Sekilas Kisah Cagar Budaya di Palembang.
26 July 2011 Leave a comment
Oleh : Putra Kurusetra
PALEMBANG merupakan kota tertua di Nusantara. Sebagai kota tua, Palembang memiliki banyak bukti sejarah, baik terkait dengan kebudayaan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Palembang, Kesultanan Palembang Darussalam, maupun pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang. Namun secara perlahan bukti-bukti itu mulai hilang atau terhilangkan.
Renovasi Masjid Agung beberapa tahun lalu, ternyata telah menghabiskan kampung “Guguk Pengulon”. Kampung “Guguk Pengulon” terletak di sebelah selatan Masjid Agung merupakan pemukiman pemuka agama masa Kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam pemukiman penduduk dikelompokan berdasarkan atas keahlian, mata pencaharian, dan tempat asal penghuninya.
Awal musnahnya tinggalan arkeologi kampung itu bermula dari peristiwa kebakaran pada tahun 1997 yang menghabiskan hampir seluruh rumah kayu di lokasi tersebut. Dan tahun 2000, lahan kampung itu dibebaskan kemudian dijadikan jalan lingkar Masjid Agung. Yang nama jalannya menggunakan nama bapak Taufiq Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri, yakni Tjik Agus Kiemas.
Tapi jauh sebelumnya, di akhir tahun 1950-an, berbagai bukti-bukti arkeologi dari Kerajaan Palembang yakni di Kuto Gawang, hilang setelah dilakukan pembangunan pabrik pupuk PT Pupuk Sriwidjaja di lokasi tersebut.
Dua tahun lalu, Hotel Schwartz yang dibangun tahun 1923 dengan gaya Indis, yang kemudian menjadi Hotel Musi, direhab menjadi kantor pemerintahan Palembang. Meskipun bentuknya tetap dipertahankan, tapi sebagian bangunan dengan bahan aslinya sudah dibongkar.
Kini, Museum Tekstil Sumsel akan dijadikan sebuah hotel dengan nama Palembang Heritage Hotel. Pemerintah Sumsel menyatakan pembangunan hotel tersebut tidak akan merusak bangunan utamanya. Namun sejumlah pekerja seni dan budaya di Palembang meragukannya, mereka bertekad memantau atau mengawasi jalannya pembangunan hotel tersebut.
Masih banyak cagar budaya di Palembang yang harus dijaga. Misalnya Benteng Kuto Besak, yang merupakan keraton ketiga dari Kesultanan Palembang Darussalam.
Benteng ini didirikan oleh Kesultanan Palembang Darussalam. Pertama Keraton Beringinjanggut di tepi Sungai Tengkuruk—keraton ini juga kehilangan bukti-bukti arkelologinya akibat pengembangan Pasar 16 Ilir. Keraton kemudian dipindahkan ke Keraton Kuto Lamo, yang sekarang menjadi lokasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Terakhir keraton berada di Benteng Kuto Besak.
Kemudian Masjid Agung atau Masjid Sulton yang didirikan tahun 1738, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang merupakan Keraton Kuto Lamo, dibangun pada tahun 1823.
Selanjutnya Kantor Walikota Palembang sejak awal telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Gemeente Palembang. Bangunan yang dibangun pada tahun 1929 ini didirikan dengan gaya de stijl, yaitu memiliki bentuk dasar kotak dengan atap datar. Selain sebagai kantor pemerintahan, dibagian atas bangunan didirikan menara setinggi 35 m yang difungsikan sebagai penampungan air bersih dengan kapasitas 1200 meter kubik.
Gedung Societeit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1928 dan merupakan gedung pertemuan warga Kota Palembang keturunan Eropa. Di bagian belakang bangunan terdapat bangunan tambahan yang berfungsi sebagai bangunan pertunjukan. Balai Prajurit ini dibangun dengan gaya arsitektur Art Deco dengan ciri khasnya yaitu elemen dekoratif geometris pada dinding eksteriornya. Lekra terakhir kali melakukan kongres di gedung ini.
Beberapa rumah atau kampung yang memiliki cagar budaya antara lain kampung Al-Munawar, kampung Suro, kampung Kuto Batu, rumah Kapiten, kampung 10 Ulu, serta kampung Saudagar Kocing.
SUMBER: Beritamusi.com








Komentar: