Terjemahkan Al-Qur’an.
25 July 2011
by Iwan Lemabang

Oleh: Mustofa SAg MA
Al-Qur’an Al-Kariem belum cukup hanya sekedar dipelajari, dibaca, dan dimusabaqahkan bacaannya. Membacanya baru langkah awal, selanjutnya untuk ditadabburkan isi kandungannya (QS. 4: 81, QS. 47: 24), dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Al-Qur’an harus kita wujudkan di kehidupan rumah tangga, di kantor, di mall, dan di semua tempat dan di berbagai keadaan. Pendek kata, Al-Qur’an benar-benar teraplikasi dalam pola kehidupan seorang muslim. Bagaimana upaya kita memasyarakatkan, membumikan, menterjemahkan Al-Qur’an dalam perilaku hidup sehari-hari.
Jika kita renungkan, ada perbedaan signifikan antara Al-Qur’an pada zaman Rasulullah SAW dengan zaman modern saat ini, meskipun terdapat juga persamaannya. Perbedaan yang mencolok antara lain:
Pertama, Al-Qur’an semasa Rasulullah belum tertulis secara rapi, lengkap dan indah di dalam satu buku/mushaf. Al-Qur’an di kala itu masih berserakan dan tertulis pada tulang-tulang, dedaunan, pelepah kurma dan kulit-kulit onta dan lain-lain. Sedangkan zaman sekarang, Al-Qur’an sudah dicetak secara lengkap dalam satu mushaf/kitab tersendiri dengan berbagai bentuk variasinya. Bahkan dari segi fisik, kini Al-Qur’an telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Al-Qur’an dalam bentuk kaset, CD, digital, dan lain sebagainya.
Kedua, Al-Qur’an di zaman Rasulullah menjadi menu hafalan para sahabat. Begitu turun ayat, Rasulullah langsung menyampaikan dan mengajarkan kapada para sahabat, dan sahabat pun langsung menghafalnya. Di sisi ini, untuk mayoritas komunitas masyarakat muslimm Indonesia yang masih amat kecil persentasenya yang lumayan banyak hafalan suratnya. Mencari orang yang hafal Ju’amma saja di wilayah Sumsel sangat langka. Apalagi mencari Al-Hafidz (hafal Qur’an). Hal ini terbukti ketika beberapa ta’mir masjid mencari seorang imam masjid sebagai imam rawatib (imam tetap). Begitu sulitnya mencari jabatan imam masjid. Akibat dari masalah ini masjid, surau, langgar di Indonesia hampir rata-rata tidak adanya imam rawatib (imam tetap)
Ketiga, pada zaman Rasul dan sahabat belum adanya Al-Qur’an terjemah ke berbagai bahasa di dunia. Lain halnya dengan sekarang, Al-Qur’an terjemah ke berbagai bahasa sudah kita dapatkan. Akan tetapi di zaman Rasul dan sahabat, Al-Qur’an langsung diterjemahkan dalam bentuk perilaku nyata kehidupan sehari-hari. Implementasi Al-Qur’an terdapat dalam suasana lini kehidupan di kala itu. Aplikasi Al-Qur’an ada di berbagai tempat dan keadaan.
Dari sisi ini terbalik hampir 180 derajat dengan kondisi pola kehidupan sekarang yang sangat kering dengan nuansa Al-Qur’an. Hampir-hampir setiap celah kehidupan, nyaris tsak tersentuh nilai-nilai Al-Qur’an. Sehingga sering muncul pertanyaan Aina Qur’anunaa?…. fi haalina au fikitaabina? Di manakah sebenarnya Al-Qur’an kita? Ada secara nyata di tingkah laku kita, atau (baru) tertulis di (lembaran) kitab….? Mari kita sama-sama mengintrospeksi diri, sudahkah perilaku kita merupakan bagian dari terjemahan Al-Qur’an yang setiap saat kita baca?
Dikutip dari berbagai sumber.
Wallahu a’lam bis-shaab
Hikmah Ramadhan
Sumatera Ekspres, 2008
Like this:
Be the first to like this post.
Komentar: