Bahan Renungan.


http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif?w=630

Oleh: A Mustofa Bisri

Setiap datangnya bulan Ramadhan, kaum muslimmin menyambutnya dengan semangat . “Marhaban ya Ramadhan! (selamat datang Ramadhan!)” demikian antara lain, sambutan spanduk-spanduk. Seolah-olah Ramadhan memang merupakan tamu yang dinanti-nanti kedatanganya. Saya sendiri juga selalu menanti-nanti kedatangan Ramadhan, terutama karena di bulan Ramadhan-lah saya dapat merdeka mengatur sendiri jadwal kegiatan saya bersama keluarga dan santri-santri. Pada sebelas bulan yang lain, kebanyakan agenda saya “diatur” oleh orang dan kesibukan saya begitu tidak jelas. Dalam bulan Ramadhan, saya bisa agak lebih akrab dengan diri sendiri. Saya bisa lebih bebas merenung dan bertaffakur.

Dalam bulan ramadhan kali ini, kita, atau minimal saya, sudah mempunyai gambaran kasar tentang apa yang bisa kita renungkan. Di antaranya—yang paling mengusik pikiran—lagi-lagi adalah soal keberagamaan dan pemahaman kaum muslimin terhadap agamanya. Bukannkah “Man lam yahtamun lilmuslimiina falaisa minhun?” Orang yang acuh tak acuh terhadap kondisi kaum muslimin memang dia tidak termasuk mereka.

Ada fenomena aneh pada era reformasi ini yang menyangkut perilaku masyarakat umumnya dan kaum muslimin pada khususnya. Justru saat pintu kebebasan dan keterbukaan dibuka lebar-lebar, tiba-tiba saya melihat banyak pihak yang pikirannya menjadi sempit dan bahkan tertutup. Kebebasan dan keterbukaan seolah-olah dimaknai sebagai kebebasan membuat sekat-sekat dan kemerdekaannya menutup diri bagi masing-masing.

Masing-masing hanya mengagumi diri sendiri dan asyik mendengarkan suara sendiri. Masing-masing menganggap dirinya paling benar dan pihak lain pasti salah. Masing-masing merasa paling dekat dekat dengan Tuhan. Kullun bimaa ladaihim farihuun. Masing-masing bangga dengan apa yang ada pada mereka dan melecehkan apa yang aa pula pada pihak lain.

Yang lebih aneh, adanya keberanian pihak-pihak tertentu “mempersonifikasikan” diri mereka sebagai Tuhan. Mungkin karena memiliki kelebihan atau—kebanyakan—karena merasa dianggap memiliki kelebihan oleh orang-orang di sekelilingnya (mereka menganggap orang disekelilingnya yang hanya beberapa gelintir sebagai semua orang).

Yang tidak kalah aneh adalah fenomena semakin maraknya kecenderungan menggunnakan agama (Islam) untuk membenarkan apa saja, termasuk merusak. Mencari harta dan kedudukan dengan dalil berjuang bagi kemaslahatan ummat. Berkampanye untuk partai atau bisnis dengan dalil dakwah. Mengecam, mencaci dan memperkosa hak orang dengan dalil amar ma’ruf nahi munkar.

Menyukseskan pencalonan calon dengan dalil menyalamatkan akidah. Memaksakan kehendak sendiri dengan dalil menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan. Melakukan kekerasan dan pengrusakan dengan dalil jihad. Celakanya, dalil-dalil—atau tepatnya dalih-dalih—itu, sebagaimana iklan-iklan komoditas pasar lainnya, selalu mendapat peminat di negeri ini, terutama dari kalangan orang-orang awam. Indonesia memang merupakan pasar yang menggiurkan bagi pedagang apa saja.

Kualitas iklan biasanya seribu kali lebih daripada komoditas yang diiklankan. Sementara konsumen boleh dikatakan belum sebenarnya terlindungi. Karena itu, hampir tidak satu dagangan pun di negeri ini yang tidak laku. Bahkan, ada yang membeli dagangan yang paling musykil sekali pun. Misalnya, menjual sebidang taman surga dengan sekeping nyawa sendiri plus beberapa nyawa hamba Allah yang lain. Nah, jika benar pengamatan saya, jika memang kondisi di masyarakat kita sudah seperti ini, lalu sebagai kaum beragama, bagaimana sikap kita? Apakah kita akan biarkan saja atau ada upaya-upaya yang bisa kita lakukan? Kira-kira, dalam hal ini, siapa yang salah? Tidak. Ini pertanyaan orang yang suka mencari kambing hitam.

Lebih baik kita mencari sumber kesalahan dari semua itu. Apakah ini semua karena kecintaan kita yang berlebihan terhadap dunia? Apakah karena perhatian kita terlalu terbatas kepada apa saja yang bersifat daging? (Kita, misalnya, terlampau mencintai daginng kita sehingga melupakan jiwa kita. Fokus hidup pun tertuju pada kemaslahatan daging semata. Beragama pun sebatas daging agama). Apakah karena kita salah belajar atau karena berhenti belajar? Atau karena apa? Ini semua merupakan bahan renungan yang dalam bulan suci Ramadhan ini bisa kita harapkan menjadi nilai tambah ibadah kita. Bukankah selain zikir, kita kita dianjurkan juga berpikir?

Selamat berpuasa Ramadhan! (*)

KH A Mustofa Bisri, budayawan, pengasuh Pondok Pesantren Raudlotut Tholibien, Rembang, Jateng

Hikmah Ramadhan
Sumatera Ekspres 2009

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s