Salat Ied Khidmat.
3 September 2011 Leave a comment
Idul Fitri: Belasan ribu ummat musilm memadati Masjid Agung SMB II hingga ke jalan-jalan di sekitarnya, untuk melaksanakan shalat Ied, pada Rabu (31/8), bahkan hingga ke Jembatan Ampera

Photo: KRIS SAMIAJI/SUMEKS
PALEMBANG — Umat muslim di Provinsi Sumatera Selatan, khususnya Palembang khidmat melaksanakan shalat Idul Fitri 1432 H, 31 Agustus lalu. Menjadi tradisi, usai salat warga bermaaf-maafan dan saling bersilaturahmi.
Pantauan Sumatera Ekspres, belasan ribu umat Islam salat Ied di Masjid Agung Palembang. Sejak subuh warga dari pelbagai pelosok kota sudah berdatangan ke masjid di pusat kota, Jl Jenderal Sudirman itu. Selain berburu tempat shalat, juga supaya mendapat tempat parkir kendaraan mereka. Tepat pukul 06.00 WIB, akses jalan menuju Masjid Agung ditutup oleh pihak kepolisian dan petugas Dinas Perhubungan Kota. Sejumlah titik dijaga, seperti depan Pasar Cinde, pangkal Jembatan Ampera, Jl Merdeka dan jalan tembusan di Jl Beringin Janggut dan akses kawasan Pasar 16 Ilir.
Umat Islam yang datang terlambat, terpaksa menggelar sajadahnya di halaman Masjid Agung dan jalanan utama masjid tersebut. Bahkan, jemaah shalat Ied hingga ke atas Jembatan Ampera. Meskipun terjadi perbedaan dalam pelaksanaan Idul Fitri, dimana warga Muhammadiyah sehari lebih dulu shalat Ied, 30 Agustus, yang datang ke Masjid Agung diperkirakan mencapai 15 ribu lebih. Sama seperti tahun sebelumnya dengan saf yang dgunakan. Mereka membawa koran sebagai alas untuk shalat. Sebelum dimulai, gema takbir terus dikumandangkan oleh umat Islam yang datang.
Dalam pelaksanaannya shalat Ied dimulai pukul 07.00 WIB. Sebelumnya, Wali Kota Palembang, H Eddy Santana Putra memberikan sambutan. Dilanjutkan Gubernur Sumsel Alex Noerdin dan salat Ied dengan imam Ust Nawawi Dencik Alhafidz. Khotbah oleh Drs Kms Badaruddin Ali MAg, dosen IAIN RAden Fatah Palembang.
Wako Eddy mengatakan, Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat muslim setelah berhasil melawan hawa nafsu dan mengisinya dengan rangkaian ibadah selama sebulan penuh. Katanya, ada tiga kebahagiaan dalam melaksanakan ibadah puasa yang sifatnya wajib bagi umat muslim. Yakni, ketika waktu berbuka puasa tiba, saat merayakan hari kemenangan Idul Fitri dan melaksanakan amal ibadah.
Gubernur Alex Noerdin menegaskan, catatan sejarah bangsa Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan ketika mayoritas bangsa ini sedang menunaikan ibadah puasa. “Sejarah itu kini terulang, peringatan HUT RI ke-66 juga jatuh pada Ramadhan yang mana masyarakat disibukkan dengan intensitas ibadah,” katanya.
Dalam khotbahnya, Drs Kms Badaruddin Ali MAg mengungkapkan, dengan Ramadhan yang telah dilakukan akan melahirkan sikap disiplin, jujur, tabah, sabar dan tahan uji. “Dengan merasakan haus dan lapar selama Ramadan, kita merasakan betapa pedih dan pilunya fuqoro wal masakin yang terpaksa harus menahan lapar sepanjang hayatnya,” katanya.
Katanya, nasib kaum duafa menjadi tanggungan orang kaya dan para pejabat yang sibuk menumpuk kekayaan dengan menari-nari di atas penderitaan orang miskin. “Mari kita bersama para aghniya memperhatikan nasib mereka (kaum duafa, red). Setinggi apa pun status kita saat ini, boleh jadi besok kita sudah menjadi mayit tak berdaya. Mari kita sisihkan waktu, tenaga dan sebagian harta kita yang sekaligus tabungan akhirat kita nanti.”
