Pendekatan Diri.
3 August 2011 Leave a comment

Oleh: Drs KH Sodikun MSi
RAMADHAN sebagai bulan yang penuh keagungan (syahrun adzim) harus dijadikan momentum strategis untuk meningkat penguatan nilai-nilai ke-taqqorub-an atau pendekatan diri kepada Allah yang Maha Dekat. Berpuasa (shaum) yang didasari nilai-nilai keimanan dan keikhlasan sudah pasti akan melahirkan energi semangat untuk selalu ber-taqqorub dengan berbagai amal keshalehan yang bernilai ganda. Sebagaimana yang dituturkan oleh Nabi muhammad SAW yang artinya:
“Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fadhu di bulan Ramadhan,” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Tergambar jelas dan lugas bahwa paradigma yang dibangun oleh puasa Ramadhan subtansinya adalah nilai ke-taqqorub-an. Artinya, selama sebulan agar para shaim (orang yang berpuasa) dapat sukses menggapai posisi atau derajat ketaqwaan, maka thoriqoh (jalan) yang harus ditempuh adalah upaya dan usaha pendekatan (ke-taqqqorub-an) dengan beraneka amal keshalehan atau memperluas jaringan atau cakupan konkret keshalehan sosial.
Saatnya yang tepat untuk menjadikan setiap amal, karya yang dilakukan sekecil apapun atas niat ke-taqqorub-an kepada Allah SWT yang Maha Dekat. Agar Allah pun selalu berada (Ma’iyyah Illahiyah) bersama kita. Kita dekat, Allah akan lebih dekat. Kita jauh, Allah akan jauh pula. Mari kita bangun wajah peradaban dengan nilai ke-taqqorub-an.
Nilai Kepedulian
Semagat kepedulian atau keperhatian kepada orang lain atau masyarakat merupakan tujuan atau sasaran penting diberlakukannya kewajiban berpuasa. Dengan kata lain, di antara visi dan misi shaum Ramadhan adalah memproduk insan-insan yang berjiwa peduli dan mencintai orang lain. Tidak hanya diri dan keluarga yang dipikirkan, dibahagiakan, dan disejahterakan, tapi ada kesadaran diri untuk berbagi kepada orang lain dari anugera Illahi yang dimiliki.
Kebijakan Rasulullah yang menekan sikap dan watak kepedulian, dapat dilihat dalam perilaku dan kepribadian beliau di bulan Ramadhan. dimana beliau “sangat dermawan (peduli) di bulan Ramadhan melebihi hari-hari di luar Ramadhan.” Sampai-sampai beliau mengatakan bahwa “sedekahyang paling afdol adalah sedekah di bulan Ramadhan.” Lebih lanjut beliau mengatakan, “Barangsiapa yang memberi berbuka kepada orang lain yang tengah berpuasa, maka dosanya diampuni.”
Luar biasa kedudukuan orang yang berpuasa yang mempunyai sikap kepedulian dan belas kasih kepada orang lain.
Sumatera Ekpres, Selasa, 2 Agustus 2011.
Nilai Kedzikiran
HAMPIR setiap saat, jam dan detik dari perilaku kehidupan orang yang berpuasa selalu mengarah menuntun kedzikiran (kepengingatan) kepada Allah SWT. Dari mulai berimsak hingga berbuka selalu dimuati energi kebersamaan dan penyatuan kembali dengan Sang Pencipta. Terasa kuat melihat dan dilihat oleh Allah. meski tiada orang yang melihat tiada mau berlaku dan berbuat yang akan menghapus pahala apalagi yang akan membatalkan puasa.
Penguat kedzikiran kepada Allah SWT yang merubah rasa lapar, dahaga dan perasaan lain menjadi kenikmatan dan kerinduan. Memang suatu kepastian bagi orang-orang yang berpuasa attas dasar keimanan, keikhlasan dan ketaqqoruban akan menggapai dua kenikmatan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Pimpinan Agung Ummat Manusia, Rasulullah SAW bahwa;
“ada dua kenikmatan bagi orang yang berpuasa, pertama adalah ketika berbuka puasa. Kedua adalah ketika bertemu dengan Khalik mereka.”
Wajarlah bila kenikmatan berbuka dan kenikmatan bersua dengan Sang Pencipta yang menyemangati, menafasi dan mewarnai ranah kalbu, akal dan rasa untuk selalu meningkatkan dan penguatan kesyahadatan, keistighfaran, permohonan dan perlindungan selama menunaikan ibadah Ramadhan. Sebagaimana yang diarahkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:
“Perbanyaklah empat perkara di dalam bulan Ramadhan. Dua perkara untuk kamu menyenangkan Tuhanmu. Dua perkara lagi untuk kamu sangat menghayatinya. Dua perkara yang kamu lakukan untuk menyenangkan Allah ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidakada Tuhan melainkan Allah dan mohon ampun kepada-Nya. Dua perkara lagi yang kamu sangat membutuhkannya ialah mohon syurga dan berlindung dari neraka.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Paradigma kedzikiran yang terkandung di samudera Ramadhan merupakan nilai atau ajaran atau konsep yang sangat asasiah, dasariah (fundamental) untuk dijadikan pijakan, landasan atau acuan didalam membangun Peradaban Manusia. Karena Peradaban yang dibangun di atas Syahadat, diarahkan untuk menggapai Syurga, jauh dari Neraka, makatidak mungkin kalau mendesain atau memformulasikan kebijakannya ada penyimpangan, penyalahgunaan atau perbuatan yang merugikan orang banyak. Sebab adanya Mafia Kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, biasanya bahkan bisa dipastikan pada saat memproduk kebijakan publik lepas dan dilepaskan ruh kedzikiran. Tidak ingat kepada Allah SWT, bahwa dia melihat dan sedang melihat permainan organisasi yang tidak insani dan tidak berbudi.
Saatnya diri ini disadarkan kembali diyakinkan bahwa di bulan Ramadhan, dari sejak pertamanya
“Sesungguhnya Allah melihat kepada orang-orang yang berpuasa. Siapa yanng dilihatnya tidak akan disiksa selamanya.” (*)
Sumatera Ekspres, Rabu, 3 Agustus 2011.








Komentar: