Ramadhan dan Proklamasi Kemerdekaan.


Oleh: Prof Dr H Jalaluddin

INGAT Ramadhan, ingat Proklamasi. Sejarah adalah sebuah keniscayaan dalam rangkaian perjalan umat manusia. Tak terkecuali bagi bangsa Indonesia. Jamak, bila di rentang perjalanan tadi terjadi berbagai peristiwa sejarah. Kadangkala peristiwa tersebut begitu monumental dan penting, sehingga “diabadikan” sebagai sebuah peringatan sejarah.

Proklamasi Kemerdekaan merupakan peristiwa sejarah yang istimewa dan penting bagi bangsa Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945 itu sendiri bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Kini setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menginjak usia yang ke-66 tahun, kembali keduanya “diperjumpakan” oleh sejarah. Ramadhan dan Agustus kembali “berangkulan.” Bulan suci dalam Islam, bergandengan dengan bulan “keramat” bangsa Indonesia. Bedanya dengan kondisi tahun 1945, hanya beda hari. Di tahun 1945, pembacaan teks Proklamasi oleh Bung Karno, tanggal 17 Agustus 1945 jatuh pada hari Kamis. Sedangkan, tanggal 17 Agustus 2011, bertepatan dengan hari Rabu.

Peristiwa sejarah bukan rancangan manusia seutuhnya. manusia hannya berperan sebaggai pelaku sejarah. Sama sekali bukan penentu mutlak bagi terjadinya peristiwa sejarah. Ada unsur takdir di dalamnya. Ketentuan dari Sang Maha Pencipta yang menciptakan masa itu sendiri. Jalinan “benang halus” tadkir ini pula agaknya yang terlihat oleh “mata hati” para pemimpin, pelopor dan pendiri bangsa ini. Pengamatan “mata hati” ini kemudian melahirkan semacam pengakuan batin terhadap nilai-nilai Illahiyah, hingga bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa yang berdaulat.

Suara batin ini kemudian secara tersurat dituangkan dalam alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. “Atas berkat rachmat Allah Jang Maha Koeasa dan dengan didorong oleh keinginan loehoer, soepaja berkehidoepan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.” (Risalah BPUPKI, 1945: 639). Susunan redaksi sebagai ungkapan yang keluar dari kesadaran, serta ketulusan hati dari para pemimpin dan pendiri Republik Indonesia ini. Disadari secara tulus, bahwa di balik perjuangan dan perlawanan fisik anak bangsa, ada faktor non-fisik yang menjadi penentu akhir dari pencapaian kemerdekaan bangsa Indonesia, yakni Rahmat Allah Yang Maha Kuasa

Kini Republik Indonesia sudah menginjak usianya yang ke-66.Dalam perhitungan umur kronologis manusia, usia ini sudah terhitung sepuh. Rata-rata sudah di atas usia pensiun PNS. Beda dengan pendekatan sejarah perjalanan bangsa.

Barangkali tingkat usia ini tercermin dari sikap dan perilaku anak bangsa. Tingkah bocah masih sering tertampilkan. Sikap egois, arogan, pamer diri, saling berebut, tak jarang diperlihatkan secara “telanjang” dalam keseharian hidup anak bangsa. Tawuran, pamer kekayaan, hingga ketindak korup. beda dengan masyarakat bangsa di negara-negara “dewasa.” Mereka sudah berada pada jenjang lebih tinggi, yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tidak ada lagi “adu fisik,” tapi sudah “adu otak.” Masing-masing berusaha menggapai keunggulan kompetitif dan keungggulan komperatif. (*)

Sumber:
Hikmah Ramadhan
Sumatera Ekspress, Selasa, 16 Agustus 2011.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s