng bergaul dengan orang jahat, seperti pergaulan dengan penjual misik (minyak kasturi) dan tukang peniup api. Adapun dengan penjual minyak kasturi, mukngkin saja dia akan memberi minyak kepadamu, atau kamu membeli minyak kepadanya. Atau paling tidak kamu akan mendapatkan harumnya. Sedangkan orang yang meniup api, boleh jadi ia akan membakar pakaianmu, atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau yang tidak enak darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa hidayah akan datang lebih mudah seandainya kita berada pada tempat yang tepat dan berkumpul dengan orang-orang yang yang tepat sehingga seseorang tidak dikatakan serius dalam mencari hidayah seandainya dia tidak pernah meninggalkan teman-teman yang mengajaknnya kepada kesesatan untuk mencari yang dapat mendukungnya dalam kebaikan. Seseorang tidak dikatakan bersungguh-sungguh dalam mencari hidayah seandainya dia tidak meninggalkan tempat yang pasti memaksanya berbuat maksiat untuk mencari tempat yang bisa membuatnya mudah berbuat kebaikan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tarmidzi. Dishahikan Asy-Syaikh Al-Albani dalam ash-Shahihah no 927)

Rasulullah bersabda:

“Kutinggalkan untuk kammu dua perkara (pusaka), takkan kamu tersesat selama-lamanya. Selama kamu masih berpegang teguh kepada keduanya, yaitu: Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul (As-Sunnah)

Kebaikan Menghapus Keburukan

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimana dan kapan saja kammu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menghapus keburukan itu, dan pergaulilah menusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tarmidzi, Ahmad Ad-Damiri, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-bazar dan Abu Nu’aim dari Abu Dzar Al-Ghiffari)

At-Tarmidi berkomentar: “Hadits ini hasan shahih.” Al-Hakim Mengatakan: “Hadits ini shahih menurut syarat Syaikhayn,” dan Adz-Dzahabi menyetujuinya.

Tiga Pesan Nabi

Rasulullah SAW berpesan dengan tiga hal:

Pertama: Ittiqillah haytsu ma kunta
Kata haytsu bisa menunjukan tempat atau waktu. Itu artinya, dimana saja dan kapan saja; dalam kondisi apa saja dan sedang apa saja; sendirian atau bersama-sama; kita diperintahkan bertaqwa kepada Allah. Adapun terkait taqwa, Ibn Rajab dalam Jami’ al-’ulum wa al-Hikam mengatakan; “Termasuk dalam taqwa yang sempurna adalah mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan syubhat; boleh juga termasuk di dalamnya setelah itu mengerjakan yang mandub (sunnah) dan meninggalkan apa-apa yang makruh, dan itu derajat taqwa yang paling tinggi.”

Secara bahasa taqwa berasal dari wiqayah (perisai). Taqwa secara bahasa artinya melindungi dari sesuatu yang ditakuti. Taqwa kepada Allah artinya melindungi diri dari sesuatu yang ditakuti berasal dari Allah berupa sanksi, siksa, adzab, dan kemurkaan Allah SWT. Semua itu akan ditimpakan jika yang wajib/fadhu tidak dikerjakan atau yang haram malah dikerjakan. Dengan demikian, seperti yang dikatakan oleh al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz, taqwa adalah melaksanakan apa yang difardhukan dan meninggalkan apa yang diharamkan. ini adalah taqwa yang mendasar. Selain itu, untuk makin membentengi diri dari adzab Allah di akhirat. Kita perlu memperbanyak raihan pahala dari Allah agar kadar timbangan amal baik di akhirat nanti lebih berat lagi.

Caranya adalah dengan melaksanakan yang sunnh dan meninggalkan yang yang makruh, karena dalam keduanya ada pahala dari Allah. Itu juga menjadi bagian dari taqwa kepada Allah, tambahan dari taqwa yang mendasar. Umar bin Abdul Aziz mengatakan; “Siapa yang diberi kebaikan setelah itu maka itu adalah tambahan kebaikan atas kebaikan.”

Untuk merealisasikan taqwa itu juga penting menghindari apa saja yang memungkinkan seseorang jatuh pada yang haram, yaitu menjauhi segala sesuatu yang syubhat. Dari penjelasan itu taqwa bisa dideskripsikan sebagai keterkaitan dengan hukum syariah, yaiut mengerjakan atau tidak mengerjakan suatu perbuatan; dan mengambil atau tidak mengambil sesuatu, menurut ketentuan hukum syariah.

Kedua, wa atbi’i as-sayi’ah al-hasanah tamhuha
Sebagai manusia, meski sudah diperintahkan bertaqwa dalam segala keadaan, kadangkala ketaqwaan seorang hamba bisa bolong, dan ia melakukan keburukan dengan meninggalkan apa yang diwajibkan atau melakukan apa yang diharamkan. Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyusulinya dengan kebaikan, yaitu melakukan yang wajib atau sunah, agar dosa keburukan itu itu terhapus. Hal itu karena kebaikan bisa menghapus keburukan. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Hud: 114)

Kata as-sayyi’ah dan al-hasanah adalah kata umum sehingga mencakup segala bentuk keburukan dan semua jenis kebaikan. Itu artinya apapun keburukan yang dilakukan seorang hamba, hendaknya dia menyengaja untuk menyusulinya dengan kebaikan. Namun, keburukan dan kebaikan itu kadarnya berbeda-beda besar kecillnya. Tentu untuk bisa menghapus keburukan yang besar tidak cukup dengan kebaikan yang kecil, tetapi harus dengan kebaikan yang kadar besar juga. Dalam hal ini para ulama mengatakan bahwa untuk menghapus dosa besar harus dengan taubat nashuha.

Di dalam ayat di atas dan beberapa riwayat lain, tidak dinyatakan bahwa kebaikan itu harus dimaksudkan untuk menjadi kaffarah keburukan yang dilakukan. Hadits di atas memerintahkan untuk menyengaja menyusuli keburukan dengan kebaikan. Artinya, kebaikan itu dimaksudkan untuk menghapus keburukan yang dilakukan sebelumnya. Kebaikan disertai niat seperti ini lebih agung untuk bisa menghapus keburukan. Sebab, niat/maksud itu menunjukan taubat dan penyesalan atas keburukan tersebut dan harapan kepada Allah agar menghapus dosa keburukan itu.

Ketiga, wa khaliq an-nas bikhuliq(in) hasan(in)
Berakhlaq baik kepada sesama adalah bagian dari taqwa. Penyebutan perkara ini secara khusus untuk menjelaskan pentingnya hal itu dan bahwa itu bukan hanya berkaitan dengan hak Allah dan diri sendiri, tetapi juga berkaitan dengan hak dan interaksi dengan sesama. Berakhlaq baik dengan sesama itu ditafsirkan mengerahkan kemurahan hati dan menjauhkan bahaya, yaitu mengerahkan kebaikan kepada sesama manusia dan menjauhkan bahaya dari mereka. Berakhlak baik itu juga ditafsirkan berlaku baik kepada sesama manusia dengan berbagai macam kebaikan meski mereka berbuat buruk kepada kita. Di antara patokan dalam hal ini adalah yang dinyatakan dalam sabda Rasul SAW:

“Siapa saja yang suka dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga maka hendaklah kematian mendatanginya, sementara ia beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan hendaklah ia mendatangkan kepada manusia apa yang ia suka didatangkan kepadanya.” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasai)

Wallahua’lam bish-shawab

SUMBER: Buletin Al Mustanir, Edisi 05/09/2011

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s