Napi Korupsi Dapat Remisi
Shalat Ied juga khidmat di Lembaga Pemasyarakatan (LP) klas 1 Merah Mata Palembang. Beberapa terpidana kasus korupsi menunaikan shalat Ied untuk pertama kali di LP baru tersebut.
Helmi Shahab, mengisi saf pertama bersama terpidana teroris. Terpidana kasus korupsi dana program nonregular mahasiswa dan sertifikasi tahun akademik 2002-2004 Politeknik Sriwijaya (Polsri) itu, tampak paling bersemangat mengumandangkan takbir. Dalam saf pertama, ada juga Barlian, terpidana kasus korupsi pembangunan beronjong/perkuatan tebing di Musi Rawas.
Meski para narapidana (napi) menjalankan shalat Ied pada Rabu (31/8) berdasarkan versi pemerintah, namun beberapa di antaranya telah Lebaran pada Selasa (30/8). Yaitu enam terpidana teroris, Agustiawarman, Abdurrahman Taib, Kiagus Muhammad Toni, Heri Purwanto, Ali Masyudi dan Ani Sugandhi. Mereka berlebaran Selasa, karena mengikuti Arab Saudi. Terpidana teroris yang rata-rata mengisi barisan saf terdepan ini, tidak masalah meski shalat dilaksanakan pada Rabu. “Alhamdulillah, lancar puasanya,” ujar Taib yang menjalani Lebaran ketiganya dalam penjara.
Taib yang mengenakan jubah putih dan bersorban ini mengungkapkan, selama Ramad-an ia telah khatam Al-Qur’an 30 juz. Meski semua napi teroris hanya diperkenankan menunaikan shalat tarawih di ruang khusus di blok D, tidak mengurangi keberkahan Ramadhan. “Keluarga sudah pernah menjenguk selama puasa, harapan ke depan agar diri lebih baik lagi,” terang Taib yang santer disebut sebagai amir (pimpinan) dalam kelompok teroris asal Palembang ini.
Sementara, Agustiawarman merasa betah di LP Merah Mata di Jl Takwa Merah Mata Kelurahan Kalidoni, setelah dipindah dari Pakjo. “Enak di sini, di mana-mana hatiku senang,’’ ujar Agustiawarman yang divonis 12 tahun bersama Kiagus M Toni dan Heri Purwanto. Ia juga mengkritik pemerintah yaitu Menteri Agama yang menetapkan Idulfitri berdasarkan suara terbanyak, karena tidak mengindahkan hilal yang tampak pada tiga titik salah satunya di Cakung.
Pelaksanaan shalat Ied di LP Merah Mata adalah untuk yang pertama kali sejak para napi dipindahkan ke sana pada Mei 2011 lalu. Kepala LP Merah Mata Ilham Djaya SH MPd mengatakan, pihaknya memberikan kelonggaran pada keluarga napi yang ingin menjenguk selama Lebaran. “Dalam tujuh hari sejak tanggal 31 Agustus-6 September, kami memberikan kelonggaran waktu kunjungan keluarga hingga pukul 17.00 WIB, karena kebanyakan pembesuk dari luar Palembang,” ungkap Ilham.
LP Merah Mata adalah LP penyanggah di Sumsel. Sekitar 60 persen para napi berasal dari daerah kabupaten atau kota di Sumsel, di luar Palembang. Pihak LP telah menyediakan satu tenda khusus untuk para keluarga napi yang membesuk pada Idul Fitri ini.
Menurut Ilham, enam napi korupsi dan enam napi terorisme di LP Merah Mata, semuanya mendapat remisi dari 1-3 bulan. Kepala Pengamanan LP (KPLP) Merah Mata, Asep Sutandar Bc Ip SSos MSi mengungkap, dari total penghuni LP Merah Mata adalah 890 orang, sebanyak 669 napi mendapatkan remisi. Dua di antaranya langsung bebas tepat pada Idul Fitri. Dua napi yang langsung bebas ialah Herwani (29), napi kasus penganiayaan berat yang divonis lima tahun, dan Suryono (26), napi kasus narkotika yang divonis 2,5 tahun. “Insya Allah nak balek ke dusun di Muaradua, ke depan nak buka usaha, dak mungkin nak buat kejahatan lagi, aku nak betemu keluarga dulu, ”ujar Herwani yang menjalani penjara selama 3,8 tahun saja.
