Warga Tolak Halte Transmusi di Atas Ampera.
23 August 2011 Leave a comment
Macet: Kemacetan di atas Ampera setiap hari terjadi, terutama pagi dan sore hari. <b.SRIPOKU.COM/SUDARWAN

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Pemkot Palembang diminta meninjau ulang rencana pembangunan halte bus transmusi di atas Jembatan Ampera. Warga khawatir keberadaan halte tersebut semakin memperparah kemacetan lalulintas karena Ampera satu-satunya jembatan di tengah kota penghubung kawasan Ulu dan Ilir.
Sebelumnya, Walikota Palembang, H Eddy Santana Putra, mengatakan, Pemkot Palembang akan menambah halte transmusi di atas Ampera.
“Ini demi kelancaran masyarakat yang akan menggunakan angkutan umum transmusi, yang akan berbelanja ke Pasar 16 Ilir atau pun sebaliknya,” kata Eddy.
Menurut Eddy, halte tersebut tidak akan mengganggu kelancaran arus lalulintas karena menaikkan dan menurunkan penumpang tak butuh waktu lama.
Melalui akun Sriwijaya Post yang beranggotakan 32.726 facebooker, Selasa (23/8/2011), warga berpendapat, dalam kondisi saat ini saja lalulintas di atas Ampera macet sepanjang hari, terutama pada jam berangkat kerja di pagi hari dan sore hari jam pulang kerja.
“Tambah macet, Pak. Ampun nian, Pak. Cubo bapak ke seberang sore hari dak pakai pengawal, rasoke jalan macet,” kata Agus Irawan Sissanto.
Fadli Sumsel, mengatakan, satu mobil berhenti macetnya tidak ketulungan, apalagi mobil sebesar bus.
“Apo dak tambah macet, sekarang be la macet ?” tulis Teguh Setiawan.
Yoseph Andrian Yusuf berpendapat, keberadaan halte itu dijamin 100 persen akan jadi pemicu kemacetan di atas Ampera.
“Apakah pemkot tidak melihat bahwa setiap pagi siang sore di atas Ampera selalu macet karena padatnya arus lalulintas, dan tidak adanya kesadaran pengemudi kendaraan umum menaikkan penumpang seenaknya,” katanya.
Menurut Qoerniya August Sharma, yang perlu dibenahi adalah kondisi Jembatan Ampera yang banyak rusak, bukan lantas membangun halte bus apalagi transmusi. Tapi kalau masih nekat mau dibangun boleh-boleh saja, asal Jembatan Ampera diperlebar agar tidak macet.
“Benar-benar rancangan yang spektakuler. Untuk menambah jumlah variabel penyebab kemacetan, karena nantinya di halte tersebut bukan hanya BRT yg berhenti, tp semua bus ikutan,” ujar Exel Fanz Reza.
Fbers lainnya, Fomy Febrian W minta rencana itu dibatalkan. “Jangan mang, keramean gek Ampera tuh. Banyak yang stop di situ, mano tambah macet, pacak rubuh Ampera tuh, kecuali Ampera dilebari lagi cak yang di amerika itu,” katanya.
“Macet ui. Haha, rencano dari siapo nian itu? Pasti dak pernah lewat Ampera dio itu. Wkwk,” ujar Ferry Ahmad.
Menurut Ijoel Ismail, umumnya jembatan memiliki kapasitas lalulintas lebih kecil dari jalan biasa (yang lebarnya bisa puluhan meter), karenanya apa pun yang menyebabkan penyumbatan kelancaran lalulintas di atas jembatan adalah diharamkan.
Ide tersebut adalah “segar” tapi tidak brilian, terkesan ceroboh menjurus ke bodoh dan kekanak-kanakan, bukankah sudah ada halte di bawah Jembatan Ampera?
“Norak! gak ada di mana pun di dunia ada halte di tengah jembatan,” ujar Ijoel.
Penulis: Aang Hamdani
Editor : Aang Hamdani
Sriwijaya Post – Selasa, 23 Agustus 2011 10:25 WIB








Komentar: