Memburu “Bonus” Ramadhan.


Oleh: Mustofa SAg MA

Siapa yang tak mau bonus? Hampir dalam segala kerja dan aktivitas kita sehari-hari selalu ingin mendapatkan imbalan/upah lebih. Mulai dari petugas kebersihan, tukang sapu, sampai pejabat sekelas menteri. Sejak gajinya di bawah UMR, sampai anggota DPR. Yang sudah kaya, apalagi yang miskin, siapa yang tak senang jika mendapat bonus? Secara naluriah, setiap manusia apapun statusnya merasa senang jika dikasih sesuatu, khususnya yang bersifat materi. Sungguhpun kehidupannya dari segi finansial sudah melimpah.

Sebut saja setiap PNS dan karyawan BUMN akan mendapat bonus gaji ke-13. Atau akan diberi bonus dapat umrah bagi karyawan/staf yang nihil dalam kerjanya satu tahun. Mungkin sebentar lagi kita juga akan mendapat bonus THR dari instansi tempat kita mengabdikan diri diri kepada Allah. Apapun namanya: hadiah, bonus, bingkisan, atau pemberian tambahan semua orang tertarik.

Pernah penulis saksikan sebuah acara jalan santai beberapa waktu lalu yang diselenggarakan oleh salah satu paguyuban di Kota Palembang. Sejak pukul 06.00 sudah tampak tumpah ruah peserta memadati lapangan. Mulai dari anak kecil, ABG, dewasa bahkan yang telah memutih rambutnya. Tak ketinggalan pula elemen pengusaha, politikus, akademisi, ulama, umara, karyawan BUMN, sampai rakyat awan dan penarik becak. Setelah dilepas oleh pejabat setempat, jalan utama lebih kurang sepanjang 5 Km dipadati peserta jalan santai.

Apa yang memotifasi mereka ikut bergabung dalam acara di atas? Dari hasil perbincangan ringan beberapa peserta, tersebut sebagian besar tertarik dengan door prize yang luar biasa. Di antaranya sebuah motor, tiga buah kulkas dua pintu, TV, kipas angin, dan sebagainya. Hitung-hitung kalau mujur dapat, dus dapat bonus?

Secara umum orang akan lebih cepat tertarik dan termotivasi dengan hal-hal yang bersifat materi dari pada yang bersifat immateri atau abstrak. Meskipun sama-sama jelas dan nyata sama-sama dapat dirasakan. Hanya bedanya lahiriyah dan bathiniyah. Allah SWT menawarkan “bonus” di bulan Ramadhan, yang sesungguhnya jika kita berusaha meraihnya dapat kita rasakan kelezatannya secara bathiniyah di dunnia ini, lebih-lebih di akhirat kelak.

Apa saja bonus yang Allah akan berikan kepada si shaim yang menegakkan amaliyah shalihah di bulan rahmat ini? Di dalam hadits yang panjang riwayat Ibnu Huzaimah dari Salman RA, Rasulullah bersabda, yang artinya lebih kurang sebagai berikut:

“….barang siapa yang mendekatkan dirinya dengan suatu kebaikan, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardlu di bulan lain. Dan barang siapa yang menunaikan satu fardlu di dalam bulan Ramadhan, samalah dia menunaikan tujuh puluh fardlu di bulan lain…. barang siapa yang memberi makanan buka kepada orang yang puasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang yang puasa itu, tanpa sedikitpun berkurang…. meskipun hanya memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu….”

Sesungguhnya demikian banyak “bonus” yang Allah akan berikan kepada kita di bulan ini. Bahkan tak ternilai jika dibandingkan dengan nilai material. Tinggal masalahnya kembali kepada kita, akankah kita segera tertarik dan termotivasi seperti ketika ditawarkan bonus motor, kulkas, TV? Mari kita buru “bonus” Ramadhan untuk memperkokoh imaniyah dan sekaligus untuk melipatgandakan investasi akhirat. Jangan lewatkan kesempatan Ramadhan tahun ini. Ramadhan tahun depan, belum tentu masih ada sajadah panjang membentang buat kita. Wallahu a’lam bis-shawab. (*)

Hikmah Ramadhan
Sumatera Ekspres, 2008

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s