Sedangkan sebanyak 219 napi tidak mendapat remisi. Secara rinci napi yang mendapat remisi 2 bulan sebanyak 38 orang, remisi 1 bulan 15 hari sebanyak 125 orang, remisi 1 bulan sebanyak 479 orang dan remisi 15 hari sebanyak 27 orang.
Suasana khidmat juga terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Klas II A Pakjo Palembang. Para napi anak dengan khusuk menunaikan shalat Ied.
Sementara shalat Ied di Lapangan Masjid Al Kahfi kompleks Pesantren Al Kahfi Sukarami berlangsung khidmat. Banyak jemaah yang menitikkan air mata mendengarkan khotbah yang disampaikan ustadz Saptudin. Suasana menjadi haru, sebab ustadz yang juga karyawan PT Sumex Intermedia menyampaikan materi yang sangat menyentuh.
Jemaah yang tumpek blek di lapangan bergeming hingga materi khotbah selesai disampaikan. Sementara Ketua Masjid Al Kahfi, H Subki Sarnawi menyatakan rasa syukurnya sebab jumlah jemaah dan zakat fitrah di masjid ini dari tahun ke tahun terus bertambah. Selain kini tengah melakukan renovasi masjid, pengurus masjid juga menggodok beberapa program keumatan.
Sementara itu, warga Muhammadiyah yang lebih dulu shalat Ied juga tetap khusyuk. Para jemaah memadati ruas Jl Jenderal Sudirman dan Jl Balayudha yang menjadi salah satu titik pelaksanaan. “Kita tetap memberikan yang maksimal, khususnya demi menjaga kerukunan ukhuwah islamiyah. Terlebih lebaran atau hari raya Idul Fitri merupakan puncak kemenangan dari umat Islam setelah melaksanakan ibadah puasa 1 bulan lamanya,” ujar Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Palembang, Damiri Syamsuddin di sela-sela sholat Ied yang digelar di Kompleks Sekretariat PD Muhammadiyah Kota Palembang.
Jemaah Muhammadiyah se-Sumsel melaksanakan shalat Idul Fitri di 60 titik. Khusus Palembang hanya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumsel melaksanakan di 15 titik. Di antaranya, Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), cabang Balayudha, Bukit Kecil, Lap tenis Pemkot Jl May Ruslan, cabang Plaju, Museum Balaputradewa, cabang Kebun Bunga, Sako, Kompleks OPI Jakabaring, cabang 3-4 Ulu, Sungki, Sei Baung Kamboja, Gandus, Sekojo dan Kalidoni.
Salah satu tempat pelaksanaan shalat Ied terbesar yakni di halaman Fakultas Hukum UMP dengan dipimpin imam/khatib, H Muazim Syair. Dalam khotbahnya ia mengangkat tema mengaplikasikan hasil pendidikan Ramadhan. “Ramadhan adalah mendidik manusia untuk selalu memelihara hubungan dengan Allah dan memelihara hubungan dengan sesama manusia. Ramadhan juga telah mendidik kita untuk memiliki tabiat utama seperti jujur, sabar, diisiplin serta suaka berinfak fi sabilillah,” tandasnya.
Sama halnya dengan warga Muhammadiyah, jemaah Hizhut Tahrir Indonesia (HTI) Sumsel juga telah merayakan Idul Fitri 1432 H, 30 Agustus. Mereka yang tinggal di Palembang menggelar shalat Idul Fitri di Masjid Nurl Iman, kompleks Kantor Kehutanan Jl Kol H Barlian Km 6,5, Sukarami. Shalat dimulai pukul 07.30 WIB.
Ketua HTI Sumsel, ustadz Mahmud Jamhur mengatakan, hilal yang menjadi penanda dimulainya Ramadhan dan juga 1 Syawal terlihat di wilayah Timur Tengah, Malaysia dan lainnya. “Berdasarkan rukyat global, maka 1 Syawal jatuh pada hari ini (kemarin, red),”ujarnya.
Mahmud tidak mempermasalahkan penetapan 1 Syawal oleh pemerintah pusat, dalam hal ini melalui Menag RI Suryadharma Ali, malam Senin lalu yang menyatakan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus. (46/mg44/mg41/mg15/mg23)
Sumatera Ekpres, Sabtu, 03 September 2011 01:44










Komentar: