Berbagi Kasih.


Oleh: Prof Jalaluddin

Di luar bulan Ramadhan kehidupan berjalan secara rutin. Waktu malam digunakan untuk tidur. Istiahat total. Siang hari diguakan untuk beraktivitas. Mencari nafkah. Hanya satpam dan petugas jaga malam yang menukar jadwal kegiatan mereka. Itu pun karena terpaksa. Demikian pula waktu makan. Sarapan pagi, makan siang, dan makan malam sudah terpola, dan jadi kebiasaan sehari-hari bagi manusia normal.

Selama bulan Ramadhan, kehidupan mereka yang menjalankan ibadah puasa mengalami perubahan. Sama sekali beda dengan kebiasaan dan pola hidup di bulan-bulan sebelumnya. Menjelang akhir malam, harus bangun untuk makan sahur. betapa pun nikmatnya hidangan yang tersedia, tak mampu mengundang selera. Maklumlah terganggu oleh rasa ngantuk. Waktu malam tidak lagi utuhnya dimanfaatkan untuk istirahat.

Sepanjang hari, waktu siang, kebebasan untuk makan minum juga terkungkung oleh tata aturan baru. Acara sarapan terhapus. Makan siang tercoret dari jadwal. Selama sekitar 14 jam perut diterlantarkan. Dibiarkan kosong, kegaduhan bunyinya juga didiamkan. Bibir kering hanya terbasahkan ludah.Takseteguk minuman pun yang bakal membasahi tenggorokan. Semua aktivitas yang terkait dengan kebutuhan primer manusia di PHK sementara. Mulai menjelang subuh, hingga matahari menyembunyikan diri di ufuk barat.

Selama bulan Ramadhan, kaum Muslimin dibiasakan dengan pola kehidupan duafa. Dilatih dan melatih diri untuk menjadi fakir miskin secara langsung. Ternyata cukup berat. Makan dan minuman tersedia. Milik sendiri, tapi tak boleh dikonsumsi. Harus mampu menahan diri di rentang waktu larangan. Cuma 14 jam, dan hanya sebulan penuh.

Pengalaman langsung seperti itu diharapkan dapat terhayati secara mendalam. Betapa beratnya penderitaan hidup kaum duafa yang sama sekali tidak punya apa-apa. Menu empat sehat lima sempurna, baru sebatas mimpi. Berjumpa KKN (kerupuk kecap nasi) sudah dirasakan sangat istimewa. Milik mereka hanya tegakkan tubuh dan hembusan nafas. Lapar haus sudah menjadi mainan hidup. Sepanjang hari, dan berlangsung bertahun-tahun.

Dengan mengambil perbandingan serupa, ibadah puasa akan ikut menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian antarsesama. Tergerak hati untuk merangkul kaum papa. Terdorong untuk berbagi kasih. Kalau sudah demikian adanya, maka hikmah ibadah puasa jadi lebih bermakna. Terasa begitu indah. Ramadhan Karim. Ramadhan yang mulia..

Sumatera Ekspres.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s