Keberkahan Sahur.
25 July 2011 Leave a comment

Oleh: Mustofa SAg MA
Keberkahan dapat diartikan mengandung berkah, atau mendatangkan berkah. Menurut para ahli bahasa Arab, berkah berasal dari kata birkah; yang berarti kolam/bak berisi air yang melimpah-limpah. Secara sederhana, berkah dapat diartikan dengan sesuatu yang dapat mendatangkan kebaikan yang banyak. Mendatangkan berkah dapat dimaknai membawa efek kebaikan dan kemaslahatan menurut ‘kacamata’ Islam, lebih-lebih kepada pelakunya.
Pemberian berkah dalam konteks tauhid sesungguhnya hanya wewenang Allah SWT. Tak ada seseorangpun yang dapat memberkahi hidup ini, kecuali atas karunia-Nya. Itulah yang paling sering kita ucapkan do’a ketika ketemu dengan mengucapkan salam: Assalamu’alaikumm warahmatullaahi wa barakaatuh, “keselamatan, rahmat dan berkah Allah semoga tetap padamu.” Jika ada seseorang yang meyakini suatu barang/benda maupun wali/ulama dapat mendatangkan berkah (memberkahi), sesungguhnya ia sudah termasuk syirik, karena meyakini selain Allah ada tandingan.
Sering menjadi kebiasaan masyarakat awam, seseorang ingin bersalaman dengan ustazd/kiayai/sekh, konon mengambil berkahnya. Bahakn bekas/sisa air minumnya pun untuk jadi rebutan, lagi-lagi mencari berkahnya. Mentawafkan kopyah ketika haji, membawa kerikil dari Mina, dengan maksud dapat berkah, dan lain sebagainya. Perilaku semacam iniwajib segera kita luruskan, karena sudah terjadi penyimpangan akidah.
Kata sahur, jika dirujuk dari QS. 51: 18 adalah nama waktu, yaitu waktu di sepertiga malam akhir. Waktu itu dalam ayat tersebut dinamakan waktu sahur. Pada waktu inilah jika keesokan harinya akan berpuasa, kita disunnahkan makan sahur (makan/minum), sekitar pukul 03.00 hingga fajar shadiq. Rasulullah berpesan dalam salah satu sabdanya kurang lebih maknanya:
“….Bersahur itu suatu keberkahan, maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air….” (HR. Ahmad dari Abi Sa’id)
Berdasarkan hadits di atas bangun untuk bersahur sangat ditekankan, meskipun hanya dengan minum seteguk air. Dari segi ini kita patuh terhadap salah satu sunnah Rasul. Jika direnungkan, sesungguhnya seberapa efek kekuatan fisik yang diperoleh bersahur dengan hanya minum seteguk air? Meskipun demikian Allah menjanjikan hal ini mendatangkan keberkatan tersendiri. Jika dilihat dari sisi lain, agaknya inti persoalan kita dianjurkan bangun, bukan untuk makan/minum sahur, tetapi terdapat sejumlah hikmah dan berbagai keberkahan lain.
Beberapa keberkahan sahur antara lain adalah, pertama setelah memasuki bulan Syawal (pasca-Ramadhan) sudah terpola untuk bangun di sepertiga malam akhir, tentunya untuk melakukan qiyamul-lail (shalat tahajjud), di keheningan malam, (QS. 51: 17, QS. 17: 79, QS. 73: 1-6). Kedua, dengan bangun sahur kita dapat tilawah Al-Qur’an dan memahami isinya, (QS. 73: 4). Ketiga, dapat dengan mudah untuk menunaikan shalat subuh berjemaah di masjid/mushala/surau di awal waktu. Keempat, dapat lebih awal mempersiapkan diri untuk mencari karunia Allah (ma’isyah) di muka bumi ini dan kelima, merupakan suatu tanda kemenangan dan kesuksesan di hari itu, karena dengan pergi ke masjid shalat subuh berjamaah berarti ia telah mengawali harinya dengan bendera iman (Birayatil-Iman). Wallahu a’lam bis-shawab (*)
Hikmah Ramadhan
Sumatera Ekspres, 2008








Komentar: