Ramadhan dalam Kalender Islam.


Oleh: Prof Dr H Jalaluddin

MENURUT perhitungan Tahun Lunar (Qamariyah), setahun terdiri dari 12 bulan dengan jumlah harinya 354 hari. informasi ini termaktub dalam penjelasan Al-Qur’an:

“Sesungguhnya bilangan bulan itu pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang benar.” (QS. 9: 36)

Empat bulan haram, yakni Muharram, Rajab, Dzulkaedah, dan Dzulhijjah. di keempat bulan yang dihormati ini tidak boleh mengadakan peperangan.

Adapun nama-nama bulan yang digunakan dalam Tahun Hijriyah ini ternyata memiliki latar belakang sejarah yang cukup lama. Lebih kurang 200 tahun sebelum Islam penamaan itu sudah ada. Bulan pertama, dinamakan Mu’tamar, karena ada larangan perkelahian dan peperangan. Setelah Islam, namanya diganti menjadi Muharram. Bulan kedua dinamai Shafar, asalnya bernama dihubungkan Pasar Shafariah yang berada di Yaman, yang banyak dikunjungi para pedagang Arab di zaman itu. Nama bulan ini sebelumnya adalah Najizan.

Penamaan bulan ketiga dan keempat dikaitkan dengan musim semi (Rabi’). Awal musim semi dinamakan Rabi’I (Rabi’ul Awwal), dan akhir musim adalah Rabi’II (Rabi’ul Akhir). Setelah itu tiba musim dingin (jamad = salju). Bulan kelima saat musim dingin mulai berlangsung dinamakan Jumada I (Jumadil Awwal). Lalu di akhir musim, yakni bulan keenam disebut Jumada II (Jumadil Akhir).

Bulan ketujuh dinamakan Rajab (meninggalkan), karena selama bulan ini, segala bentuk perselisihan dan perkelahian harus dihentikan. Lalu bulan kedelapan dinamakan Sya’ban, dari kata insyi’ab (bertebaran). Di sepanjang bulan itu suku-suku (kabilah) Arab bertebaran ke berbagai tempat untuk mencari nafkah. Bulan berikutnya tiba musim panas (ramad). Ketika itu tanah menjadi gersang dan rerumputan mengering. Bulan kesembilan ini dinamakan Ramadhan. Bulan yang dalam Islam ada kewajiban bagi umatnya menjalankan ibadah puasa.

Lalu bulan kesepuluh dinamakan Syawal. Dinamakan demikian, karena dalam bulan-bulan tersebut, oleh beberapa sebab biasanya unta-unta mengangkat ekornya. Oleh bangsa Arab (Jahiliyah) bulan ini dianggap tidak baik mengadakan suatu persetujuan, termasuk perkawinan. Mitos ini baru berakhir setelah Islam datang. Namun demikian, di masyarakat kita, tradisi itu walau secara tersamar masih ada yang “mempercayainya.” Dimitoskan, bahwa pernikahan yang diselenggarakan di bulan ini akan menyebabkan “sempit” rezeki. Mungkin alasan ini pula yang oleh kearifan lokal Melayu bulan ini dikenal dengan sebutan bulan Hapit. Kemudian kesebelas Dzulkaedah (qa’adu = menyingkir dari perkelahian). Bulan keduabelas dinamai Dzulhijjah, masa pelaksanaan ibadah haji.

Sejak Kolonial Belanda menguasai bumi Nusantara dan berhasil menaklukkan kesultanan-kesultanan Islam di tanah air, sistem kalender Islam ini secara berangsur diganti dengan sistem kalender Masehi. Melalui pendidikan di sekolah-sekolah pemerintah, maupun instansi pemerintah kolonial, nama-nama bulan itu ditukar menjadi: Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November dan Desember. Sistem kalender kolonial ini tetap dilestarikan hingga kini.

Beda dengan kalendar Masehi, sistem kalender Islam, nama-nama bulan dihubungkan dengan aktivitas ibadah. Dengan adanya kaitan hubungan ini, sebutan bulan-bulan Islam tetap terpelihara di kalangan masyarakat Muslim Nusantara. Di antara 12 nama bulan itu, yang paling populer adalah Ramadhan.

Hal ini disebabkan, di bulan Ramadhan, selama sebulan penuh masyarakat muslim diwajibkan menunaikan ibadah puasa. Suasana dan kondisi demikian itu dialami oleh masyarakat muslim dari berbagai kalangan, strata sosial, serta tingkatan usia. Selain itu, ibadah puasa yang berlangsung sebulan penuh ikut menanamkan ingatan yang cukup panjang terhadap Ramadhan. Tak heran, bila kemuliaan bulan Ramadhan diiringi pula oleh popularitasnya di masyarakat muslim. (*)

Sumber:
Hikmah Ramadhan
Sumatera Ekspres, Senin, 15 Agustus 2011.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s