Cegah Korupsi dengan Terapi Ramadhan.
12 August 2011 Leave a comment

Oleh: H Nofrizal Nawawi LC
Umar bin Khattab terkenal dengan ketegasannya dalam mengemban amanah sebagai amirul mukminin (pemimpin orang mukmin), khalifah rasyidin yang kedua. Dia diam-diam sering turun ke lapangan melihat keadaan rakyatnya. Suatu hari dia menerobos padang pasir ingin melihat keadaan para peternak. Dalam suatu riwayat dia ketemu seorang pengembala kambing. Saat itu Umar mencoba mengukur kejujuran sang gembala. Dibujuknya pengembala itu untuk menjual seekor kambing kepadanya. Mumpung suasana sepi, tidak ada orang yang tahu dan pemilik kambing juga tidak akan tahu kalau kambingnya kurang.
Kalaupun dihitungnya bisa dijawab bahwa seekor mati dimakan srigala. Lalu pengembala itu menjawab: “Memang itu bisa saya lakukan dan tidak akan diketahui tuan saya, tapi bagaimana dengan Allah Yang Maha Mengetahui segala perbuatan hambanya dan aku malu kepada-Nya untuk melakukan hal yang berdosa dan tidak terpuji. Satu jawaban di luar dugaan Umar dan saat itu dia pun meneteskan air mata. Seorang pengembala begitu istiqamah dengan keyakinannya bahwa Allah itu Maha Mengetahui yang zhahir dan yang tersembunyi dan tidak ada yang tidak diketahuinya.
Shiam/shaum atau puasa yang dikerjakan umat Islam di mana saja berada adalah sebagai ujian keimanan. Karena orang berimanlah yang mampu menahan hawa nafsunya tidak makan, tidak minum, dan tidak bergaul suami istri walaupun suasana sepi, tersembunyi, tidak ada yang tahu. Hal itu dilakukan karena dia meyakini bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui apa yang dilakukannya. Sehingga puasa akan menjadi perisai/pencegah dari kejahatan dan dan pelanggaran aturan Allah, sebagaimana dalam hadits riwayat An Nasa’i, Baihaqi dan Ibnu Huzaimah, yang diterima dari dari Abi Ubaidah yang artinya: “Saya dengar Rasulullah bersabda “shaum/shiam/puasa itu perisai selama yang bersangkutan tidak merusak. Lalu seorang sahabat bertanya, dengan apa rusaknya? Jawab Rasulullah SAW, dengan berbohong atau bergunjinng.”
Kejujuran dan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui segala gerak-gerik kita adalah satu nilai dan tujuan shaum/puasa yang kita kerjakan. Dengan kejujuran dan keyakinan Allah Maha Mengetahui, dapat menjaga seseorang dari berbuat curang, bohong, menipu dan juga sangat bisa mencegah tindakan korupsi yang biasanya dilakukan dengan mengira tidak ada yang mengetahui dan dengan alasan tidakada yang melihat dan bisa diatur.
Di negara kita tercinta Republik Indonesia bulan ini akan memperingati Hari Kemerdekaan Ke-66, kebetulan 17 Agustus bertepatan dengan 17 Ramadhan, tanggal yang dikenal umat Islam dengan Nuzul Qur’an atau turunnya Al-Qur’an pertama kali kepada Rasulullah SAW di Gua Hira: Lima ayat Surat Al-Alaq:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Saat sekarang ini sulit kita menghindari dari kenyataan yang menunjukan indikator krisis kejujuran yang begitu nyata. Dan kita selalu disuguhi berita korupsi yang merajalela, menggurita, berita Gayus dan Nazarudin yang lari keluar negeri dan membuka borok-borok korupsi yang perlu dibuktikan dan proses menurut hukum. Tentu seharusnya kita bertanya apa yang salah dengan cara puasa umat? Terutama yang terjerumus ke dalam dunia korupsi. Baik kelas kakap skala besar atau ukuran kecil-kecilan. Ada yang melalui proses hukum dan sangat banyak yang belum diketahui atau diproses.
oleh karena itu, kita harus memperbaiki cara melaksanakan shiam/shaum atau berpuasa, agar sesuai dengan harapan menjadi pribadi yang bertakwa, sehingga terjaga dari perbuatan nista maksiat, korupsi dan kejahatan lainnya. Kejujuran sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya kekujuran (as-sidqi) itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa menuju surga.” Kejujuran menjadi indikator utama dari akhlakul karimah untuk menuju masyarakat dan negara yang selalu mendapat ridha Allah SWT. (*)
Sumber:
Hikmah Ramadhan, Sumatera Ekspres, Jumat, 12 Agustus 2011.








Komentar: